Modest Style

Mencari jati diri di tanah asing

,

Perjalanan ke Inggris yang penuh dengan berbagai hal yang dikenalinya menyadarkan Sya Taha akan pentingnya mengetahui warisan kebudayaannya sendiri.

000_DV698785-e1399000365622
AFP Photo

Saya menghabiskan beberapa hari terakhir menjelajah Oxford, Inggris, dengan suami. Tidak ada yang berubah dari cara kami bepergian ringan menggunakan ransel, kecuali kini kami membawa-bawa dorongan bayi (yang ternyata pas digunakan untuk membawa enam buku baru dan sepasang sepatu).

Saya tidak pernah tinggal di Inggris – selain hanya berkunjung sesekali – namun mengagumkan melihat banyaknya hal yang akrab bagi saya. Makanan contohnya: banyak tempat minum di kota pelajar kecil ini yang menyajikan menu sarapan untuk sepanjang hari yang terdiri dari telur dadar, kacang merah panggang, roti bakar, dan sosis. Saat kecil, ibu saya biasa menyajikan sarapan semacam ini sebagai suguhan khusus hari Minggu (ia menambahkan beberapa wortel rebus untuk tambahan nutrisi).

Sastra Inggris merupakan contoh lain hal asing lain yang terasa akrab. Ketika tumbuh besar, saya membaca hampir semua koleksi cerita anak karya penulis Inggris Enid Blyton – tanpa mengetahui bahwa “Enid” merupakan nama perempuan. Imajinasi masa kecil saya dipengaruhi dengan khayalan tentang mahluk supernatural seperti bidadari, kurcaci, jembalang dan peri. Saya melahap semua buku berisi kisah tentang peri. Ketika suatu kali saya menendang sebuah jamur pada saat jamur tersebut akan melepaskan sporanya, saya yakin bahwa peri memiliki campur tangan dalam kejadian tersebut.

Pengetahuan saya tentang alam pada waktu itu juga hanya terdiri dari spesies iklim subtropis. Sebagai hasil dari mendalami buku-buku di atas, saya mengetahui nama-nama dari puluhan bunga dan tanaman iklim subtropis: honeysuckle, wisteria, beech, ek. Tidak peduli bahwa saya tidak pernah melihat wujud sesungguhnya. Saya mengidam-idamkan beri hitam dan rasberi – yang digambarkan begitu nikmat di kisah-kisah tersebut – hingga saya mengimpikan memakannya (dan terbangun persis sebelum mengecap rasanya, tentu saja).

Saya tidak mengetahui sedikit pun tentang bunga dan tanaman tropis, selain yang diberitahu oleh ayah saya. Jika bukan karena dibesarkan di kampung, saya tidak yakin saya bahkan akan tahu apa-apa. Saat berjalan-jalan di Minggu pagi, ia menunjukkan pada saya bagaimana mengenali pohon berdasarkan daunnya. Ia akan mengangkat saya untuk mengambil jambu, atau menarik batang pohon ceri Muntingia agar saya dapat meraih beri merah cerahnya (jika belum lebih dulu diambil oleh burung). Kami akan mengamati burung wak-wak, kadal besar, burung pekakak, dan buaya kecil. Saya begitu bersemangat menemukan bagian-bagian kecil dari alam ini di perkotaan Singapura.

Sebagai seorang remaja yang mempelajari geografi di sekolah, titel ujian “Cambridge” tidak bermakna apa-apa bagi saya. Belakangan, saya menyadari bahwa kami sedang mempelajari hal yang sama untuk ujian yang juga diikuti oleh pelajar di Inggris. Barulah saya paham mengapa saya mempelajari formasi danau kuk (satu-satunya hal yang saya sukai dari pelajaran ini adalah bagian menggambar diagram). Meski kami juga mempelajari geografi lokal seperti hutan bakau dan hutan hujan tropis, saya masih takjub akan banyaknya waktu yang dicurahkan guru dan siswa untuk mempelajari sesuatu yang tidak ada hubungannya bagi mereka.

Novelis Nigeria Chimamanda Ngozi Adichie merangkum proses pemikiran dan perkembangan pribadi saya. Ia juga membayangkan hal-hal yang asing baginya – seperti salju – dan memiliki “hasrat yang menggebu untuk merasakan bir jahe”.

Hal ini menunjukkan, menurut saya, bagaimana lemahnya dan mudahnya kita terpengaruh oleh sebuah cerita, terutama sebagai anak-anak. Karena segala yang pernah saya baca adalah buku yang tokohnya orang asing, saya menjadi yakin bahwa buku pada dasarnya harus memiliki orang asing di dalamnya dan harus berisikan hal-hal yang secara pribadi tidak dapat saya kenali.[i]

Saya sangat merasakan hal ini dalam perjalanan saya: pengetahuan tertentu saya miliki karena latar belakang kolonial negara saya, hingga ke bagian-bagian paling remeh dalam hidup saya – apa yang saya pelajari, apa yang saya baca, apa yang saya makan, bahkan apa yang saya impikan.

Tantangannya sekarang adalah untuk mendapatkan kembali kisah dan pengetahuan budaya saya sendiri. Saya meyakini, dalam era globalisasi sekarang, mengetahui akar saya menjadi lebih penting. Saya tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulit karena hanya saat saya mengetahui dari mana saya berasal saya dapat mengetahui ke mana saya menuju.

 

[i] Chimamanda Ngozi Adichie, ‘The danger of a single story’, TED, Jul 2009, video dan transkripsi tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style