Modest Style

Menelusuri Jejak Penyebaran Islam di Cirebon

,

Lebih dari sekedar wisata tradisi, perjalanan Ashfi Qamara ke Cirebon membuatnya mengapresiasi nilai-nilai luhur sejarah Indonesia.

WP Menelusuri Jejak

Sebagai salah satu penduduk Jakarta yang hampir melupakan sejarah dan budaya peninggalan para leluhur, saya termasuk orang yang kurang peka terhadap kekayaan adat dan budaya Indonesia. Meskipun sempat belajar di Madrasah Tsanawiyah, namun di sekolah saya kurang mendapatkan pengetahuan mengenai penyebaran Islam di Indonesia. Padahal, kita mengetahui bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia. Tidak mungkin bangsa ini serta merta mengadopsi Islam tanpa akar yang kuat serta perjuangan para pendahulu kita.

Yang saya ingat dari buku-buku sejarah Islam pada saat sekolah hanyalah kisah penyebaran Islam  hingga Dinasti Abbasiyah di Timur Tengah. Tergelitik oleh rasa ingin tahu, belakangan saya mulai menelusuri secara langsung sejarah dan bukti-bukti kejayaan Islam di Indonesia, dengan harapan menemukan harta karun yang mulia, yaitu ilmu tanpa batas. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, “Jas Merah: Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” karena tanpa masa lampau, tak akan ada masa kini dan masa depan. Bila kita melupakan masa lampau, maka masa kini menjadi tidak bermakna dan masa depan akan menjadi sia-sia.

Penelusuran jejak penyebaran Islam saya bermula di Cirebon, tanah Ibu Pertiwi yang dikenal dengan julukan Kota Para Wali. Sudah beberapa kali saya berkesempatan mengunjungi kota tersebut, termasuk menghadiri acara-acara di Kesultanan Kanoman. Berikut ini adalah beberapa tradisi keislaman yang pernah saya hadiri di Cirebon:

[Not a valid template]

Malam Satu Sura (perayaan tahun baru Islam)

Pada 1 Muharram 1435H yang bertepatan dengan awal bulan November 2013, Kesultanan Kanoman melangsungkan pembacaan Babad Cirebon (Sejarah Cirebon) yang dibacakan oleh Pangeran Rohim atau seorang pejabat berpangkat satu tingkat di bawah Patih, didampingi tujuh orang Panca Pitu (abdi dalem keraton yang selalu mengiringi setiap ritual) serta tujuh orang penghulu Masjid Agung Kasepuhan.

Pembacaan dilakukan dengan khidmat diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an. Secara singkat, Babad Cirebon menceritakan tentang pertemuan orangtua Sunan Gunung Jati (Syekh Syarif Hidayatullah), yaitu Nyi Mas Rara Santang yang merupakan puteri Prabu Siliwangi dan Raja Uttara atau Syarif Abdullah bin Nur Alam bin Jamaluddin Akbar. Konon, silsilah Raja Uttara sampai kepada Rasulullah (saw) melalui cucu beliau, Imam Husain bin Ali bin Abu Thalib. Babad Cirebon juga mengisahkan tentang perjuangan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam di tanahJawa.

Pembacaan Babad Cirebon berlangsung satu jam untuk memperingati Malam Satu Sura. “Sura” yang merupakan bulan pertama pada kalender Jawa berasal dari kata “Asyura”, yaitu hari syahidnya Imam Husain ketika melakukan revolusi demi tegaknya kebenaran melawan penguasa tirani. Mengingat Sunan Gunung Jati beserta keturunannya sekarang yang melanjutkan Kesultanan Kanoman konon menurut hikayat merupakan keturunan dari cucu Rasulullah (saw), maka Malam Satu Sura menjadi momen yang penting dan sakral.

Panjang Jimat (Perayaan Maulid Nabi Muhammad (saw))

Pada tanggal 13 Januari 2014 saya tiba di kota Cirebon kembali untuk ikut merasakan suasana prosesi Panjang Jimat atau Pelal Ageng, yaitu perayaan Maulid Nabi Muhammad (saw).

Sekilas frase “Panjang Jimat” memang terkesan mistis, namun sesungguhnya istilah ini merupakan paduan kata panjang yang bermakna terus menerus, ji dari kata siji (satu dalam bahasa Jawa) dan kang dirumat, yang berarti dihormati. Sehingga, arti Panjang Jimat adalah “satu yang harus selalu dihormati terus menerus”. Makna ini mengacu pada kalimat tauhid “Laa ilaaha illallah” (Tiada tuhan selain Allah).

Alasan utama Panjang Jimat diadakan pada tanggal kelahiran Rasulullah (saw) adalah untuk menghormati baginda Rasul, sebagaimana seluruh makhluk dan alam ciptaan Allah (SWT), termasuk malaikat dan jin, ikut menyambut hari kelahiran Nur Allah, Cahaya Ilahi Muhammad Rasulullah (saw).

Pada pembukaan acara, nampak bendera Kesultanan Kanoman dengan emblem kaligrafi dari dua kalimat syahadat berbentuk macan, yang dikenal dengan Macan Ali. Sangat jelas bahwa prosesi Panjang Jimat ini kental dengan nilai-nilai agama Islam serta budaya Nusantara.

Perayaan Maulid Nabi – yang tidak hanya dirayakan di Cirebon tapi juga dirayakan oleh berbagai umat muslim di seluruh dunia – mengingatkan kita supaya terus meneladani sikap dan perilaku (sunnah) Rasulullah (saw).

Perjalanan-perjalanan ke Cirebon ini bagi saya merupakan perjalanan spiritual dengan kesan yang jarang saya dapatkan di kota Jakarta. Kentalnya tradisi leluhur yang diwariskan turun temurun membuat saya mampu melihat dimensi lain dari kehidupan sebagai pengalaman lahir maupun batin.

 

Leave a Reply
<Modest Style