Modest Style

Mencari Islam dan Menemukan Cinta

,

Banyak orang beralih memeluk agama Islam setiap hari. Sebagian lainnya mengambil langkah ini kala menemukan calon pasangan. Fatimah Jackson-Best menggambarkan bagaimana pernikahannya dengan seorang mualaf mengubah kehidupan mereka berdua.

Foto: SXC
Foto: SXC

Saya bertemu suami karena ia bekerja dekat rumah keluarga saya. Kami saling menyapa dalam tata krama orang Bajan[i], dengan mengucapkan “Selamat pagi” dan “Selamat sore”. Tak lama sebelumnya saya pergi ke Barbados dari Toronto untuk mengikuti program pertukaran akademis, dan saat itu saya menikmati perubahan besar: tinggal di sebuah pulau kecil di Karibia.

Melalui perbincangan kami, dia akhirnya tahu saya Muslim, yang sedikit tidak umum di negara di mana 95% penduduknya beragama Kristen. Di Barbados, kebanyakan Muslim adalah keturunan India dan mayoritas orang Bajan berkulit hitam merupakan penganut Kristen. Sebagai Muslim Bajan berkulit hitam keturunan Kanada, saya terbilang istimewa.

Saya jelaskan kepadanya bahwa sebelum orangtua saya bertemu, mereka telah masuk Islam saat remaja. Mereka bertemu di Toronto, menikah dan membangun keluarga—begitulah cara saya dan para saudara lelaki saya lahir dan dibesarkan sebagai Muslim. Dia menjelaskan, ia dibesarkan oleh orangtua pemeluk agama Kristen, tetapi berhenti pergi ke gereja di masa remajanya. Meski tidak lagi ke gereja, dia mengatakan percaya kepada Tuhan. Akan tetapi, ia telah memendam sejumlah pertanyaan tentang agama Kristen yang dianutnya.

Sesekali ia menyebutkan kepada saya beberapa hal yang pernah didengarnya tentang Islam, yang keliru menggambarkan agama tersebut. Karena bukan tipe orang yang menolak diskusi yang sehat, saya pun menyampaikan pendapat saya. Dia juga melontarkan sejumlah pertanyaan tentang Nabi Muhammad SAW, Yesus dan Islam, serta beberapa bagian lain yang membedakan kedua agama tersebut.

Kepada saya dia mengatakan tidak pernah membaca Al-Quran namun ingin melakukannya. Jadi, ketika saya mengatakan akan pergi ke New York, dia meminta saya kembali dan membawakannya Quran yang telah diterjemahkan ke bahasa Inggris. Saya mengiyakan permintaanya, mengetahui inilah kesempatan baginya untuk mempelajari keindahan Islam melalui ayat-ayat Allah. Akan tetapi, pada saat itu saya belum benar-benar sadar bahwa ini pun bagian dari dakwah (menyebarkan ajaran Islam) kepada orang yang mencari cara kehidupan yang baru.

Quran itu dibacanya hampir setiap hari. Sekitar setahun kemudian, ayah saya menyaksikan dia mengucapkan dua kalimat syahadat di masjid setempat. Tak lama kemudian, kami pun menikah di Barbados dengan dihadiri keluarga Kristiani dan Muslim kami.

Cerita kami adalah satu dari jutaan kisah yang menggambarkan bagaimana Muslim dan mualaf menemukan cinta. Tentu saja, hal ini tidak terjadi dalam satu cara, dan setiap kisah adalah istimewa dalam konteks dan hasilnya. Tetapi, mengilas balik, saya sadar kami telah melakukan satu hal penting yang sangat membantu situasi kami: memperkenalkan calon suami ke Ayah saat dia masih mempelajari Islam.

Saya melakukannya bukan semata karena saya menyukainya, namun juga karena saya tahu mereka bisa saling memahami dalam cara yang tidak dapat saya lakukan. Selaku perempuan yang lahir sebagai Muslim, saya sadar ada beberapa aspek dalam Islam yang akan sulit bagi saya untuk menjelaskan kepadanya atau membuatnya paham. Sementara itu, pada usia 16 tahun di era 1970-an, Ayah juga beralih memeluk Islam di Barbados setelah mencari jawaban terhadap berbagai pertanyaan yang tidak dijelaskan di gereja.

Mereka menempuh perjalanan yang sama dan Ayah dapat menjadi mentornya sepanjang perjalanannya, yang sangat berharga bagi pertumbuhan spiritualnya.

Sering kali kami menghadapi asumsi suami saya beralih hanya karena ingin bersama saya. Meskipun benar awalnya ia belajar tentang Islam melalui percakapan dengan saya, pada akhirnya ia beralih karena keyakinannya sendiri—seperti jutaan mualaf lainnya.

Menyederhanakan perjalanan spiritual dan emosional yang melibatkan menerima agama baru dalam cara seperti itu tidaklah adil. Proses menjadi Muslim mensyaratkan perubahan fundamental dalam sistem keyakinan seseorang, pemahaman akan dunia, dan bahkan pemahaman seseorang akan Tuhan. Banyak orang yang beralih ke agama lain bersedia mempertaruhkan segala hal yang sudah mereka ketahui sebelumnya, untuk meneruskan pergulatan spiritual personal dengan harapan pada akhirnya mereka akan menemukan penyelesaian dan ketenteraman. Pindah agama harus didasarkan dari hubungan individu dengan Sang Pencipta dan bukan dengan yang lain.

Untuk pindah agama, hati mesti dibuka. Mungkin keterbukaan ini jualah yang memungkinkan kami menemukan cinta di tengah transformasinya. Yang saya yakini adalah Islam dan Al-Quran telah menyatukan kami. Anugerah ini lebih besar dari apa pun yang bisa saya harapkan saat bertukar sapaan dengan orang asing.

[i] Bajan adalah istilah setempat untuk menyebut Barbadian, atau orang dari Barbados.

Leave a Reply
<Modest Style