Modest Style

Mengapa Menjadi “Hijabi Pionir” itu Penting

,

Bertambahnya jumlah Muslimah yang ingin menjadi hijabi pertama dalam bidang pekerjaan masing-masing memunculkan perdebatan. Mariam Sobh berbagi pendapat mengenai fenomena “hijabi pionir” (“token” hijabi).

Hijabi pertama di bidangnya  (Gambar: Dreamstime)
Hijabi pertama di bidangnya (Gambar: Dreamstime)

Fenomena “hijabi pionir” menjadi sorotan baru-baru ini dalam sebuah artikel yang kemudian beredar luas. Artikel tersebut menyebutkan bahwa semakin banyak perempuan Muslim yang menggunakan gagasan menjadi “hijabi pertama yang melakukan ‘sesuatu’” sebagai cara mencari perhatian untuk diri mereka dan keinginan mereka, juga mungkin untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka impikan.[i]

Menurut saya, artikel tersebut sebenarnya ingin mendorong orang-orang, terutama perempuan Muslim Amerika, untuk mengejar karir yang memang mereka inginkan. Untuk mengejarnya melalui kerja keras, dan bukan dengan tujuan untuk menunjukkan bahwa mereka dapat menjadi orang pertama yang memasuki sebuah bidang pekerjaan karena cara berpakaian mereka.

Artikel tersebut tampak secara halus mengacu pada sebuah kampanye di media sosial baru-baru ini yang diluncurkan oleh banyak perempuan Muslim, termasuk beberapa mahasiswi, yang berharap menjadi perempuan berjilbab pertama yang menjadi pembawa acara televisi di Amerika.

Para perempuan ini menceritakan mimpi mereka di Twitter, Facebook, Instagram, Buzzfeed, bahkan Youtube. Ada hal yang ingin mereka capai dan mereka tidak takut mengungkapkannya. Mereka meminta orang untuk bergabung dan menyebarkan informasi tentang fan pages mereka dan membantu mereka mencapai tujuan.

Tebakan saya, hal ini terjadi karena di masa kini, hal tersebut berharga. Semakin banyak pendukung Anda, semakin mudah pula menunjukkan pada calon atasan bahwa Anda relevan.

Apa yang dikatakan oleh penulis ada benarnya, namun kita perlu juga melihat dari sudut pandang lain, misalnya kenyataan bahwa generasi muda kita tumbuh di dunia di mana orang-orangnya sibuk mempromosikan diri.

Hal ini rasanya normal terjadi.

Saat saya seumuran mereka, hal-hal yang kita lihat sekarang tidak terjadi. Kami hanya mengandalkan cara penyampaian informasi dari mulut ke mulut dan hal tersebut tidak memiliki dampak yang besar.

Para perempuan ini mengingatkan saya dengan diri saya semasa studi S2 di jurusan jurnalisme radio dan televisi. Pada satu titik, saya menyadari bahwa tidak ada satupun perempuan Muslim berhijab di media arus utama manapun.

Hal tersebut sedikit banyak memotivasi saya.

Kepada setiap orang yang mengatakan kepada saya bahwa saya tidak akan pernah bisa tampil di layar kaca, saya menyatakan, “Saya akan tunjukkan bahwa hal tersebut dapat dilakukan! Saya akan jadi orang pertama yang melakukannya!” Salah satu alasannya adalah karena begitu banyak perempuan Muslim yang meninggalkan dunia pertelevisian. Saya adalah seorang pejuang dan saya akan memaksa masuk.

Seiring waktu, saya menyadari bahwa tidak semua hal berjalan seperti yang saya mau.

Saya memang berbakat, namun saya tidak memiliki pengalaman kerja yang diperlukan untuk membuktikan hal tersebut. Setelah bekerja selama bertahun-tahun, saya dapat dengan yakin menyatakan bahwa Anda harus memenuhi kewajiban Anda. Tentu saja hal ini dapat menyangkut orang-orang yang Anda kenal, atau keunikan Anda, namun Anda juga perlu membuktikan diri Anda dan menunjukkan segala hal yang telah Anda lakukan.

Hal lain yang ditekankan oleh penulis adalah bahwa dengan menyanjung perempuan Muslim berhijab karena menjadi yang pertama di bidangnya, kita jadi melupakan pencapaian perempuan lain yang tidak berhijab, dan yang bahkan telah mendapatkan pencapaian yang sama.

Saya memahami maksud penulis, namun menurut saya terdapat dua kategori berbeda yang tidak dapat diperbandingkan.

Saya mengatakan hal ini sebagai seorang yang telah merasakan begitu banyak kekecewaan dan cobaan dalam membangun karir. Menyakitkan rasanya bila usaha dan kerja keras Anda dikesampingkan dan kemudian melihat seseorang yang tidak berhijab, atau yang melepaskannya, menjadi bersinar. Hal ini membuktikan bahwa, meski sulit dipercaya, diskriminasi masih berlangsung.

Menurut saya, bila Anda berhijab dan berhasil memasuki sebuah bidang pekerjaan sebagai yang “pertama”, hal tersebut wajib dirayakan. Anda hadapi semua tantangan dan cobaan, Anda mengorbankan banyak hal, dan Anda berhasil.

Ini rasanya seperti melihat Barbara Walters berhasil memasuki dunia pertelevisian di saat tidak ada tempat bagi perempuan di dalamnya. Ia mengalami banyak kesulitan karenanya. Ia membukakan jalan bagi perempuan lain, termasuk perempuan yang tidak berhijab.

Perempuan berhijab mendapat lebih banyak cobaan daripada mereka yang tidak mengenakannya.

Namun saya juga memahami maksud penulis.

Mungkin kita perlu memperhalus sentimen terhadap soal “saya yang lebih dulu di sini” agar dapat lebih memusatkan pikiran untuk mengumpulkan pengalaman dan pengetahuan. Dengan begitu, Anda akan berada di tempat Anda sekarang karena kemampuan Anda dan bukan untuk memenuhi kuota keragaman.

Ironisnya, saat saya tidak berpikir untuk menjadi yang “pertama”, hal tersebut justru terjadi begitu saja kepada saya. Saat menulis artikel ini, saya jadi tersadar bahwa saya pernah mendobrak beberapa rintangan tanpa disadari.

Meski begitu, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan menyampaikan bahwa kita tidak boleh mendiskreditkan para perempuan yang sedang berusaha keras menjadi hijabi pertama dalam karir mereka.

Kita tidak mengetahui motivasi mereka dan mengapa mereka memilih untuk mendalami karir tertentu. Bagi saya, yang paling berbahaya adalah menganggap bahwa kita mengerti tujuan mereka. Teori saya, semakin banyak perempuan Muslim berhijab menjadi yang pertama bergabung dalam bidang tertentu, semakin terbiasa kita menanggapinya hingga akhirnya hal tersebut menjadi suatu yang “normal”.

________________________________________

[i] Laila Alawa, ‘“I Want to be the First Hijabi to…”: The Dangers of Becoming the Token Hijabi’, MuslimGirl.net, 7 Feb 2014

Leave a Reply
<Modest Style