Kisah perjodohan seorang pria

,

Pengalaman perjodohan bisa jadi terasa konyol bagi wanita maupun pria yang melaluinya, tulis Ameera Al Hakawati.

WP-Marriage-by-Ameera-Fotolia
Menjadi pria Muslim yang lajang itu tidak mudah. (Gambar: Fotolia)

Bersama beberapa anggota keluarga, saya mengunjungi seorang teman keluarga pekan lalu; lebih karena kami memang sedang berada di daerahnya, namun juga karena ia baru membeli rumah pertamanya. Mohammed mengakui bahwa ia lebih ingin memilih-milih rumah bersama calon istrinya. Namun kenyataan bahwa ia masih tinggal dengan keluarganya membuat para calon pasangan jengah, dan ia merasa ia perlu melakukan sedikit perubahan gaya hidup agar tampak lebih menarik dan pantas dinikahi.

Segera setelah kami memasuki rumah, ayah saya mengeluarkan ponsel dan mulai mengambil foto Mohammed, yang tidak menyadari bahwa ia dipenuhi debu setelah seharian mencat ulang ruang tamunya. Sambil merapikan topi Mohammed, ayah saya mengabaikan ekspresi malu Mohammed dan tetap memotret serta berteriak, “Senyum! Yang senang dong! Menghadap sini!”

Setelah menyadari bahwa topi berdebu tidak akan menarik hati siapa pun, ayah kemudian memaksanya ganti mengenakan jas dan menariknya ke kebun belakang, tempat Mohammed menghabiskan 15 menit berikutnya berpose dengan canggung di samping pohon. Semuanya agar seorang calon pengantin wanita yang melihat satu foto, serta beberapa lembar kertas yang bertuliskan sedikit detil tentang dirinya, memutuskan untuk bertemu dengannya. Jika mereka saling suka, maka mereka akan bertemu beberapa kali, kemungkinan bersama pendamping, dan kemudian memutuskan apakah mereka ingin menghabiskan sisa hidup bersama.

Selamat datang di perjodohan tahun 2014.

Tidak selalu seprogresif ini. Saudari ipar saya bertemu dengan suaminya dua kali sebelum menikah, dan pada pertemuan pertama bahkan tidak diizinkan berbicara padanya. Saya yakin banyak orang yang bahkan tidak bisa melihat foto calonnya sebelum bersumpah setia pada seseorang yang benar-benar asing.

Spektrum perjodohan sungguh luas dan beragam; masing-masing keluarga mengadaptasi tradisi yang berkaitan dengan teknologi modern dan norma sosial abad ke-21.

Keluarga Mohammed ada di tengah-tengah. Ia tidak akan diminta menikahi seseorang yang tidak pernah ia temui, namun jatuh cinta dan memilih pasangan sendiri sama sekali tidak boleh dilakukan. Jadi tiga tahun terakhir ini, ia telah dipaksa melakukan ratusan sesi foto, bertemu sejumlah calon pasangan potensial, dan telah menulis serta menulis ulang CV pernikahannya (ya, Anda tidak salah baca) berkali-kali.

Semua orang menyangka bahwa perempuan adalah makhluk yang paling sial dalam hal perjodohan. Namun kini, banyak wanita memiliki hak yang sama dengan pria dalam penentuan kriteria. Hilang sudah – setidaknya di banyak negara dan wilayah – paham kuno yang menyebutkan bahwa seorang pria sebenarnya meringankan beban keluarga pihak wanita dengan menikahi sang anak. Hilang sudah hari-hari saat wanita diwajibkan menerima siapapun pria pertama yang datang, dengan kekhawatiran calon pasangan lain tidak akan pernah muncul lagi.

Lagipula, banyak wanita tidak lagi membutuhkan pria dalam hidup mereka. Ya, asyik memang ada yang menemani. Namun mereka tidak benar-benar membutuhkan tulang punggung keluarga atau bahkan seseorang untuk bereproduksi. Sekarang ini banyak cara yang bisa dilakukan untuk memiliki anak bahkan tanpa perlu menatap seorang pria. Seiring dengan pergeseran kekuatan antara pria dan wanita, semakin banyak wanita enggan berkomitmen dengan seorang pria yang tidak memenuhi semua kriteria mereka.

Dan, hey, kriterianya banyak sekali. Dari usia, tinggi, berat, dan penampilan yang tepat, hingga suku, pendidikan, saudara kandung, latar belakang keluarga, karir, kekayaan, dan tempat tinggal yang tepat, daftarnya terus bertambah panjang.

Pada awal pencariannya, Mohammed menghadiri setiap pertemuannya dengan rasa semangat. Lagipula, wanita yang duduk di hadapannya bisa jadi orang yang akan mendampinginya menghabisi sisa hidupnya. Ia akan mempersiapkan diri dengan sanagt teliti, dari mencat rambutnya yang agak memutih hingga mengilapkan kacamatanya dan memastikan lipatan celananya benar-benar sempurna.

Dengan berlalunnya bulan menjadi tahun, berbagai pertemuan tersebut kehilangan makna. Kini Mohammed sekadar memaksakan diri berganti dengan kemeja bersih, tidak memedulikan berapa banyak rambut putih yang terlihat dari jarak semeter (toh tidak mungkin sang wanita bisa lebih dekat daripada itu). Ia lelah bertemu wanita yang seakan lebih memedulikan penampilan dan uang daripada akhlak atau kepribadian yang baik. Ia bosan berbasa-basi dengan wanita yang tidak memiliki banyak bahan pembicaraan hingga perbincangan mereka penuh jeda yang menggantung. Ia muak dinilai dari jam tangan yang ia gunakan, ponsel yang ia bawa, dan mobil yang ia kendarai. Namun di atas semua itu, ia sudah puas merasa kurang.

Kemungkinan bertemu seorang wanita yang seagama serta berusia dan berkepribadian cocok cukup sulit

Mohammed tidak terlalu tampan. Namun siapapun yang melewatkan cukup banyak waktu bersamanya akan segera menyadari bahwa ia sangat mengagumkan. Ia sangat terdidik, memiliki pekerjaan prestisius, berakhlak baik, murah hati, setia, lucu, peduli keluarga, dan hebat di antara anak-anak. Dan di sinilah kekurangan terbesar perjodohan terlihat. Anda tidak memiliki cukup banyak waktu dengan satu sama lain untuk mengenal lebih jauh dan menemukan kepribadian hebat yang tersembunyi di dalam.

Anda mendasari keputusan Anda dari pantas tidaknya seorang pria ditemui menurut CV pernikahannya, dan sebuah foto yang tidak bisa memoles tubuhnya dengan riasan dan bulu mata palsu agar tampak menarik. Mohammed sering bertemu dengan wanita yang, sebenarnya, terlihat sangat berbeda dari pas fotonya yang terlalu parah di-Photoshop atau difilter sehingga hal ini sudah menjadi bahan candaan keluarga. Hanya saja, saat para perempuan ini menilainya dari fotonya yang sesungguhnya dan tanpa suntingan, justru ia yang dijadikan bercandaan.

Mohammed bukannya tidak bersalah dalam hal ini. Hm, sebenarnya ia memang tidak bersalah. Ia adalah pria cukup sederhana yang sekadar ingin menemukan seseorang yang cocok. Namun tidak begitu dengan ayahnya. Abu Mohammed bertekad menemukan wanita yang cantik dan berpendidikan tinggi dari latar belakang keluarga dan status sosial serupa. Yang lainnya – hal-hal kecil seperti kepribadian – adalah nomor dua. Ia berhasil menemukan pasangan sempurna untuk putra pertamanya dan yakin akan menemukan keberhasilan yang sama kedua kalinya.

Abang Mohammed dijodohkan sekitar enam tahun lalu, yang berujung pada pernikahan yang relatif bahagia. Suami istri yang tinggal di rumah besar yang indah di pinggir kota. Mereka memiliki dua anak yang lucu dan kedua keluarga mereka berhubungan baik. Memang seharusnya begitu, karena merekalah yang merencakan perjodohan tersebut.

Dengan perbandingan seperti itu, dan seorang ayah yang seperti itu pula, tidak aneh Mohammed berjuang untuk menemukan pasangan yang disukai semua orang. Ia bahkan mencoba menghadiri Muslim Marriage Events, yang lebih kurang sama dengan acara kencan kilat khusus Muslim, tanpa alkohol dan dengan pemahamaan bahwa semua yang datang mencari pendamping hidup, bukan kencan semata.

Menurutnya pengalaman tersebut sangat mengerikan – sama dengan pertemuan perjodohan yang pernah ia hadiri, namun ratusan kali lebih mengerikan. Anda diberi lima menit untuk membuat seorang wanita tertarik agar ia mempertimbangkan Anda sebagai calon suami. Atau setidaknya, untuk bertemu lagi. Dan bukan hanya ada satu, namun lima, wanita yang harus Anda buat terkesan, yang memandangi Anda dengan rasa penasaran atau tidak suka yang tidak ditutupi dengan baik. Basa-basi jadi semakin tidak bermakna saat Anda memiliki waktu yang sangat terbatas dan harus mengulanginya hingga lima kali. Pada pertemuan kelima, Anda bahkan tidak punya tenaga untuk menyebutkan nama Anda, apalagi berbincang dengan semangat. Dan yang paling buruk, bukannya hanya satu penolakan di akhir hari yang menyeramkan tersebut; Anda bisa saja mendapat lima penolakan. Begitu menghancurkan harga diri.

Saat mendengar kisah menyedihkan ini, saya hanya bisa bertanya-tanya mengapa ia repot-repot menjalaninya. Mengapa ia tidak sekadar bertemu dengan seseorang dari tempat kerja, atau melalui seorang teman?

Sebagai pria Muslim yang juga menjalankan agamanya dan tinggal di Inggris, di mana hanya 5 persen populasi beragama Islam, kesempatan bertemu seorang wanita yang beragama, berusia, dan berkepribadian cocok cukup sulit. Tambahkan faktor apa saja dan pemilihan jadi tambah sulit. Melakukannya melalui perjodohan – di mana Anda memiliki teman dan kerabat yang berniat baik mencarikan pasangan untuk Anda – memang sejujurnya terlihat lebih masuk akal.

Bagi Mohammed, terlepas dari semua pertemuan, acara perjodohan, dan foto hasil Photoshop yang harus ia hadapi, ia bersedia bertahan hingga menemukan Sang Putri Cantiknya. Lagipula jika semua usahanya gagal, ‘kan ada SingleMuslim.com.

Lebih banyak tentang perjodohan:

Kisah perjodohan yang berujung cinta

Situs-situs perjodohan muslim

Sudah kenal dengan pasangan Anda?

 

Leave a Reply
Aquila Klasik