Mengapa aktor dalam film religi selalu berkulit putih?

,

Menggunakan aktor berkulit putih dalam film-film bertema Injil dan Qur’an bukan hanya menyalahi sejarah, namun juga menunjukkan kegagalan dalam menyampaikan sejarah penuh cobaan yang dihadapi para tokohnya, menurut Eren Cervantes-Altamirano.

Bunda Maria, Yesus, dan Yusuf digambarkan sebagai orang Korea dalam adegan kelahiran ini
Bunda Maria, Yesus, dan Yusuf digambarkan sebagai orang Korea dalam adegan kelahiran ini

Kita telah berulang kali menyaksikan hal ini – Yesus digambarkan sebagai lelaki kulit putih bermata biru, Bunda Maria sebagai perempuan berkulit terang yang mirip dengan model panggung peraga masa kini, dan Nuh seorang Kaukasia berkulit agak terbakar matahari. Pencitraan ini muncul pada karya seni, tulisan, budaya pop, dan film. Contoh terbaru fenomena Hollywood ini adalah film Noah, yang menerima beragam reaksi atas pemeran yang seluruhnya berkulit putih.

Noah mengadaptasi kisah Injil ke dalam film aksi-fiksi ilmiah. Film tersebut menggabungkan unsur kenabian Nuh, pesan dari Tuhan, sekaligus hubungannya dengan istri dan anak-anaknya. Nuh merupakan tokoh yang rumit, yang mengikuti perintah Tuhan saat Ia akan membanjiri dunia untuk menghilangkan kebusukan manusia. Meski digambarkan sebagai hamba yang taat, Nuh juga seorang tokoh meresahkan yang terobsesi dengan pesan Tuhan tanpa mempedulikan kesejahteraan keluarganya. Dan lagi, meski membawa tema kemanusiaan dan dunia, tidak satupun kelompok minoritas tampil di film ini.

Mungkin tidak semua orang menyadari hal ini. Lagi pula, kurangnya representasi kelompok minoritas seringkali tidak disadari – hingga baru-baru ini. Film The Passion of the Christ (2004), yang mendapat sambutan di banyak negara, menampilkan lebih banyak aktor Kaukasia dari Eropa dan AS. Selain itu, seluruh tokoh utamanya adalah orang Barat berkulit putih dengan ciri fisik sempurna.

Namun, sebagai satu-satunya film berlatar agama yang tidak menunjukkan usaha apapun untuk mengikutsertakan aktor dan aktris yang tidak berkulit putih, Noah mendapat ganjarannya. Alasan yang telah diberikan oleh penulis skenario tidak diterima dengan baik oleh masyarakat. Meski pembuat film menyatakan bahwa kisah yang digambarkan seharusnya dapat dinikmati oleh setiap orang meski bagaimanapun komposisi etnis pemerannya, beberapa komunitas online telah menulis kritikan atas ketiadaan kelompok minoritas dalam film[i] Kritikan ini menekankan bahwa kisah kenabian harus menampilkan beragam ras, bahwa Nuh mungkin bukan orang Kaukasia, dan bahwa hak istimewa orang kulit putih tidak berdampak apa-apa bagi kisah yang umum untuk berbagai agama di seluruh dunia.

Banyak kritik yang gagal melihat sisi lain tema keagamaan yang ada. Bagaimana dengan kita – penganut dan pelaku agama – saat mempelajari sejarah agama hanya dari orang-orang kulit putih di negara Barat? Apakah kita merasakan keterkaitan? Apakah kita dipaksa untuk merasakan keterkaitan? Sejak kecil, saya hanya mengenal Yesus dalam satu rupa: Lelaki berkulit putih, berambut pirang, dan bermata biru yang disalib. Tidak peduli bahwa ia lahir di Timur Tengah, bahwa ia mengalami kehidupan yang keras, dan bahwa ia menentang penjajahan Kekaisaran Romawi. Ia sering digambarkan dalam citra penjajah lelaki berkulit putih. Meski hal ini telah diterima secara umum, “putihnya nabi” harus dipertanyakan karena hal tersebut menunjukkan pada kita bahwa hanya orang-orang kulit putih dengan hak istimewa (dan umumnya lelaki) yang memiliki sejarah agama. Merekalah yang telah merebut dan kini memiliki sejarah agama.

Tren perebutan ini menghalangi penganut agama memaknai sendiri kisah yang disampaikan oleh kitab suci mereka, karena yang kini ada di kepala kita adalah para pemeran yang seluruhnya berkulit putih berada di tengah gurun pasir. Apakah ini representasi yang akurat? Lebih jauh lagi, membayangkan figur agama sebagai tokoh Kaukasia mengabaikan kenyataan bahwa banyak di antara mereka berasal dari kelompok minoritas dan tertindas atau terhukum. Bagaimana seorang lelaki berkulit putih dengan hak istimewa menggambarkan Nabi Isa, seorang lelaki yang dihukum karena etnisitasnya, identitasnya, dan pesannya? Mengapa seorang lelaki kulit putih menjadi pilihan terbaik untuk menggambarkan Nabi Nuh, lelaki yang diberi tanggung jawab untuk merepopulasi Bumi?

Yang menarik adalah banyak di antara kita “kaum minoritas” di seluruh dunia, menerima Yesus dengan standar orang kulit putih dalam kisah-kisah keagamaan. Kita bahkan mereproduksi penggambaran ini. Kita berpikir bahwa Nabi Isa dan Nuh berambut pirang karena kita mempercayai keyakinan penjajah bahwa kulit putih lebih baik. Sikap kita sendirilah yang telah memberi orang-orang kulit putih dengan hak istimewa jalan untuk memonopoli sejarah suci. Mereka merebutnya, mereka menciptakannya, dan mereka menjualnya. Namun kita harus bertanya, jika mereka adalah pemilik sejarah suci, bagaimana dengan kita para penganut agama yang tidak berkulit putih?


[i] Kritikan atas ketiadaan representasi kelompok minoritas dalam film Noah, dapatkan contohnya dari Indiewire di sini, Crushable di sini, dan Tinsel di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik