Modest Style

Mencari Kejujuran di Balik Label Makanan

,

Bacalah label makanan dengan teliti dan jangan mudah terpengaruh slogan yang terdengar sehat, tulis Sya Taha.

1602-WP-Ramadan-Sya-Honest-Goodness-SXC-sm

Dulu saya pikir roti gandum utuh lebih baik dari nasi putih, negara beriklim sedang menghasilkan bayam yang lebih unggul daripada bayam lokal, ikan salmon lebih bermanfaat untuk kesehatan jantung ibu saya daripada ikan selar goreng, dan telur hasil industri peternakan yang steril lebih berkhasiat ketimbang telur ayam kampung peliharaan ayah.

Saya juga beranggapan ayam yang dikemas dengan stiker hijau bertulisan ‘halal’ sudah pasti organik, karena istilah itu seharusnya sudah mencakup semua hal yang diajarkan guru agama: dikembangbiakkan dengan penuh kasih sayang, diberi makanan berlimpah, dicukupi air minumnya sepanjang hidupnya, dan, begitu saatnya tiba, disembelih dengan cepat oleh (pria) Muslim yang taat.

Dan kenapa juga saya akan berpikir sebaliknya? Stiker hijau itu telah disetujui oleh Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS). Roti tawar persegi yang dibeli di supermarket malah memiliki label segitiga yang bertulisan ‘Healthier Choice’! Waktu itu saya belum sadar bahwa jika saya menjelajahi supermarket, saya akan menemukan logo yang sama pada bungkus mi instan, yoghurt encer kemasan, dan bahkan sejumlah produk sereal bergula.

Belakangan saya menemukan bahwa logo pilihan sehat’ ini didasarkan pada kriteria umum, dibandingkan dengan produk lain yang kategorinya sama. Sebagai contoh, sebuah merek mi instan yang ditempeli logo itu mengandung lemak dan natrium yang lebih rendah daripada produk mi instan lainnya, tapi saya tidak tahu pasti kandungan gizinya (yang sebenarnya cukup rendah, sama seperti sebagian besar produk makanan rafinasi dan olahan) kecuali jika saya membaca daftar bahan yang digunakan.

Demi kepentingan kesehatan saya dan keluarga, saya mulai lebih saksama mencermati label makanan. Yang saya temukan, banyak makanan yang kita pikir sehat sangat dipengaruhi strategi pemasaran dan iklan yang cerdik. Sebagai contoh:

  1. ‘Natural flavour’ (100% alami): Label ini sederhananya berarti bahan kimia yang digunakan berasal  dari sesuatu yang alami, sebelum dicampur dengan zat kimia sintetik. Bahan yang dimaksud di antaranya zat kimia alami seperti L-sistein (yang berasal dari bulu atau rambut) dan monosodium glutamat, neurotoksin yang lebih dikenal sebagai MSG.
  2. ‘No added MSG’ (tidak dibubuhi MSG): Produk-produk seperti ini sering mengandung ‘penyedap’ dalam bentuk glutamat bebas dari hidrolisat protein. Jika sebuah produk mengandung disodium inosinat atau disodium guanilat, kemungkinan MSG pun termasuk di dalamnya karena kedua unsur kimia tersebut hanya bisa bekerja dengan kehadiran MSG.
  3. ‘No trans fat’ (bebas lemak trans): Lemak trans adalah penemuan industri kontemporer dan semacam asam lemak yang sama sekali tidak diperlukan tubuh. Lemak trans dibuat dengan menghidrogenasi-parsial minyak sayur demi memperbaiki tekstur dan sifat tahan panasnya—karenanya lebih sering ditemukan pada makanan gorengan. Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) di Amerika Serikat mengeluarkan izin label ini untuk produk yang mengandung lemak trans kurang dari 5 gram.
  4. ‘Fat free’ (bebas lemak): Karena lemak digunakan untuk menciptakan tekstur halus pada makanan kemasan seperti kue kering, produk seperti itu umumnya mengompensasi hilangnya rasa yang terjadi dengan gula atau garam. Label ini bahkan bisa ditemukan pada produk-produk yang dari awal sudah tidak mengandung lemak, seperti jus apel, supaya Anda tergerak untuk berpikir Anda sedang mengambil pilihan yang sehat.
  5. ‘Sugar free’: Gula rafinasi sudah cukup buruk bagi kadar gula darah. Tapi produk-produk berlabel ‘bebas gula’ biasanya malah dipermanis dengan pemanis buatan (misalnya aspartam) yang terkait dengan kanker pada tikus, atau gula alkohol (misalnya manitol atau xylitol) yang dapat menyebabkan diare bila dikonsumsi secara berlebihan.

Jenis ketidakjujuran dalam pemasaran seperti ini bukan saja tidak bermoral, tetapi juga berpotensi memicu bahaya jangka panjang. Banyak efek jangka panjang dari konsumsi bahan aditif dan bahan kimia ini pada manusia bahkan belum diketahui — mengonsumsinya seperti sengaja berpartisipasi dalam uji klinis.

Jadi apa yang tertinggal buat kita untuk dimakan? Kita perlu menengok kembali budaya makan tradisional —apa pun yang biasa dimasak nenek atau buyut kita. Saat melakukan penelitian, saya menemukan beberapa kesimpulan yang mengejutkan. Ternyata beras merupakan suku padi-padian (grain) yang paling sedikit mengalami modifikasi genetis dan tidak memerlukan berbagai tahap pengolahan sebelum dimakan. Hal ini menjadikan beras (dan padi-padian minim proses lainnya seperti oat) jauh lebih baik daripada gandum.

Juga ternyata, mengangkut sayuran yang ditanam di rumah kaca melewati setengah keliling bumi menggunakan jumlah bahan bakar yang sangat besar. Ini artinya, seorang konsumen di Singapura (seperti saya, pada waktu itu), yang memilih sayuran berdaun hijau lokal seperti bayam dan kangkung dari negeri tetangga, Malaysia, telah membuat pilihan yang lebih ramah lingkungan. Kedua jenis sayuran itu juga mengandung zat besi dan vitamin K yang tinggi, sehingga cocok buat diet yang biasanya mengandung daging merah kaya zat besi pada kesempatan tertentu saja.

Selain itu, rupanya ikan kecil yang digoreng, seperti selar (yellowtail scad) merupakan sumber protein dan kalsium yang bagus (tulang-tulangnya yang kecil pun dapat dimakan), yang mampu mengatasi kondisi umum intoleransi laktosa susu pada masyarakat Asia. Dan telur ayam kampung andalan ayah saya dengan kuning telurnya yang berwarna oranye? Telur inilah sesungguhnya yang oleh para aktivis sustainable agriculture (pertanian berkelanjutan) masa kini disebut sebagai telur ‘free-range’ atau ‘pastured’ (dihasilkan dari ayam yang dipiara secara lepas, tidak di dalam kandang). Ayam-ayam yang menghasilkan telur-telur ini bebas berkeliaran di rumput dan pakan mereka yang berupa jagung (serta beberapa jenis serangga) menyediakan lebih banyak beta-karoten untuk telur-telur yang dihasilkan.

Pada akhirnya, ternyata di Singapura yang menggolongkan ayam sebagai halal maknanya hanya pada poin penyembelihannya. Padahal sistem pemotongannya melibatkan menyetrum ayam sebelum disembelih dan menggantungnya dengan kepala di bawah pada alat gantung yang bergerak. [i] Seruan ‘Allahu Akbar’ (Allah Mahabesar) mungkin saja menggelegar dari pengeras suara, tetapi proses pengembangbiakan dan pemeliharaannya bisa sama jujur atau sama buruknya dengan hati nurani pemilik peternakan.

Mengetahui hal ini benar-benar membuat saya kaget.

Jika saya kembali ke Singapura sebentar lagi, yang ingin saya lakukan adalah menyantap makanan yang dulu dimakan orangtua, kakek-nenek dan para buyut saya, dengan berbekal pengetahuan bahwa makanan tradisional memiliki kearifan tersendiri terhadap keseimbangan nutrisi untuk kualitas iklim dan genetik tertentu.

Menerapkan pola makan sehat terbilang mudah. Michael Pollan, penulis buku In Defense of Food sekaligus pendukung ‘makanan sejati’, meringkas peraturannya yang berjumlah 64 dalam tujuh kata sederhana: ‘eat food. Not too much. Mostly plants’. (Makan makanan. Jangan terlalu banyak. Mayoritas sayuran’).

[i] MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura), Guidelines to Islamic Slaughtering, bisa dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style