Menghadapi kebangkitan Islamofobia

,

Kebencian anti-Muslim di satu belahan dunia akan berpengaruh pada seluruh umat Muslim, dan karenanya penting bagi kita untuk menjadi duta Islam yang baik dan anggota masyarakat yang berperan aktif. Oleh Fatimah Jackson-Best.

-
Anggota Himpunan Perlawanan Terhadap Islamofobia di Perancis membagikan kue Perancis di depan stasiun kereta. Thomas Samson/AFP

Barbados dan Australia terpisah ribuan mil jauhnya. Tetapi dalam beberapa pekan belakangan, umat Muslim di kedua negara ini sama-sama mengalami masa yang sulit. Di tengah campur tangan Australia dalam misi melawan ISIS dan terbongkarnya rencana tindakan teroris di sana oleh seorang pria Muslim muda, terjadi insiden perusakan masjid, gangguan fisik, dan serangan lisan terhadap umat Muslim di negara tersebut.

Tulisan “umat Muslim itu iblis dan tidak memiliki rasa hormat terhadap tradisi kita” dicoretkan di sebuah masjid di Brisbane. Seorang senator perempuan mengajukan pelarangan burka dan mengatakan pada parlemen bahwa orang-orang yang mendukung hukum syariah Islam adalah “manusia maniak dan tidak beradab”. Para pemimpin Muslim Australia telah meminta perdana menteri untuk menghentikan berbagai tindakan dan Islamofobia yang tidak terkendali, tetapi permintaan ini belum mendapat tanggapan maupun dukungan.

Bandingkan dengan pulau Karibia mungil bernama Barbados dan berita halaman depan di sana tentang pembangunan perumahan baru di pesisir barat yang mewah dan populer.[i] Di artikel tersebut, tiga pria Muslim keturunan India menyatakan bahwa sebuah pusat kegiatan dan masjid akan juga akan dibangun bersamaan dengan rumah-rumah di lokasi tersebut. Ceritanya akan jadi cerita biasa saja jika sang wartawan tidak salah menyebutkan bahwa pembangunan perumahan tersebut “eksklusif”. Hal ini mengesankan bahwa hanya umat Muslim yang boleh membeli properti dan tinggal di sana – tindakan yang akan menyisihkan banyak orang di negara mayoritas Kristen tersebut.

Masyarakat di Barbados tentunya tidak begitu saja menerima jika mereka dilarang tinggal di suatu tempat karena agama mereka. Reaksi masyarakat terhadap hal ini beragam, dan beberapa tanggapan memahami salah pemberitaan atas umat Muslim tersebut. Meski begitu, yang lain menyerukan berbagai tuduhan, yang makin mengeruhkan Islamofobia terkait pembangunan perumahan tersebut dan masyarakat Muslim.

Serupa dengan apa yang terjadi di Australia, beberapa orang dari kalangan masyarakat yang lebih luas menelan mentah-mentah bukti apapun yang mengindikasikan bahwa umat Muslim berniat tidak baik. Ketakutan akan ISIS memberi umpan rasa takut yang memuncak akan penyebaran hukum syariah di Barbados, dan para Muslimah juga (sebagaimana biasa) harus menerima getahnya saat berbagai komentar di koran lokal menyuarakan usulan agar pulau tersebut mengikuti langkah Perancis dan melarang mereka menutupi wajah dan kepala.

Kita harus secara rutin dan tekun terlibat dengan masyarakat yang lebih luas agar kita bisa mulai membentuk pemahaman yang lebih baik tentang umat Muslim dan Islam

Beberapa orang akan mengatakan bahwa informasi yang salah dan prasangka tentang Islam berdampak buruk bagi umat Muslim selama berpuluh-puluh tahun, dan bahwa 9/11 hanya memperburuk keadaan. Dengan adanya ISIS yang membajak Islam, rasanya seakan sekali lagi lensa mikroskop yang ada di atas masyarakat kita melanjutkan pengamatan atas keberadaan kita dengan amat teliti, hingga salah langkah seperti apapun akan menjadikan kita sebuah ancaman. Kebanyakan umat Muslim memahami realita ini, tetapi di Australia dan Barbados, kami seolah diingatkan kembali.

Sebagaimana Muslim di Australia, masyarakat Muslim Barbados juga terus melakukan tindakan pencegahan sebanyak mungkin. Tampil di acara televisi dan radio setempat dan terlibat dalam diskusi online serta di tempat-tempat umum lain juga sudah dilakukan. Saya membayangkan hal ini telah membuat masyarakat memikirkan ulang bagaimana Islam ditampilkan secara global dan bagaimana hal ini berdampak pada persepsi tentang mereka di Barbados.

Dalam sebuah acara televisi yang menghadirkan beberapa pria dari komunitas Muslim India, seseorang menelepon dan bertanya mengapa Muslimah tidak boleh memasuki kebanyakan masjid setempat. Pertanyaan ini sama sekali tidak berhubungan dengan pembangunan perumahan tersebut, tetapi tetap menunjukkan bahwa orang-orang bukannya tidak tahu masalah politik internal kita, dan mereka menggunakan pengetahuan ini untuk mendasari pendapat mereka tentang hubungan jender dalam Islam. Ini adalah sebuah kesempatan bagi umat Muslim di Barbados untuk melakukan hal yang tepat dan melawan patriarki dalam agama, mungkin dengan masjid baru di perumahan ini sebagai tempat ideal untuk memulai.

Sesulit apapun keadaan ini, umat Muslim di Barbados dan Australia harus terus bekerja mengubah narasi tentang umat kita. Untuk melakukannya, kita harus terlihat dalam masyarakat yang lebih luas setiap saat dan bukan hanya saat terjadi krisis. Seringkali, umat Muslim bersembunyi dan berdiam diri, padahal tidak butuh waktu lama hingga kedatangan Al Qaeda atau ISIS yang berikutnya kembali membahayakan kesejahteraan kita bersama.

Daripada bersikap reaktif, kita harus secara rutin dan tekun terlibat dengan masyarakat yang lebih luas agar kita bisa mulai membentuk pemahaman yang lebih baik tentang umat Muslim dan Islam. Kita harus berjuang menggapai titik di mana orang-orang langsung menyadari bahwa satu contoh buruk tidak mewakili keseluruhan Islam, dan kita bisa melakukan ini dengan menjadi anggota masyarakat yang berperan aktif dalam masyarakat yang lebih luas.

Keterlibatan kita melalui cara ini adalah bagian penting untuk mendorong munculnya perubahan sosial. Dan jika memang perubahan yang kita inginkan, maka kita harus bergerak dan membuat perubahan itu sendiri.
________________________________________

[i] http://www.nationnews.com/articles/view/muslim-project/

Leave a Reply
Aquila Klasik