Modest Style

Menaikkan Standar bagi Panutan di Media

,

Mariam Sobh bertanya, apakah sudah saatnya menaikkan standar media, terutama saat generasi muda kita menganggap meniru artis dengan lirik lagu dan video vulgar sebagai kewajaran dan merupakan bagian dari budaya pop arus utama?

“Jika musik adalah makanan cinta, mainkanlah…”
“Jika musik adalah makanan cinta, mainkanlah…”

Setelah menikah dan pindah ke kota besar, saya kehilangan kontak sejenak dengan dunia budaya pop. Saya sibuk bekerja, dan saat tidak bekerja, saya menghabiskan waktu dengan suami saya.

Kami tidak memiliki mobil saat itu, jadi kami berjalan kaki ke mana-mana atau menumpang kendaraan umum, yang artinya saya tidak mendengarkan radio. Kami memiliki televisi, namun saya jarang memiliki waktu untuk menonton, kecuali saya sedang berada di pusat kebugaran.

Mungkin karena itulah saya merasa mulai keluar dari jalur kumpulan perempuan Muslim yang “lebih muda”.

Kali pertama saya menghadiri pesta dansa perempuan setelah menikah, saya menemukan kejutan besar.

Saat musik dimulai, saya bertanya-tanya apakah saya telah menjadi nenek, atau entah bagaimana saya telah terbawa oleh mesin waktu ke masa depan.

Lagu yang diputar mengejutkan saya. Musiknya memang catchy, namun liriknya-lah yang mengejutkan. Saat semua orang berjoget, anak-anak remaja perempuan berusia 12 dan 13 tahun menyanyikan lirik lagu tersebut secara lip sync.

Saya mempelajari liriknya dan pada dasarnya lagu tersebut bercerita tentang perempuan yang meminta seorang lelaki menelanjanginya karena ia ingin “memberi sesuatu” kepada lelaki itu.

Saya bukan orang kurang pergaulan yang tidak pernah mendengar musik berlirik tidak senonoh, namun pada saat itu ironis rasanya melihat perempuan Muslim bersantai dengan mendengar musik macam ini.

Tentu kita dapat beralasan bahwa kita tidak memiliki pilihan, dan bahwa mereka hanya bersenang-senang tanpa benar-benar memperhatikan makna kata-kata tersebut.

Namun ada banyak musik dengan lirik lebih baik yang enak dipakai berjoget, bahkan musik tanpa lirik sama sekali.

Namun yang sebenarnya mengganggu bagi saya adalah melihat semua ibu hanya duduk tanpa melakukan apa-apa. Saya bukan seorang yang suka merusak kesenangan, dan saya pasti akan merasa malu menjadi salah satu perempuan tersebut bila ibu saya datang untuk mematikan musik. Dan lagu tersebut memang lagu catchy yang mungkin saja saya gunakan untuk berolahraga.

Namun saya tetap merasa seharusnya ada semacam bimbingan bagi para perempuan muda ini.

Mungkin para ibu seharusnya membicarakan lirik dan maknanya, atau berusaha menerangkan kepada mereka mengapa perempuan merasa harus bertingkah laku seksual di setiap video musik dan lagu yang ada.

Lagu yang saya dengar saat itu mungkin terdengar lebih halus dibandingkan dengan apa yang disiarkan belakangan ini. Saya meringis saat menikmati sebuah lagu dan kemudian menyadari bahwa kata-katanya sangat mengerikan dan tidak akan berani saya nyanyikan dengan lantang.

Di saat-saat seperti itulah saya harus menyadarkan diri saya dan menyatakan, OK, saatnya mematikan sampah seperti itu. Dan saya pun mengakui terkadang hal tersebut sulit dilakukan karena iramanya sangat bagus.

Hal yang paling menyedihkan bagi saya bukanlah kenyataan bahwa kita diam-diam menikmati hal yang kita tahu tidak baik, namun kenyataan bahwa perempuan Muslim menyatakan di profil online mereka bahwa mereka mengagumi orang-orang yang menghasilkan musik macam ini.

Saat memulai perjalanan karir, mereka adalah udara segar, namun saat Anda terpengaruh oleh orang-orang tidak baik, juga narkoba dan alkohol…

Mereka mengidolakan artis perempuan yang secara aktif terlibat dalam perilaku merusak. Para perempuan ini bukanlah sosok yang saya ingin dicontoh oleh anak perempuan saya, dan percayalah, saya berusaha sebaik mungkin untuk tidak menyalakan radio saat mereka ada di mobil. (Artinya kami harus mendengarkan lagu-lagu Disney dan Maher Zain tanpa henti).

Saya sering bertanya-tanya apakah orang-orang melupakan fakta bahwa para artis perempuan ini menjadi pembicaraan karena aksi seksual di atas panggung, mempertontonkan bagian pribadi tubuhnya, atau terlibat dalam berbagai perilaku mencari perhatian lainnya.

Tidak diragukan, jika hanya membicarakan kemampuan bernyayi, para perempuan muda ini sangat berbakat. Saat memulai perjalanan karir, mereka adalah udara segar, namun tampaknya saat Anda terpengaruh oleh orang-orang tidak baik, juga narkoba dan alkohol, Anda sama sekali tidak memikirkan tindakan Anda. Dan saya akan menyatakan bahwa hal tersebut adalah hal menyedihkan yang sedang terjadi pada mereka saat ini.

Meski begitu, orang luar menganggap para perempuan ini “berani” dan “keren”. Bentuk pemberontakan hebat, bukan? Keren sekali berani melakukan berbagai hal tanpa memedulikan pendapat orang, bukan?

Menyedihkan melihat mereka menderita di bawah sorotan perhatian, dan tidak ada seorang pun yang peduli atau menyadarinya. Orang-orang terus membeli musik mereka, mendatangi pertunjukan mereka, dan mendukung perilaku mereka. Perempuan muda mengatakan yang dilakukan idola pop mereka adalah seni, dan kita pun membiarkannya. Lagipula, kita akan dicap terlalu menghakimi dan kuno bila tidak menyetujui pernyataan tersebut.

Saat saya menulis ini, saya berharap kita sebagai umat Muslim memiliki standar yang lebih tinggi saat berurusan dengan konsumsi media (termasuk diri saya, karena saya terkadang suka menikmati reality show).

Saya tahu banyaknya gambar dan pesan yang memberondong kita setiap harinya dapat membuat kita mudah merasa ingin mengalah dan menerima saja apa yang disajikan.

Kita tidak perlu menjadi orang yang membosankan dan meninggalkan industri hiburan sama sekali, namun saya percaya kita harus lebih selektif. Kita dapat bersenang-senang dan berpesta seperti orang lain.

Anak muda kita membutuhkan figur dunia hiburan yang positif untuk dicontoh bahkan jika mereka berasal dari latar belakang yang berbeda

Namun masalah muncul saat kita mulai membicarakan tentang “tokoh panutan” dan “kekaguman” pada orang-orang yang memiliki sangat sedikit kesamaan dengan kita.

Muncullah pertanyaan: apakah kita benar-benar memiliki standar?

Saya tidak berpikir kita butuh lebih banyak Maher Zain atau Yuna untuk bertahan dari gempuran pilihan hiburan yang tersedia. Pemuda kita membutuhkan figur dunia hiburan untuk dicontoh bahkan jika mereka berasal dari latar belakang berbeda, sehingga mereka tidak terjebak dalam pemikiran bahwa tidak ada masalah dengan mengagumi seseorang yang memiliki perilaku beresiko.

Menurut saya, solusinya adalah kita harus bekerja sama dengan orang dari berbagai latar belakang agama yang memiliki kesamaan misi yang juga ingin melihat hiburan yang lebih berkualitas dan tokoh panutan yang berkontribusi positif pada masyarakat.

Sebagai seseorang yang bergerak di industri hiburan, saya tahu bagaimana mudahnya terjebak dalam hal-hal yang dengan cepat berubah menjadi sesuatu yang tidak Anda harapkan, terlebih jika Anda adalah satu-satunya orang dengan keyakinan yang berbeda. Dan jika Anda tidak memiliki sistem pendukung yang membantu Anda tetap waras, Anda akan dengan mudah tersedot ke dalam hal-hal tersebut.

Saya harus mengatasi hal-hal ini sendiri dan tidak selalu berhasil. Percayalah, berat memang. Namun karena saya merasa penting untuk terlibat di dalam dunia hiburan arus utama, saya berusaha sebaik mungkin untuk melawan. Menurut saya, yang saya lakukan merupakan salah satu upaya kita dapat memasukkan pemikiran baru ke dalam industri ini; pemikiran yang menghargai kontribusi nyata untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik.

Mungkin dengan cara ini kita dapat menemukan tokoh panutan yang membantu dan bukannya merusak masyarakat.

Leave a Reply
<Modest Style