Modest Style

Mempersingkat Shalat Saat Dalam Perjalanan

,

Waktu shalat yang ketat disertai dengan banyak kelonggaran. Afia R Fitriati memberikan panduan ringkas untuk pengecualian  jama’ dan qasar yang tersedia bagi muslim yang sedang dalam perjalanan.

Image: Salam Stock
Image: Salam Stock

Banyak teman-teman non-muslim saya heran bagaimana saya bisa meluangkan waktu untuk shalat lima kali pada setiap hari. Sedangkan menurut pendapat saya, menyempatkan diri untuk shalat lebih merupakan masalah kemauan daripada waktu. Jika seseorang dapat menemukan waktu untuk membuka Facebook, mengirim status dan chatting, maka ia seharusnya dapat meluangkan lima menit untuk mengambil wudhu’ dan shalat.

Selain itu, Islam memberikan beberapa kemudahan untuk shalat dalam kondisi tertentu. Misalnya, seseorang yang tidak mampu untuk berdiri karena sakit diperbolehkan untuk shalat sambil duduk atau berbaring.[i] Orang yang bepergian juga mendapat kelonggaran dalam shalat mereka, dengan cara menggabungkan (jama’) dan memperpendek (qasar) shalat. Dasar-dasarnya diatur oleh Quran dalam ayat berikut:

“Dan apabila kamu bepergian di bumi, maka tidaklah berdosa kamu meng-qasar shalat…” (An-Nisa 4:101)

Berdasarkan pendapat sebagian besar ulama Sunni, berikut adalah pedoman umum untuk menggabungkan dan memperpendek shalat saat bepergian:

  • Shalat-shalat wajib yang dapat dikombinasikan adalah zuhur dengan ashar, maghrib dan dengan isya’.[ii] Subuh harus dilakukan dalam waktunya tersendiri (dari fajar sampai matahari terbit).
  • Shalat-shalat yang digabungkan dapat dilakukan baik dalam jangka waktu shalat yang lebih awal (misalnya zuhur dan ashar dilakukan berurutan sebelum waktu zuhur berakhir) atau waktu shalat yang belakangan (misalnya maghrib dan isya’berturut-turut sebelum waktu isya’ selesai).[iii]
  • Zuhur, ashar dan isya’ dapat dipersingkat dari masing-masing empat rakaat menjadi dua rakaat. Maghrib tetap tiga rakaat.
  • Secara singkat, orang yang melakukan perjalanan (musafir) hanya harus melakukan shalat tiga kali sehari: subuh (dua rakaat), zuhur dan ashar dilakukan bersamaan (dua rakaat masing-masing, antara waktu zuhur dan matahari terbenam) dan maghrib dan isya’ bersamaan (tiga rakaat diikuti oleh dua rakaat, antara matahari terbenam dan terbit fajar).[iv]

Kebanyakan ulama Sunni sepakat bahwa musafir dapat mempersingkat shalat mereka ketika bepergian dalam jarak lebih dari 90 km jauhnya dari rumah mereka. Mereka dapat terus melakukannya hingga empat hari, dan jika tidak berniat untuk tinggal di tempat tersebut.[v]

Di atas fleksibilitas ini, Nabi (saw) yang kita cintai juga menginstruksikan mereka yang memimpin shalat berjamaah untuk mempertimbangkan untuk mempercepat shalat ketika terdapat orang-orang yang lemah, sakit, dan jompo[vi] serta ibu-ibu dengan anak-anak kecil[vii] menjadi jemaah shalat (makmum) mereka.

Kelonggaran ini membantu umat Islam untuk merasa mudah untuk terus melatih shalat yang merupakan rukun Islam kedua ini. Allah ingin kita mengingat-Nya kapan saja dan sebagai imbalannya, ia akan mengingat kita dan membantu kita dalam kehidupan ini dan seterusnya (2:152).

[i]Diriwayatkan oleh ‘Imran bin Husain, dalam Bukhari, tersedia di sini
[ii]Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, dalam Bukhari, tersedia di sini
[iii]Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, dalam Bukhari, tersedia di sini
[iv]Diriwayatkan oleh Az-Zuhri, dalam Bukhari, tersedia di sini
[v]Diriwayatkan oleh Ibnu ‘ Abbas, dalam Bukhari, tersedia di sini
[vi]Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dalam Bukhari, tersedia di sini
[vii]Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, di Tirmidzi, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style