Modest Style

Mengatasi Miskonsepsi Tentang Muslim

,

Jo Arrem mengorek miskonsepsi dan solusi yang digunakan komunitas muslim untuk mengatasi kesalahan yang terus ada pada kelompok dan keyakinan mereka.

Label dan julukan disematkan pada produk dan pakaian – bukan pada orang atau agama (foto: sxc.hu)
Label dan julukan disematkan pada produk dan pakaian – bukan pada orang atau agama (foto: sxc.hu)

“Tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada dijuluki ‘muslim modern’,” keluh Aisha dari Kuala Lumpur. “Apa pula artinya itu? Hanya karena saya tidak berkerudung, bukan berarti saya termasuk ke dalam kelompok muslim terpisah yang berbeda dari (katakanlah) muslim lain yang ‘kuno’. Kenapa orang tidak bisa memahami muslim adalah sekelompok orang yang berbeda-beda, seperti pada semua agama lainnya?”

Miskonsepsi tentang muslim dan Islam terkadang memang menjengkelkan atau bahkan menggelikan, dan kesalahpahaman konyol tentang ajaran Islam pun telah berlangsung lama. Seorang teman pria beragama Hindu pernah bertanya pada saya apakah dia masih boleh mengucapkan ‘hai’ kepada teman sekelasnya yang baru-baru ini mulai berhijab.

Akan tetapi, dalam banyak kasus, miskonsepsi yang muncul benar-benar berbahaya. Berbagai sindiran jahat bahwa Islam secara almiah identik dengan kekerasan berperan dalam mempromosikan kekeliruan lanjutan. Hal ini membuat usaha menghadapi dan memperbaiki miskonsepsi menjadi bagian dari kehidupan muslim yang tinggal di dalam masyarakat dengan beragam agama.

Banyak orang beranggapan muslim adalah orang-orang monolitis – mereka semua harus seragam dalam berperilaku atau berpakaian, kalau tidak mereka bukanlah muslim sejati

Rasa frustrasi Aisha karena disebut ‘muslim modern’ adalah hal yang jamak. Malahan, dipanggil ‘muslim modern’ tampak sebagai pujian oleh sejumlah nonmuslim, yang kelihatannya menganggap panggilan itu ‘keren’. Di lain pihak, Fadi dari Mesir telah dijuluki ‘bukan muslim sejati’ karena sesekali dia minum alkohol. Banyak orang beranggapan muslim adalah orang-orang monolitis – mereka semua harus seragam dalam berperilaku atau berpakaian, kalau tidak mereka bukanlah muslim sejati. Hal ini pada gilirannya memicu penerapan stereotipe kepada semua muslim.

Akan tetapi, seperti halnya tidak semua umat Kristen mematuhi 10 Perintah Tuhan, dan tidak semua orang Yahudi memperingati hari Sabat, barangkali cara menjadi muslim sama banyaknya dengan jumlah orang Islam itu sendiri. Pada wawancara di tahun 2011 dengan Katie Couric dari CBS News, penulis Asra Normani menegaskan perselisihan dan interpretasi dan pemahaman agama di kalangan muslim sama banyaknya dengan perselisihan di kalangan agama lain. Muslim tidak berbeda. Memang, mengulang-ulang poin sederhana tersebut menjadi cara paling sering diambil muslim dalam menghadapi berbagai miskonsepsi. Kepada teman-temannya, Fadi menjelaskan meskipun dia tidak mengikuti ajaran Islam, dan ada kemungkinan berdosa, dia masih tetap seorang muslim. Aisha juga menegaskan bukan Islamlah yang menjadi masalah. Menurutnya, sekalipun sesama muslim kadang menghakiminya, ia yakin Islam menerima dirinya apa adanya.

Miskonsepsi umum lain tentang Islam disorot dalam wawancara CBS dengan aktor Zaib Shaikh saat mengulas popularitas sitkom yang dibintanginya, Little Mosque on the Prairie. Dia mengatakan banyak orang beranggapan ‘Allah’ adalah konsep yang sangat berbeda dari ‘Allah’-nya orang Kristen atau Yahudi. Padahal “Allah” merupakan bahasa Arab untuk Tuhan. Miskonsepsi atas Islam berperan dalam menjadikan Islam terlihat asing dari agama lain. “Saya rasa hal itu bisa dimengerti,” ujar Azzah, mahasiswa yang tinggal di New York. “Saya biasanya berhasil menjelaskan orang Yahudi menggunakan kata ‘Elohim’ untuk Tuhan, yang terdengar sangat mirip dengan Allah. Cara ini memperkuat kedekatan dan kesamaan asal dari agama-agama Abrahamik.”

Saya sendiri berusaha untuk bersikap sangat sopan dan ramah di tempat umum dan di antara orang asing. Itulah cara terbaik untuk melawan stereotipe tersebut

Agaknya, miskonsepsi paling umum tentang muslim adalah mereka adalah pelaku kekerasan, atau Islam agama yang mengajarkan kekerasan. Miskonsepsi itu dianggap tidak dapat diubah oleh mayoritas muslim, yang sudah lelah bertahun-tahun membela Islam dari tuduhan yang dimulai pascaserangan 11 September 2001. “Sebenarnya, saya sadar tidak ada gunanya berdebat atau menjelaskan hal ini kepada mereka yang betul-betul meyakini Islam adalah agama kekerasan, atau kekerasan dan terorisme merupakan bagian integral dari cara kami (muslim) berpikir dan menjalani hidup,” ungkap Layla, community worker di London. “Saya sendiri berusaha untuk bersikap sangat sopan dan ramah di tempat umum dan di antara orang asing. Itulah cara terbaik untuk melawan stereotipe tersebut.”

Menyanggah stereotipe atau mengoreksi miskonsepsi memang lebih baik dilakukan dengan contoh, atau dengan menunjukkan kesalahan dari gagasan tersebut. Axis of Evil Comedy Tour, yang didirikan oleh empat stand-up comedian asal Iran, Mesir dan Palestina menyusul serangan 11 September, mengambil isu yang sangat serius ini dan menggunakan humor untuk mengusir berbagai stereotipe dan miskonsepsi tentang muslim dan bangsa Arab. Melalui ‘diplomasi stand-up’, mereka menjangkau penonton di seluruh dunia serta meminta orang untuk tidak menghakimi muslim dan orang Arab. Tur komedi Axis of Evil menuai kesuksesan fenomenal dan dipuji banyak tokoh penting, termasuk Raja Hussein dari Yordania. Komedian muslim lain pun menikmati kesuksesan yang sama, menggunakan komedi ringan untuk menanggulangi berbagai stereotipe tentang muslim dan Islam.

Semakin banyak komunitas muslim beralih ke media untuk mengambil peran utama dalam mematikan stereotipe dan miskonsepsi tentang muslim dan Islam. Dalam beberapa tahun terakhir telah diproduksi sejumlah film hebat yang mengangkat isu sulit seputar stereotipe muslim sebagai teroris – khususnya film My Name is Khan (India) dan Khuda Ke Liye (Pakistan).

Selain itu, berbagai komunitas secara spesifik telah meminta media untuk bekerja sama memerangi derasnya miskonsepsi dan stereotipe tentang muslim dan Islam, misalnya inisiatif yang baru-baru ini diambil Filipina lewat National Commission on Muslim Filipinos. Di Amerika Serikat, penggambaran positif tentang muslim di media diganjar penghargaan. Muslim Public Affairs Council, organisasi Amerika yang mendukung usaha-usaha penerimaan terhadap Islam dan muslim, menggelar penghargaan tahunan untuk media yang menampilkan potret-potret positif tentang muslim. Program televisi seperti Grey’s Anatomy serta film semacam Syriana pun menerima penghormatan. Diharapkan, pengakuan ini berperan sebagai pendorong bagi lebih banyak perusahaan media, penulis, aktor, produser, dan sutradara untuk menampilkan muslim sebagaimana mereka menggambarkan kelompok lain. Kadang-kadang, menjadi biasa-biasa saja adalah hal yang cukup baik.

Leave a Reply
<Modest Style