Mengapa banyak Muslim terjerat ekstrimisme?

,

Ada beragam penyebab yang rumit di balik kebangkitan kelompok-kelompok ekstrimis, tulis Omar Shahid.

Screenshot-02
”Saya ingin bergabung dengan Negara Islam Irak dan Suriah dan membunuh bersama mereka.” Cuplikan dokumenter VICE News “The Islamic State” oleh wartawan Medyan Dairieh. (Gambar: VICE/YouTube)

Apa yang merasuki kelompok-kelompok seperti ISIS hingga dapat melakukan hal-hal yang demikian bejat? Sebagaimana ditulis oleh Mehdi Hasan di The Huffington Post, kaitan antara Islam dan “ekstrimisme Islami” atau radikalisme itu lemah.

Jadi apa yang memicunya? Penyakit kejiwaan? Masalah psikologis yang berlarut? Tumbuh kembang yang bermasalah? Politik? Kesurupan jin? Memahami akar dari ektrimisme modern bukanlah hal yang mudah.

Topik ini membutuhkan diskusi yang lebih luas daripada yang kita inginkan. Seringkali “ahli terorisme” begitu cepatnya memberi tahu kita alasan di balik ektrimisme Islami, sambil melupakan bahwa setiap kasus kemungkinan besar berbeda dengan yang pernah ada sebelumnya – meski banyak yang memiliki benang merah serupa. Namun ekstrimisme tidak bisa dengan mudah disederhanakan menjadi X atau Y; pembahasannya membutuhkan pemikiran kritis yang dalam, sekaligus mempertimbangkan politik, modernitas psikologi manusia, dan penghayatan ilmu-ilmu Islam.

Kita hidup di dunia yang begitu membingungkan dan banyak orang membutuhkan sesuatu untuk menjadi pegangan. Bergabung dengan kelompok seperti ISIS memberi beberapa kaum muda Muslim – kebanyakan bahkan tidak tahu apa-apa tentang agamanya – sumber kekuatan dan kepercayaan diri. Dalam upaya mengeluarkan diri mereka dari kegelisahan dan kekecewaan terhadap hal-hal yang mereka lihat di sekitar mereka, banyak kaum muda Muslim yang merasa tidak berdaya menjadi rapuh dan terjebak ideologi ekstremis. Ketidakberdayaan, sebagaimana halnya kekuatan, bisa bersifat merusak.

Profesor Cambridge University, Abdal-Hakim Murad, yang juga dikenal sebagai Timothy Winter, menulis di esai Islamic Spirituality: The forgotten revolution: “Apa yang menarik kaum muda Muslim ke dalam [ekstremisme] jenis ini? Dunia Islam sedang dalam masa transisi yang paling menghancurkan. Sejarah perubahan ekonomi dan ilmiah yang membutuhkan waktu lima ratus tahun di Eropa, di dunia Muslim dipaksakan terjadi dalam dua generasi. Masa transisi seperti ini…membuat manusia menjadi sangat gelisah. Mereka mencari-cari pegangan, yang akan memberi mereka identitas. Dalam kasus kita, pegangan tersebut biasanya adalah Islam.”[i]

“Kita dengan mudah membayangkan cara kerjanya,” sambung Abdal-Hakim. “Seorang pemuda Arab, bagian dari keluarga yang terlalu besar, bersaing mencari lapangan pekerjaan yang semakin sulit, tidak bisa menikah karena miskin, lalu menjadi seorang pendatang di kota yang sedang berkembang pesat, merasa seperti seorang manusia yang tersasar di tengah gurun pasir tanpa petunjuk jalan. Suatu pagi ia kebetulan membaca tulisan Sayyid Quthb yang ia peroleh di kios koran, dan merasa ‘terlahir kembali’ saat itu juga. Inilah yang ia butuhkan: kepastian langsung, kerangka yang menjelaskan keadaan di depannya, untuk memecahkan masalah dan ketegangan di dalam hidupnya, dan bahkan lebih memuaskan lagi, sebuah jalan untuk merasa unggul dan berkuasa. Ia bergabung dengan sebuah kelompok, dan dengan keinginan untuk mempertahankan kepastian yang baru didapatkannya, menerima proposisi umum yang mengatakan bahwa kelompok lain salah.”

[Not a valid template]

Memang benar berbagai badan intelijen memiliki sejarah panjang ikut campur dalam negara orang, membiakkan anarki, dan memberi pijakan bagi ekstrimisme. Namun kita harus menerima kenyataan sederhana berikut: semakin banyak umat Muslim yang beralih ke ekstrimisme, bukan karena asal-asalan mengambil ideologi ini, namun melalui cara mereka memaknai Islam. Ini, tentunya, adalah versi Islam yang disalahpahami, yang jika digabungkan dengan kegelisahan dan keruwetan pemikiran masing-masing orang, menciptakan kekacauan parah seperti yang kita lihat sekarang ini.

Meski kita bisa menyalahkan pihak Barat atas tumbuhnya ekstremisme Islami – faktor yang turut memuluskan hal ini termasuk kolonialisme abad ke-20 dan kebijakan luar negeri Amerika pasca 9/11 – kita juga tidak bisa mengabaikan bahwa Islam “Wahabi”, dengan intoleransi dan penolakannya atas pendapat berbeda yang didukung oleh Saudi, telah mengotori pikiran banyak umat Muslim di seluruh dunia. Di dunia Arab, yang lama dipimpin oleh diktator otoktratis yang memaparkan rakyatnya pada kondisi ekstrem, bangkitnya reaksi ekstrim terhadap pemerintahan ini seharusnya tidak mengejutkan. Islam sering dijadikan sebagai bentuk “teologi pembebasan”, yaitu sebuah tanggapan beberapa kalangan umat Muslim terhadap kondisi opresif di mana mereka beralih pada agama untuk melawan ketidakadilan.

Namun saling menyalahkan tidak akan menyelesaikan masalah ini. Kaum Muslim arus utama harus bekerja sama untuk menghentikan ekstrimisme di semua tempat dengan membungkam retorika radikal yang telah terlalu lama diabaikan. Kita telah gagal menyadari efek merusak dalam pembentukan individu yang terlalu agresif, marah, dan fanatik – yang kebanyakan tidak memiliki sarana intelektual untuk menanggapi ketidakadilan dan merasa kebingungan untuk menanggapi lingkungan yang mereka lihat pada selain dengan cara ultra konservatisme dan kekerasan.

Tidak mengejutkan sebenarnya betapa media sosial dibanjiri dengan teori konspirasi tentang kelompok-kelompok seperti ISIS; banyak yang menyatakan bahwa mereka adalah bagian dari operasi CIA (yang tidak ada buktinya). Bagi kebanyakan umat Muslim, berbagai tindakan ISIS begitu berlawanan dengan Islam dan segala yang umat Muslim pahami tentang agama mereka, dan bahwa tindakan ISIS tidak terasa… benar. Jadi, sebagai upaya untuk menjauhkan diri dari ekstrimisme, teori konspirasi adalah pilihan terbaik yang dikemukakan banyak orang.

Profesor Abdal-Hakim juga membuat istilah “pemadaman Salafiyah”: proses di mana semangat awal dalam aktivisme ekstremis, yang biasanya didapat pada awal usia 20-an, kehilangan gregetnya sekira tujuh hingga 10 tahun kemudian. Ia mengutip sebuah contoh yang ia temui langsung:

“Saya dulu kenal, cukup baik, dengan seorang pemimpin kelompok ‘Islami’ radikal, anggota Jemaah Islamiyah, di Universitas Assiut, Mesir. Namanya Hamdi. Ia menumbuhkan janggut tebal, secara teratur membersihkan giginya dengan siwak, dan menghabiskan waktu memberi ceramah tentang kebencian terhadap penganut Kristen Koptik, yang beberapa di antaranya benar-benar mengalami penyerangan dan pemukulan sebagai hasil dari khutbahnya. Ia memiliki ratusan pengikut.

“Hikmah cerita ini adalah bahwa sekitar lima tahun setelahnya di jalanan Kairo, saya hampir gagal mengenalinya. Janggutnya tiada. Ia mengenakan celana panjang dan baju hangat. Bahkan yang lebih mencengangkan adalah saat itu ia sedang berjalan dengan gadis Barat muda yang ternyata adalah seorang warga negara Australia, yang, sebagaimana ia jelaskan dengan malu-malu, akan dinikahinya. Saya berbincang dengannya, dan jelaslah bahwa ia bahkan tidak lagi menjalankan agamanya, tidak lagi shalat, dan bahwa ambisinya dalam hidup adalah meninggalkan Mesir, tinggal di Australia, dan menghasilkan uang. Yang luar biasanya adalah pengalamannya dalam aktivisme Islam tidak meninggalkan jejak apapun pada dirinya – sekali lagi ia adalah pemuda Mesir biasa yang serba bimbang, sama sebelum ia beralih ke ‘Islam radikal’.”

Ternyata, tren ini juga bisa saja hanya bertahan beberapa bulan. Peter Neumman, yang bekerja di pusat radikalisasi dan kekerasan politis di King’s College di London, baru-baru ini mengatakan bahwa dari ratusan ekstrimis Inggris yang pergi berperang ke Suriah, hingga seperlimanya kini ingin kembali ke kenyamanan rumah mereka.[ii]

Beberapa orang pada akhirnya sadar setelah mengalami pengalaman tertentu. Yang lainnya tidak begitu. Namun kita tidak bisa mengalahkan ekstrimisme dengan sekadar menegur dan mengatakan pada orang-orang ini bahwa apa yang mereka lakukan salah. Mengapa tidak? Karena ekstrimisme membuntuti seseorang yang sedang gelisah, yang butuh melewati proses refleksi dan pendewasaan. Umat Muslim menderita kelangkaan ulama yang stabil, yang berujung pada munculnya ulama-ulama palsu yang menyebarkan versi bias Islam mereka.

Namun mungkin hal terbaik yang bisa kita harapkan adalah memperbaiki diri sendiri – itulah satu-satunya yang kita bisa kuasai – untuk memastikan bahwa kita tidak menghidupkan sifat-sifat ekstrimisme. Kita harus berupaya memiliki rasa kedamaian, keseimbangan, dan ketenangan, agar mereka yang ada di sekeliling kita juga merasakannya.

Itu sekadar pendapat saya.

________________________________________

[i] Abdal-Hakim Murad, ‘The poverty of fanaticism’, dapat dilihat di sini
[ii] Lewis Smith, ‘Syria crisis: British jihadists becoming disillusioned with fighting rival rebels and want to come home’, The Independent, 5 Sep 2014, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik