Modest Style

Mengaku Sebagai Muslim, Dua Kali

,

Seringkali tidak begitu mudah bagi orangtua untuk menerima perubahan anak mereka. Meaghan Seymour berbagi pengalamannya yang menginspirasi.

1102-WP-Coming-out-by-Meaghan-Photl-02

Orangtua kandung saya telah bercerai (dan telah menikah lagi dengan orangtua tiri saya) sejak lama. Ini berarti cerita ‘pengakuan’ resmi saya sebagai muslim harus terjadi dua kali.

Akibatnya, saya harus menceritakan dua kejadian itu dalam satu cerita.

Saya selalu menjadi anak yang berbeda dari yang lain. Pada saat saya mengucapkan syahadat, saya sudah dikenal karena sifat-sifat ‘antik’ saya.

Bisa dibilang bahwa saya mungkin telah menghabiskan dua dekade terakhir dalam hidup saya mempersiapkan mereka untuk mengharapkan yang tak terduga dari saya. Dan mengingat belum lama saya baru saja bepergian ke dua negara muslim dan baru saja mengambil program sarjana dalam bidang agama, berita itu mungkin tidak terlalu mengejutkan bagi mereka daripada yang seharusnya.

Tapi untuk beberapa alasan, kali ini saya merasa kurang percaya diri untuk mendekati mereka dan lebih gugup daripada yang pernah saya rasakan ketika mengakui keputusan-keputusan besar dalam hidup saya. Bagaimanapun, saya terlalu akrab dengan stereotip dan penggambaran tentang muslim di berita-berita malam, dan bersiap menghadapi yang terburuk.

Tapi inilah cerita bagaimana semuanya begitu mudah terjadi:

Kasus Orangtua Pertama

gingerbread-hijabiSaya mengirimi orangtua pertama email panjang terperinci, membeberkan alasan dan menjelaskan keputusan saya. Meskipun keluarga saya bukan anggota komunitas religius mana pun yang saya tinggalkan, saya masih ingin meyakinkan mereka bahwa saya telah membuat keputusan ini dengan pemikiran dan kontemplasi sebanyak yang seharusnya.

Reaksi mereka terhadap email saya yang menguras emosi hanyalah: “Oke!”

Tapi tindakan mereka dalam bulan-bulan berikutnya berbicara jauh lebih lantang daripada reaksi awal mereka.

Pada Natal pertama saya sebagai seorang muslim, saya disambut dengan kue jahe berbentuk seorang hijabi (sedikit pelesetan kreatif dari kue jahe biasa yang berbentuk orang-orangan). Ketika saya mulai bereksperimen dengan kerudung, mereka menghadiahi saya syal-syal cantik yang mereka temukan di pusat perbelanjaan. Mereka mengirimi saya kartu pada Idul Fitri. Mereka panik ketika mereka tanpa sengaja menggunakan sendok penggorengan yang sama untuk burger vegetarian saya dan potongan daging babi mereka.

Dan ketika saya menginap di tempat mereka, mereka menjadi polisi agama dengan menanyai saya penuh rasa curiga ketika sepertinya saya sudah lama tidak shalat. (Bagaimanapun, orangtua tetaplah orangtua!)

Kasus Orangtua yang Kedua

Di sisi lain, orangtua saya yang lain tidak berhenti mengusik saya.

Sepertinya setiap percakapan adalah kesempatan untuk memojokkan saya tentang pilihan “keliru” saya, dari apa yang saya rasakan perihal jalan hidup yang baru saya pilih dan menjadi istri keempat seseorang, sampai mengapa saya mau mendukung kekejaman seperti hukum rajam – pokoknya, semuakesalahpahaman yang khas. Tentu saja, saya juga yang pertama dipelototi untuk dimintai penjelasan ketika tajuk berita malam menampilkan kasus terbaru kejahatan pembunuhan atas nama kehormatan.

Tapi kemudian pada satu perjalanan pulang ke rumah, kami kebetulan berkeliling kota pada hari Jumat pagi. Saya meyakinkan mereka untuk berangkat ke masjid bersama-sama untuk shalat Jumat, supaya mereka bisa menyaksikannya sendiri.

Mungkin ini sedikit berisiko, mengingat saya sendiri sudah cukup banyak mendengarkan khotbah buruk dalam periode singkat saya sebagai seorang muslim (ada yang berminat mendengarkan 30 menit ceramah tentang “fitnah wanita”?)

Namun, imam di kota kecil saya yang tidak begitu beragam dan sangat non-multikultural ini mungkin meraih simpati orangtua yang satu ini dengan pembicaraan yang menarik tentang pentingnya menjadi sadar lingkungan. Setidaknya, topik ini menahan laju semua pertanyaan memprovokasi tentang pilihan pribadi saya dalam beragama.

Fiuh.

Jadi kalau dipikir-pikir, pada akhirnya kedua pasang orangtua saya berperilaku seperti mereka biasanya: hangat, memahami, dan akomodatif. Mengizinkan saya untuk menentukan diri saya sendiri dengan cara saya sendiri, bukan dalam cara yang mereka harapkan untuk saya, telah menjadi anugerah terbesar yang pernah mereka berikan kepada saya.

Memang, saya merasa sedikit egois, karena semua kekhawatiran saya tentang pengakuan ini murni berkaitan dengan bagaimana reaksi mereka akan mempengaruhi saya. Padahal, saya seharusnya lebih peduli, tidak hanya tentang bagaimana keputusan saya mungkin telah mempengaruhi mereka, tapi juga bagaimana saya bisa lebih akomodatif terhadap kebutuhan dan kepentingan mereka juga.

Sebagai contoh, ketika berjalan dengan saya melewati kota kecil kami selama periode ketika saya mengenakan kerudung, orangtua saya dihadapkan dengan banyak tatapan canggung dan komentar rasis dari orang asing. Mereka menerima pertanyaan usil tentang putri mereka yang “aneh” dan kadang-kadang mereka harus membela saya. Mereka harus ikut menjalani pantangan dan aturan-aturan baru dalam urusan makanan saya, juga harus mencocokkan apa yang mereka lihat dalam diri saya dengan apa yang mereka lihat di berita. Ada banyak pula hal yang harus mereka atasi sekalipun mereka tidak menunjukkan hal itu.

Saya pikir kepekaan ini adalah sesuatu yang penting untuk diingat ketika kita perlu mengomunikasikan perubahan hidup kita kepada orangtua, atau ketika kita sedang mendukung mualaf yang menghadapi dilema ini. Sebuah “pengakuan” yang sukses tidak bisa hanya mengandalkan penerimaan mereka terhadap kita, tapi kesediaan kita untuk mengakomodasi perasaan mereka juga.

Leave a Reply
<Modest Style