Mengatakan “tidak” pada ikut campur pengasuhan anak

,

Meski ibu baru membutuhkan bantuan, membuat keputusan adalah keahlian yang layak dipelajari. Oleh Ameera Al Hakawati.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Menjadi seorang ibu kemungkinan besar adalah pengalaman yang paling menakutkan sekaligus paling indah yang dianugerahkan hidup bagi Anda. Saat Anda masih berusaha beradaptasi dengan berbagai perubahan dalam hidup, pikiran, jiwa, dan tubuh Anda; dan saat Anda berjuang merawat bayi yang menuntut semua tenaga dan perhatian Anda setiap menitnya, bantuan bisa jadi begitu bernilai.

Lagipula, Anda hampir tidak tahu apa-apa soal bayi dan sedikit yang Anda tahu pun berasal dari berbagai buku, film, dan ingatan samar kebiasaan ibu Anda saat Anda kecil. Mau tidak mau Anda terus-menerus meragukan diri sendiri, khawatir kalau-kalau Anda melakukan sesuatu dengan salah. Maka bisa dipahami saat teman atau kerabat Anda memberitahu apa yang harus dilakukan, Anda langsung menyambar kesempatan tersebut untuk belajar – awalnya. Mestinya mereka yang memiliki tahunan pengalaman merawat bayi tahu lebih banyak daripada Anda bukan?

Memberikan air pada bayi yang baru lahir meski dilarang oleh bidan dan ahli kesehatan? Tentu, mengapa tidak? Membungkus bayi dengan kaus kaki, topi, rompi, baju terusan, dan tiga selimut meski suhu ruangan mencapai 24 derajat Celsius dan suhu yang dianjurkan adalah 16-19? Oke!

Saat Anda masih berjalan tertatih dalam hal menjadi ibu, bahkan tidak ingat apa menu sarapan Anda, apalagi nasihat-nasihat yang ada di buku bayi, tanpa sadar Anda akan mengiyakan segala yang orang katakan pada Anda. Namun hari-hari bergulir menjadi pekan: Anda sudah mengganti lebih dari 100 popok, berhasil memandikan bayi tanpa bantuan, dan mulai merasa percaya diri akan kemampuan Anda sendiri. Anda mungkin kemudian mendapat masalah dengan orang-orang terdekat saat mereka menyadari bahwa pendapat mereka tidak lagi begitu diperlukan.

Jika Anda mengalami ini, Anda tidak sendiri.

Salah satu tantangan terbesar yang dimiliki teman-teman saya dalam menjadi ibu adalah keharusan mengadapi orang-orang yang memberi mereka saran yang tidak dibutuhkan. Setiap orang dari nenek mereka hingga ayah mertua bahkan orang asing di supermarket memiliki saran tentang mengurus anak yang ingin mereka bagikan. Hal ini menjadi sangat mengganggu hingga banyak hubungan memburuk atau bahkan rusak karena kebiasan ikut campur semacam ini.

Jujur saja, saya kira teman-teman saya hanya bersikap berlebihan dan sedang terlalu sensitif. Apa yang salah dengan nasihat-nasihat baik sesekali, dari mereka yang tahu lebih banyak daripada kita tentang membesarkan anak? Memangnya kenapa kalau ibu mertua suka ikut sumbang saran ideologi kunonya sesekali? Dan memangnya kenapa kalau ibu Anda diam-diam berusaha memanjakan bayi Anda? Semuanya kan karena sayang!

Atau begitulah saya kira – hingga kritik berkelanjutan tentang cara saya sendiri tidak lagi berguna dan justru menjadi menyebalkan dan hampir tidak sopan. Hormon saya sedang berantakan. Lelah. Terlalu sensitif soal berusaha menjadi ibu terbaik yang saya bisa. Saya tidak butuh dibuat merasa kurang oleh siapapun. Saya tidak suka saat orang-orang menyimpulkan bahwa saya tidak benar dalam membesarkan anak karena pendapat saya berbeda.

Saran yang terus-menerus berdatangan memang mengganggu, tetapi yang paling menyulitkan adalah berusaha mengabaikannya tanpa menyakiti perasaan siapapun

Merasakan berbagai keputusan saya (besar maupun kecil) terus-menerus dipertanyakan dan disalahkan mulai jadi terasa melelahkan. Dan terus-menerus diberitahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang akan terjadi jika saya tidak melakukannya (Anda memanjakannya, membuatnya nempel terus, Anda akan kerepotan sendiri nantinya, jangan beri ia makan ini, nanti jadi kecanduan manis, jangan buat jadwal untuknya, ia jadi kaku nantinya, dll) itu melelahkan. Dan mengganggu.

Anda akan mendengar “Saya selalu melakukan hal ini” dan “Saya tidak pernah membutuhkan itu” begitu seringnya hingga Anda mungkin tergoda menjahitkan kata-kata tersebut ke boneka voodoo dan menancapkan jarum kerudung Anda.

Hal yang paling sulit bukanlah mendengarkan semua suara yang ada. Ya, saran yang terus-menerus berdatangan memang mengganggu, tetapi yang palig menyulitkan adalah berusaha mengabaikannya, atau menolaknya tanpa menyakiti perasaan siapapun. Ledakan emosi terkadang terjadi – dan akan terjadi – terutama jika kritik datang persis di saat Anda merasa rapuh.

Namun jika Anda bereaksi terlalu keras, Anda mungkin akan menyakiti seseorang yang benar-benar merasa sedang membantu Anda. Hal terakhir yang Anda inginkan adalah ibu/nenek/ibu mertua/tante Anda menyangka bahwa Anda tidak menghargai mereka, mempercayai mereka, atau menginginkan mereka memiliki perang penting dalam hidup anak Anda.

Setelah berbicara dengan beberapa teman tentang cara mereka menghadapi kerabat yang suka ikut campur, saya menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menangani masalah ini tanpa membuat siapapun sedih adalah dengan:

1) Pura-pura tidak dengar;
2) Mengiyakan kemudian melakukan sesuai keinginan saya tanpa sepengetahuan mereka;
3) Mengatakan bahwa saya memahami maksud mereka dan akan mempertimbangkannya (dan kemudian dilanjutkan dengan nomor 2); atau
4) Menjelaskan bahwa saya ingin mencoba hal yang berbeda dan berharap mereka menerimanya.

Meski sulit, jika Anda tidak belajar cara menerima saja berbagai komentar dengan tanpa benar-benar memedulikannya, atau setidaknya, menyampaikan rencana dan keyakinan Anda sendiri dengan cara yang tenang dan tidak menentang, bisa jadi Anda justru terlalu menjauhkan orang-orang dan akhirnya benar-benar harus membesarkan anak sendirian.

Jadi lain kali ibu Anda memutuskan untuk menggunting kaki baju terusan di si kecil karena menurutnya pakaian yang Anda pilihkan terlalu kecil, tarik napas dalam dan ingatkan diri Anda bahwa niat ibu Anda tulus. Kemudian, saat Anda sudah tenang, katakan padanya bahwa Anda menghargai perhatiannya, namun lain kali bisakah ia bertanya dulu pada Anda sebelum melakukan perubahan dadakan pada pakaian berlabel perancang milik cucunya?

Leave a Reply
Aquila Klasik