Menaklukkan “Si Pendek” Gunung Guntur

,

Mendaki gunung di wilayah kota Garut ini ternyata lebih sulit dari yang diduga, tulis Cahya Meythasari.

[Not a valid template]

Kota Garut memiliki keindahan alam yang seolah tak berbatas. Selain Gunung Papandayan dan Cikuray yang sudah cukup dikenal di kawasan ini, masih ada satu lagi gunung indah yang terletak di dekat Garut: Gunung Guntur, atau biasa disebut warga setempat dengan Gunung Gede. Tidak terlalu banyak gunung yang dapat dikunjungi dalam jangka waktu dua hari di akhir pekan, terlebih jika lokasinya cukup jauh dari Jakarta. Jadi untuk perjalanan mendaki gunung kali ini, Gunung Guntur menjadi tujuan kami.

Berdasarkan hasil penelusuran singkat sebelum berangkat, saya mendapati bahwa gunung ini memiliki ciri khas yang cukup unik dibandingkan gunung-gunung lainnya di Garut. Kontur gunung ini kebanyakan berpasir dan berbatu serta hanya ditumbuhi rumput ilalang sabana yang cukup tinggi, bahkan sampai ke puncaknya.

Gunung Guntur terletak di Kampung Dukuh, Desa Pananjung, Kecamatan Tarogong Kaler, Kabupaten Garut. Ia adalah gunung api yang masih aktif, meskipun aktivitas vulkaniknya cenderung menurun. Padahal pada abad ke-18, gunung ini merupakan gunung berapi paling aktif di Kota Garut. Letusan terbesarnya terjadi pada tahun 1840.

Panorama Gunung Guntur sangat indah, hingga sebagian orang menganalogikan Gunung Guntur sebagai Gunung Rinjani-nya Kota Garut. Seperti kita ketahui, Gunung Rinjani adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Lombok. Selain medan pendakian yang menantang, Gunung Guntur juga kaya dengan pemandangan lembah, air terjun, sungai, kawah dan panorama alam lain.

Hari Jumat setelah pulang kantor, saya dan enam orang teman lainnya berkumpul di Kampung Rambutan dan langsung naik bus tujuan Garut dengan pemberhentian di pom bensin Tanjung, Garut. Masjid di sana menjadi titik kumpul pertama. Kami tiba pukul dua dini hari, sehingga perlu rasanya istirahat sejenak merebahkan badan setelah shalat dua rakaat untuk mengumpulkan tenaga.

Ketika jam menunjukkan pukul lima pagi, kami melakukan shalat subuh dan berkemas ulang. Setelah itu, kami pun siap untuk memulai perjalanan melalui gang sebelah pom bensin yang merupakan awal mula jalur pendakian.

Mulai mendaki: jangan sepelekan Gunung Guntur!

Dasar rejeki, baru berjalan kaki sedikit kami mendapat tebengan truk. Namun sebenarnya, nebeng truk mendaki Gunung Guntur adalah pilihan yang cukup berisiko. Jalur berpasir ke atas gunung yang berkelok dengan jurang di sisi kanan dan kiri membuat perut serasa dikocok. Lengah sedikit, tubuh pun bisa terlempar keluar dari truk. Tetapi karena tebengan ini dapat menghemat waktu dua jam dibandingkan dengan perjalanan kaki, kami pun mengambil risiko tersebut.

Banyak orang yang meremehkan Gunung Guntur yang ketinggiannya beberapa ratus meter lebih rendah dari Papandayan. Bagi saya yang saat itu baru saja sembuh dari demam selama tiga hari, rasanya mendaki gunung ini cukup untuk sekedar melepaskan rindu dengan tracking dan udara gunung. Tetapi, dugaan saya akan mudahnya mendaki gunung ini terpatahkan sesaat setelah saya tiba di kaki gunung.

Meski lelah mendaki, tetapi tetap gembira
Meski lelah mendaki, tetapi tetap gembira

Gunung Guntur memiliki kemiringan yang sangat curam dan material tanahnya berupa tanah pasir berbatu. Stabilitas tanah wilayah gunung ini tergolong labil dengan tingkat kelongsoran tanah yang tinggi. Hal ini diperparah dengan pengrusakan yang dilakukan oleh para penambang pasir ilegal di kaki gunung. Kawasan kaki gunung ini tandus sebagai akibat dari aktivitas penambangan pasir tersebut.

Ini adalah pendakian pertama ke Gunung Guntur bagi kami bertujuh, sehingga bermodal bismillah, kami menyusuri salah satu jalur pendakian yang telah ada. Padahal ternyata, ada dua jalur pendakian lain ke puncak Guntur, yaitu jalur Curug Citiis 1-3 yang cukup rindang. Sedangkan jalur yang kami lewati saya namai jalur “ikan asin” karena jalannya kering kerontang tanpa air, panas, dan pepohonan rindang di sana hanya bisa dihitung dengan jari – persis seperti proses pembuatan ikan asin!

Dalam perjalanan mendaki, masing-masing dari kami memiliki metode sendiri untuk menjaga diri agar tetap sanggup mendaki. Saya menerapkan sistem 10 banding 1: sepuluh kali mendaki dan satu kali berhenti agar nafas lebih panjang. Tetapi sayangnya jalur pasir membuat perjalanan lebih istimewa dan seru: setiap kami mendaki sepuluh langkah, kami lalu merosot lima langkah.

Di batas Curug Citiis 3 terletak sumber air terakhir, yang berarti pendakian akan semakin berat. Di sini kami mengambil air sebanyak-banyaknya agar dapat tetap bertahan hingga ke puncak. Jalur pendakian yang sulit ditambah beban stok berliter-liter air di gendongan membuat perjalanan semakin menantang.

Karena jumlah pohon rindang di jalur ini bisa dihitung dengan jari, setiap pohon rindang kami anggap sebagai pos untuk beristirahat sejenak. Bahkan kami rela berdesak-desakan dengan para pendaki lain yang juga sedang berteduh dan beristirahat, saking jarangnya pohon rindang di kawasan ini.

Semakin menuju puncak semakin curan juga perjalanan. Terkadang bahkan kami hampir harus mencium tanah, karena sudah tidak bisa membedakan lagi mana tanah untuk dipijak, mana tanah untuk berpegangan. Sistem 10:1 yang saya laksanakan akhirnya berubah menjadi 5:1 dengan paha dan betis yang nyut-nyutan di setiap langkah.

Setelah tujuh jam pendakian berlalu, tibalah saya di puncak gunung bersama dua rekan yang lain. Di situ kami tersadar, bahwa ada empat rekan kami yang belum sampai. Akhirnya karena perut sudah terasa sangat lapar, di bawah panas terik kami memasak empat bungkus mi instan, yang kemudian kami santap bersama tiga pendaki lain yang juga sedang menunggu rombongannya.

Menikmati pemandangan kota Garut dari atas gunung
Menikmati pemandangan kota Garut dari atas gunung

Rasa lelah sekejap berubah menjadi rasa syukur saat melihat panorama indah dari atas gunung. Kota Garut yang indah terlihat lebih indah dari atas. Subhanallah.

Beberapa jam kemudian, empat teman kami akhirnya tiba. Kami pun membangun tenda dan memasak untuk rekan-rekan kami yang baru tiba. Inilah satu nilai plus yang didapat dari hobi mendaki: persahabatan dan kerja sama tanpa pamrih.

Malam pun tiba. Di luar tenda para pendaki mengagumi pemandangan kota Garut yang sangat cantik di malam hari dengan cahaya-cahaya lampu bak bintang yang menghiasi Rasanua seperti sedang berada di tengah-tengah langit, dengan kemilau bintang dari atas dan kerlip cahaya lampu dari bawah. Namun sayangnya, badan saya kembali terasa sakit sehingga saya tidak dapat menikmati pemandangan tersebut. Padahal pemandangan inilah yang dinantikan semua pendaki Gunung Guntur.

Keesokan harinya kami baru sadar bahwa kami baru berada di puncak 1, puncak terendah dari gunung ini. Lebih terkejut lagi ketika kami menyadari bahwa ternyata Gunung Guntur punya empat puncak! Merasa tidak sanggup, saya memutuskan tidak meneruskan mendaki. Badan rasanya sudah amat pegal untuk tiba di titik ini!

Waktunya turun gunung!

Turun gunung dengan merosot
Turun gunung dengan merosot

Ternyata, menuruni Gunung Guntur tidak kalah sulitnya. Di Gunung Slamet, meski pendakian memakan waktu berjam-jam, perjalanan turun cuma sekitar dua jam. Di Gunung Guntur, jangankan berlari, merosot mengikuti kerikil saja sulit. Akhirnya saya turun dengan teknik merosot, hingga saat hampir sampai di bawah saya baru menyadari bahwa celana saya sobek di bagian belakang.

Setelah beberapa jam, akhirnya tibalah kami di bawah. Perjuangan “maha dahsyat” mendaki Gunung Guntur malah membuat saya rindu untuk mendaki gunung ini lagi, sesaat setelah tiba di kaki gunung. Suatu saat, saya pasti akan kembali.

Leave a Reply
Aquila Klasik