Modest Style

Menanti kehadiran bayi dalam pernikahan

,

Menjelang setahun pernikahannya, Fatimah Jackson-Best membahas tentang bagaimana memelihara hubungan di tengah tekanan untuk memiliki anak.

000_Nic561563-e1398653747887 (1)
“Kebanyakan masyarakat Muslim tidak mengajarkan pengantin baru bagaimana bertengkar dengan adil atau berkomunikasi secara efektif saat marah, sehingga mereka harus mempelajari banyak hal sendiri sepanjang jalan.” AFP Photo

Beberapa pekan lalu, seorang perempuan – yang namanya tidak dapat saya ingat – menghentikan saya di jalanan kota yang ramai dan dengan lantang bertanya kapan saya akan memiliki anak. Selama bertahun-tahun, saya telah terbiasa dengannya menanyakan kapan saya menikah, jadi hal ini mengejutkan saya. Saya menggumamkan balasan singkat dan mencari jalan untuk kabur.

Hal di atas hanya contoh kejadian di tempat umum dan dari orang asing. Di sela telepon jarak jauh kami setiap pekan, ibu saya mulai menanyakan kapan ia akan menjadi seorang nenek. Pertanyaannya dipicu oleh kedua saudara saya yang menyatakan tidak berniat memiliki anak, jadi kini saya merupakan harapan terakhirnya. Ia mengatakan ia akan menyisihkan seluruh waktu berliburnya untuk datang dari Toronto dan membantu saya di pekan-pekan awal kelahiran. Ibu saya, yang sama sekali tidak pernah menekan saya untuk menikah bahkan saat setiap orang di sekitar saya banyak yang menikah, sekarang memberi tekanan pada sistem reproduksi saya untuk bekerja – dan ini membuat saya gugup.

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dipermudah oleh teman-teman saya yang saat ini berada dalam masa “gila bayi”. Antara Januari dan Maret, tiga bayi lelaki lahir, dan satu lagi menyusul di bulan Mei ini. Dua di antara orangtua tersebut menikah beberapa bulan sebelum saya. Sementara mereka melahirkan untuk pertama dan kedua kalinya, saya hanya berusaha menyelesaikan kuliah dan terus mengenal suami saya.

Satu hal yang saya sadari di tahun pertama pernikahan ini adalah bahwa benar adanya saat orang mengatakan Anda tidak mengenal seseorang sebelum tinggal dan/atau menikah dengannya. Saya mengenal suami saya sebelum kami memutuskan serius untuk menikah, namun pada bulan-bulan awal tinggal bersama rasannya seakan kami adalah dua orang asing yang baru bertemu, menikah, dan pindah ke rumah yang sama.

Selama 12 bulan terakhir, mengetahui apa yang mengganggu satu sama lain dan bagaimana berinteraksi dengan cara yang konstruktif dan penuh kasih merupakan proses pembelajaran tanpa akhir. Saya tahu bahwa saya sangat penyabar, namun tidak selalu bagi pasangan saya, dan saya menyadari bahwa ia memiliki gaya komunikasi yang berbeda dengan gaya saya, yang dapat menyulitkan saat terjadi perselisihan.

Kebanyakan masyarakat Muslim tidak mengajarkan pengantin baru bagaimana bertengkar dengan adil atau berkomunikasi secara efektif saat marah, sehingga banyak pelajaran yang harus diambil sepanjang jalan. Meski begitu, kami tidak memiliki masalah dalam membicarakan masalah pribadi perihal kesuburan dan pernikahan, yang kadang terkesan aneh.

Kebanyakan hal yang saya ketahui saya pelajari dari meminta nasihat dari teman-teman dan para anggota keluarga yang telah menjalani pernikahan lebih lama dari saya. Namun tidak semua merasa nyaman menunjukkan citra kebahagiaan pernikahan yang kurang sempurna. Sebagai hasil dari pencitraan kesempurnaan tersebut, pasangan suami isteri mungkin saja terlihat sempurna di muka umum namun bergejolak di balik pintu tertutup.

Melalui kesendirian bersama suami, saya menyadari bahwa waktu yang kami miliki sekarang penting dalam menciptakan lingkungan yang pada akhirnya akan ideal untuk anak-anak – namun juga mendewasakan kami di saat ini. Memiliki hubungan yang penuh kasih dan rasa hormat bagi saya lebih penting daripada anak-anak yang baru akan lahir nanti. Mungkin terdengar egois, namun rasanya masuk akal bagi saya.

Semua pertanyaan tentang bayi dari teman, keluarga, dan orang asing juga telah menunjukkan pada saya bahwa akan selalu ada semacam tuntutan bagi kita. Jika Anda tidak berencana segera menikah, akan muncul pertanyaan tentang apa yang Anda cari dari seorang pasangan dan tuduhan bahwa Anda bersikap terlalu pemilih. Jika Anda bertunangan, akan muncul pertanyaan tentang waktu pernikahan karena pertunangan yang terlalu lama dianggap akan bermasalah. Setelah Anda bertukar cincin, setiap orang akan bertanya-tanya kapan Anda akan memiliki anak, dan saat Anda telah memiliki anak, mereka akan menanyakan kapan Anda akan memberikan adik untuk anak Anda.

Tuntutan-tuntutan ini, yang diberikan pada lelaki dan perempuan muda, tidak lebih penting daripada belajar membangun cinta untuk pasangan kita. Membina kedekatan, menjaga hasrat, dan memprioritaskan satu sama lain di tengah kehidupan yang sibuk adalah kemampuan yang dibutuhkan yang dapat menjaga pernikahan. Saya bertanya-tanya mengapa bukan hal-hal ini, melainkan masalah membuat anak, yang dijadikan tuntutan terhadap pasangan suami isteri.

Bayangkan jika orang-orang menanyakan apakah pasangan Anda memenuhi kebutuhan emosional Anda dan bukannya kapan Anda berdua akan memiliki anak. Hal tersebut akan mengubah perbincangan dan mengizinkan kita menikmati apa yang kita miliki sekarang dan bukannya apa yang diharapkan orang kita miliki suatu saat.

Saat ini, sementara saya menanggapi selintas tuntutan dan pertanyaan dari orang lain, saya hanya dapat terus berusaha sebaik mungkin bekerja sama menciptakan pernikahan yang sesuai dengan keinginan saya dan suami. Saya tidak tahu kapan anak itu akan hadir, namun saya harap saat ia datang, kami telah menyiapkan keluarga yang paling penuh kasih dan dukungan.

Leave a Reply
<Modest Style