Modest Style

Mengapa Kita Perlu Mickey Mouse (Versi) Muslim

,

Karakter kartun Islami bukan hanya harus memberi nilai-nilai edukasi, namun juga panutan bagi anak-anak kita, papar Afia R Fitriati.

0101-WP-Mickey-by-Afia-02-sm

Seperti layaknya kanak-kanak lainnya, anak laki-laki saya adalah penggemar berat saluran Disney Junior. Ia mulai menontonnya sejak berusia kira-kira dua tahun, dan saya cukup terkesima betapa cepat ia menyerap ekspresi dan pelajaran setiap hari yang dicontohkan Mickey dan teman-temannya.

Di usia empat tahun, dia bukan hanya belajar tentang huruf, bentuk dan angka, namun juga tentang kebiasaan-kebiasaan baik soal makanan sehat, mencuci tangan dan berbagi dengan teman dari tayangan-tayangan Disney ini.

Maka saya cukup frustasi ketika hampir tak bisa menemukan karakter kartun berkualitas bagus bagi anak-anak muslim yang dapat memberikan pengalaman edukasi serupa bagi anak-anak saya dengan perspektif Islami. Saya telah mencari di berbagai tempat, namun yang saya dapatkan adalah yang terlalu menceramahi atau yang memiliki kualitas estetika di bawah saya cari – dengan sedikit pengecualian.

Salah satu pengecualian tersebut adalah Kids of The Ummah, sebuah proyek visual buatan desainer Australia pemenang-penghargaan, Peter Gould. Aplikasi dan buku berseri keluaran Kids of Ummah menampilkan 26 karakter anak-anak muslim dari berbagai belahan dunia yang memperkenalkan anak-anak kepada huruf Arab dan beragam budaya muslim dalam sebuah gaya visual yang menarik.

Dalam sebuah wawancara dengan sang desainer, Peter mengungkapkan kepada saya bahwa kedua gadis kecilnya-lah yang menjadi inspirasi di balik kreasi karakter-karakternya, karena ia menginginkan putri-putrinya memiliki media edukasi yang menyenangkan untuk mengenal Islam.

“Sesuatu dengan kualitas Disney yang tidak menceramahi,” demikian ia menjelaskan.

Kelihatannya, rasa frustasi itu bukan milik saya seorang.

Namun kepedulian saya bukan hanya sekadar menemukan material edukasi yang menarik-secara-visual untuk anak-anak saya. Di dunia saat ini di mana Islam seringkali dikaitkan dengan kekerasan, dan menjadi seorang muslim seringkali identik dengan pengasingan, menurut saya menjadi sangat penting bahwa generasi muslim berikutnya untuk melihat karakter-karakter di media yang bisa mereka apresiasi dan menjadi panutan di keseharian mereka.

Karakter-karakter yang merayakan Idul Adha dan Idul Fitri, dan bukan hanya Halloween dan Natal. Karakter yang bisa mereka tonton bersama-sama dengan teman-temannya – baik muslim maupun non-muslim – dan membuat mereka berhubungan dengan nilai-nilai universal dari agama mereka dengan cara yang halus.

Hingga hari ini, saya masih terus-menerus mencari karakter yang saya maksud. Meskipun masih butuh waktu hingga saya melihat sebuah karakter kartun muslim yang bisa menandingi Mickey Mouse, saya yakin perubahan akan datang pada akhirnya.

Lagipula, si kembar Malaysia Upin & Ipin telah menumbuhkan antusiasme bagi anak-anak di banyak dunia, sementara karakter Pakistan Burka Avenger akan segera mendunia dan para penggemar superhero Marvel dapat menemukan panutan islami dalam The 99.

Saya percaya masih akan ada karya yang lebih baik di masa depan. Siapa tahu – mungkin saja dalam beberapa tahun ke depan, anak saya akan mempelajari makna Al Fatihah dari petualangan karakter binatang lucu yang muncul di TV, insya Allah.

Leave a Reply
<Modest Style