Modest Style

Menemukan Jalan Menuju Islam

,

Setelah masa kecilnya yang bermasalah, Javier Sandoval menceritakan perjalanannya menuju kedamaian dan kebenaran batin.

(Foto: Pixabay)
(Foto: Pixabay)

Javier Sandoval menjalani dua dunia. Anak kedua dari tiga bersaudara ini lahir dan dibesarkan oleh ibunya yang asal Meksiko di Redwood City, California—kota yang diistilahkannya sebagai hutan beton, dihuni orang-orang aneh, dan memiliki angka kejahatan berupa aksi para bandit, penyalahgunaan obat dan jenis kriminalitas lain yang terbilang tinggi. Dari kecil, Javier menggambarkan dirinya sebagai anak muda yang temperamental dan pemarah.

Tetapi dia juga mengalami masa kecil yang tenang dan sangat menyenangkan. Sesekali, keluarganya yang terdiri dari empat orang juga tinggal di kampung halaman ibunya, Ixpaliano di Sinaloa, Meksiko. Pada saat itu, dengan populasi kurang dari 200 penduduk , Ixpalino relatif terpencil dan sulit dicapai dengan mobil karena hanya dihubungkan dengan jalan-jalan berdebu dan tersembunyi di antara bukit-bukit dan sungai. Di daerah perkampungan Meksiko itu, warganya berburu kijang dan menyembelih kambing untuk diambil dagingnya. Satu kenangan khusus yang diingat betul oleh Javier adalah wangi roti segar di pagi hari yang dipanggang sang nenek.

Di sinilah Javier tinggal dengan para saudara laki-lakinya selama dua tahun penuh, sebelum pindah kembali ke California di usia lima tahun. Sesudah itu, dia hanya mengunjungi Ixpalino selama liburan musim dingin dan musim panas. Meskipun kedua dunianya mungkin bagaikan bumi dan langit, Javier menikmati kedua tempat masa kecilnya itu.

dia ingat, sekitar umur 12, dia merasa perlu mengubah beberapa hal.

Javier menyesali gejolak kekerasan di masa mudanya. Di sekolah dasar dan sekolah menengah, dia sering terlibat perkelahian. Di kelas satu, dia menghempaskan wajah seorang anak laki-laki ke kran air minum karena menghina temannya, dan di kelas enam, dia menghantam seorang anak laki-laki lain dengan batu, menggunakan ketapel.

Meski demikian, dia ingat, sekitar umur 12, dia merasa perlu mengubah beberapa hal.

‘Saya menimbang bahwa saya dan seluruh umat manusia perlu mencapai semacam pemahaman diri sendiri dan satu sama lain jika ingin memperbaiki masalah kami.’

Bagi Javier, solusinya adalah beralih ke agama.

Dibesarkan secara Katolik, dia mulai mempelajari sejarah serta ajaran Gereja secara lebih mendalam dan kritis. Walau begitu, apa yang dia temukan membuatnya merasa bimbang dan memenuhinya dengan keragunan spiritual lantaran leluhurnya, Yaqui, yang merupakan suku asli Amerika.

Di sekolah menengah dan atas, dia sangat membenci sejarah ekstrem Eropa-sentris yang diajarkan di sekolahnya. Malahan, sebagian besar hukuman yang didapatnya sewaktu SMA disebabkan karena ia membaca buku-buku sejarah di jam pelajaran tersebut. Setelah belajar sendiri tentang kolonisasi Amerika, dan mempelajari apa yang dilakukan orang dengan ajaran Katolik yang disalahgunakan serta akibat dari perbudakan dan genosida nenek moyang aslinya, Javier semakin ragu dan memusuhi agama pada umumnya.

Dia merasa seperti sedang mencari kebenaran yang tidak mampu ditemukannya. Akhirnya, dia memutuskan sendiri untuk tidak percaya pada Tuhan. Di SMA, dia sering memulai perdebatan dengan siswa lain tentang keyakinan teologis mereka.

Apa yang ditemukannya sama sekali tidak seperti yang dia harapkan; sebaliknya, Islam menawarkan semua yang selalu dicarinya

Ketika Javier 16 tahun, abangnya, Gudiel, mulai sering menyebut-nyebut Islam. Gudiel baru saja membaca autobiografi Malcolm X, dan sahabatnya, Michael Cortez, baru memeluk agama Islam. Javier juga kenal Michael dan selalu menganggapnya panutan. Jadi saat Gudiel memberitahunya bahwa Michael sudah menjadi Muslim, Javier tercengang dan sedikit kesal disebabkan pandangan ateisnya yang kuat. Walaupun tidak tahu apa pun tentang Islam, dia bertekad untuk memadamkan keinginan abangnya.

Namun, karena Javier tahu Gudiel dan Michael sangat cerdas dan tidak mudah dibodohi, dia mulai melakukan riset tentang Islam. Apa yang ditemukannya sama sekali tidak seperti yang dia harapkan; sebaliknya, Islam menawarkan semua yang selalu dicarinya.

‘Jangkauan Kebenarannya, detail keindahan Nabi (SAW) dan kedalaman studinya benar-benar belum pernah saya temukan sebelumnya. Segala hal tentang Islam, mulai dari penghargaan yang tinggi terhadap kaum ibu hingga terpeliharanya Quran, saya anggap sempurna.’

Setelah abangnya menjad mualaf pada 2009, Javier menyusulnya di tahun yang sama. Kini, dia memuliakan abangnya dan Michael karena telah menjadi perantara yang Tuhan gunakan untuk mengalihkannya ke Islam. Akan tetapi, pada awalnya sulit bagi orangtuanya untuk menerima keputusannya itu.

‘Beralih ke Islam adalah konsep yang sangat asing, terutama bagi keluarga saya. Mereka khawatir terhadap konsekuensi dari keputusan kami.’

[Not a valid template]

Pada 2001, dia mulai menghadiri Ta’leef, perkumpulan pemuda Muslim, dengan abangnya. Tiba-tiba dia sadar dia selama ini tidak pernah berada di antara Muslim yang sebaya, dan sangat menghargai komunitas baru ini karena dia bisa menjadi diri sendiri. Di sana dia juga dapat dengan mudahnya merasa terhubung dengan sesama Muslim muda yang lain.

‘Walau begitu, setelah beberapa saat, keluarga saya mulai melihat perubahan positif di sifat kami. Para bibi saya bahkan mulai meminta saya mengajak para sepupu ke Ta’leef bersama kami, (karena) banyak teman saya telah terjerat narkotika dan menjadi anggota geng, atau sudah pernah mendekam di penjara.’

Sejak membawa mereka ke Ta’leef, lebih banyak sepupu dekat dan temannya yang turut menjadi mualaf.

Saat ini, Javier bekerja sebagai koki kue dan koki yang bertanggung jawab terhadap pembuatan makanan tertentu (line cook), demi mengenang neneknya yang mencari uang dengan memanggang kue di Ixpalino. Kelak, dia berencana belajar dan mengajar sejarah, linguistik dan agama Islam. Dia pun dikenal dengan dua nama tambahan, serta memperkenalkan diri sebagai Javier Jameel Akil Sandoval.

‘Saya bersyukur atas peralihan saya ke Islam, keluarga dan komunitas Ta’leef karena telah membantu saya menemukan jalan hidup.’

Temukan lebih jauh mengenai program dan layanan yang disediakan Ta’leef Collective

Leave a Reply
<Modest Style