Menelusuri silsilah keluarga saya

,

Mengetahui asal-usul keluarga kita semakin penting di masa sekarang ini, tulis Afia R Fitriati.

0403-WP-Tree-by-Afia-Pixabay

Ibu saya selalu menekankan pentingnya memelihara tali silaturrahim dengan keluarga besar kepada anak-anaknya. Bagi saya, hal ini terkadang berarti menghadiri pernikahan sepupu jauh di mana saya tidak mengenal siapa pun (termasuk pengantinnya), atau tidak mampu mengingat nama-nama paman dan tante jauh dan hubungan saya dengan mereka.

Meski begitu, di acara pertemuan keluarga baru-baru ini, saya mulai memahami pentingnya pesan ibu saya.

Pertemuan tersebut lebih kurang sama seperti pertemuan lainnya yang telah diadakan oleh keluarga besar saya selama bertahun-tahun untuk menjaga tali silaturrahim. Terdapat banyak makanan, anak-anak berlarian, dan pembacaan Qur’an. Namun kali ini, beberapa tetua keluarga membuat presentasi untuk menjelaskan silsilah keluarga kami yang rumit, terutama bagi generasi yang lebih muda. Sepertinya karena bukan hanya saya di antara saudara berusia sama yang mengalami amnesia parah jika harus mengingat para anggota keluarga kami.

Saya agak bingung di bagian awal presentasi karena sejarah keluarga kami dirunut hingga abad ke-16, di masa berbagai kerajaan menguasai Pulau Jawa. Namun di tengah-tengah presentasi, beberapa bagian mulai menarik perhatian saya karena ingatan tentang rumah kakek dari kakek buyut saya dan foto nenek saya yang sedang tersenyum kembali hidup di benak saya.

Saya baru mengetahui bahwa kakek dari kakek buyut saya pernah mengelilingi Jawa untuk mempelajari Qur’an dari guru-guru yang berbeda. Ia bahkan berguru pada seseorang yang jauh lebih muda dari usianya – di lingkungan dan masa di mana konsep egalitarianisme masih sangat asing. Pada akhirnya, ia membangun sebuah pesantren di tengah-tengah daerah prostitusi di sebuah kota kecil di Jawa. Ia terus mengajar di pesantren tersebut jauh setelah ia mengalami kebutaan dan terbaring sakit karena diabetes.

Paman-paman saya juga mengungkapkan kisah tentang nenek saya yang mengingatkan saya akan kemewahan yang saya miliki sekarang. Karena sekolah formal bagi perempuan baru disetujui oleh pemerintah Indonesia pada 1942, nenek saya tidak pernah bersekolah. Meski begitu, anak-anaknya tumbuh besar sebagai dokter, insinyur, dan cendekiawan dalam berbagai bidang. Bagi saya, hal ini bercerita banyak tentang perempuan yang membesarkan mereka; perempuan yang tidak sempat saya kenal.

Dalam perjalanan tanpa akhir saya untuk menemukan, memahami, dan memahami kembali diri saya, terkadang saya merasa sebagai satelit yang mengapung sendiri di alam semesta. Potongan-potongan kisah di atas mengingatkan saya bahwa ternyata saya tidak sendiri. Begitu banyak guru, pelajar, dan pencari kebenaran telah hidup sebelum saya. Melalui berbagai zaman, kisah mereka sampai pada saya, dan menginspirasi saya dengan cara yang bahkan tidak dapat mereka ketahui.

Mungkin inilah salah satu hikmah pesan sederhana ibu saya. Dalam dunia masa kini yang penuh gejolak, hubungan baik dengan keluarga dan kerabat terkadang merupakan hal yang kita butuhkan untuk tetap membumi.

Seperti halnya pohon, akar yang kuat seringkali merupakan hal yang kita butuhkan untuk menggapai langit.

Leave a Reply
Aquila Klasik