Modest Style

Menerbangkan Hijab Saya

,

Fatimah Jackson-Best bercerita tentang perjalanannya baru-baru ini yang mengemukakan beberapa masalah yang dialami perempuan Muslim berhijab saat terbang.

Gambar: PhotoXpress
Gambar: PhotoXpress

Saya ingin membuat pengakuan. Beberapa hari lalu, saya melakukan sesuatu yang sudah tidak pernah saya lakukan selama bertahun-tahun: saya terbang dengan hijab menutupi bagian depan. Sejak usia 14 tahun, untuk menghindari “ketidaknyamanan” tidak penting di bandara, yang terutama sejak 9/11 sangat umum dihadapi oleh umat Muslim dan bahkan orang-orang “bertampang Muslim”, saya selalu menaiki pesawat dengan hijab yang diikat di tengkuk.

Namun di siang hari penerbangan saya pekan lalu, saya mulai merefleksikan bagaimana saya mengenakan hijab saya selama ini. Akhir tahun lalu, saya mulai menurunkan hijab saya di bagian depan. Hal tersebut merupakan pilihan yang saya buat secara sadar untuk menekankan identitas saya sebagai Muslim. Keputusan ini tidak dibuat dengan mudah maupun dengan tujuan memperlihatkan siapa Muslimah sebenarnya; ini merupakan refleksi perjalanan spiritual saya dan keputusan yang dihasilkan dari perjalanan tersebut.

Sebagai perempuan berkulit hitam dengan nama belakang Inggris, aksen Kanada, dan nama depan yang dapat disebut “eksotis”, saya harus secara rutin menjelaskan kepada orang-orang yang tidak tahu bagaimana mengelompokkan saya murni berdasakan penampilan bahwa saya Muslim. Kenyataan bahwa saya pernah tinggal di tempat-tempat dengan konsentrasi perempuan kulit hitam tinggi (Barbados dan Toronto) membuat beberapa orang menganggap saya seorang Rastafara, atau sekadar seorang perempuan yang menutupi rambut. Penutup kepala telah lama digunakan oleh perempuan kulit hitam di seluruh dunia dengan alasan keagamaan, pekerjaan dan budaya, dan saya tahu saya dapat terbang menggunakan penutup kepala tanpa direpotkan oleh tuduhan terduga teroris di bandara.

Sebagian diri saya menyadari bahwa saya sedang bersikap palsu, saya berlindung di balik anggapan tidak benar tentang identitas keagamaan saya. Dengan melakukan hal tersebut, saya mendapat kemudahan bepergian dengan relatif sedikit insiden kecuali mungkin sesekali pemeriksaan terhadap pengguna penutup kepala. Saya membenarkan keputusan saya dengan meyakini bahwa saya sedang melakukan apa yang perlu saya lakukan untuk dapat bepergian di dunia pasca 9/11 tanpa harus menerima perlakuan negatif yang didasari sentimen terhadap Muslim dan Islam. Saat saya melihat pengembara perempuan lain yang mengenakan hijab, saya bertanya-tanya apakah mereka mendapat masalah. Namun pemikiran ini tidak cukup bagi saya untuk mengubah keputusan tersebut sampai baru-baru ini.

Saya memilih untuk terbang sebagai pengguna hijab karena saya menyadari jika saya dapat berjalan-jalan di Barbados dengan hijab yang menutupi bagian depan, maka saya harus mengenakannya dengan cara yang sama saat bepergian, bahkan meski hal tersebut merepotkan. Rasanya tidak benar jika saya bebas melalui bagian cukai dan imigrasi karena anggapan yang salah terhadap identitas saya. Saya juga memilih hal ini karena saya tahu solidaritas terhadap sesama perempuan Muslim pengguna hijab yang terbang tanpa rasa takut, terlepas dari segala ketidaknyamanan adalah hal terbaik. Namun di atas semua itu, saya melakukannya untuk diri saya sendiri, karena saya tahu bahwa kekuatan saya sebagai perempuan Muslim tidak ditentukan oleh hijab saya, namun oleh keyakinan saya pada keadilan dan kesetaraan. Saya tidak dapat mengamalkan nilai-nilai ini jika dengan sengaja saya bersikap palsu, berpura-pura menjadi siapapun selain seorang perempuan Muslim.

Dalam penerbangan kembali ke Barbados dari pulau Karibia Antigua, saya diminta melepas hijab oleh petugas cukai dan imigrasi untuk diperiksa. Inilah yang saya hindari bertahun-tahun dan saya merasa marah sekali. Saya merasa dipermalukan. Ingin rasanya membantah dengan keras. Ingin rasanya menolak dan menyatakan perlakuan diskriminatif. Namun saya justru merendahkan hati dan memikirkan jutaan perempuan Muslim yang telah mengalami hal yang sama. Hal ini tidak membenarkan peraturan semacam ini, namun berhasil mengingatkan saya pada tujuan saya di awal perjalanan. Jadi saya bertanya, “Apakah ini peraturan umum bagi pengembara Muslim perempuan?” Dan, “Apakah Anda memiliki ruang khusus untuk melakukan ini?” Kita dapat menghadapi masalah semacam ini dengan bekal pengetahuan cukup dan bersikap tegas dan, pada kesempatan ini, hal tersebut membantu memperlancar interaksi saya.

Seringkali kita memilih melakukan hal-hal tertentu karena memilih hal tersebut tampak lebih memudahkan, namun pada prosesnya, kemungkinan kita tidak melakukan hal yang benar. Bertahun-tahun, saya telah membungkam nurani saya yang memberitahu bahwa pilihan saya lebih didasari pada rasa takut dan bukan apa yang saya benar-benar inginkan. Tantangan bagi saya dan semua yang berjuang melawan hal yang sama adalah untuk belajar bagaimana memahami diri sendiri untuk menjadi diri kita yang terbaik dan terotentik.

Leave a Reply
<Modest Style