Modest Style

Memperkenalkan Tugas Rumah Tangga kepada Anak

,

Afia R Fitriati berbagi trik untuk menyulap tugas-tugas rumah tangga menjadi proyek edukasi yang menyenangkan bagi anak-anak.

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Sebagai ibu yang sibuk, saya membutuhkan setiap bantuan yang dapat ditawarkan orang-orang di sekitar saya — termasuk dari putra saya. Di usia empat tahun, jagoan saya ini sudah terbiasa membantu saya membereskan mainannya, menemani saya berbelanja bahan makanan, bahkan memasak. Saya sadar, sebenarnya tidak sulit mengajari anak kecil untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga karena secara alami mereka senang membantu. Yang perlu dilakukan orangtua adalah  menggiring mereka ke arah yang tepat.

1.       Memberi contoh

Karena anak menganggap apa yang dilakukan orangtua mereka sebagai hal paling keren di dunia, penting bagi orangtua untuk mencontohkan sikap yang tepat dalam hal tugas-tugas rumah tangga. Dalam beberapa rumah tangga, urusan domestik dianggap sebagai tanggung jawab perempuan. Di rumah tangga lain, tugas-tugas ini dianggap sebagai wilayah asisten rumah tangga. Saya pernah melihat sebuah keluarga yang sangat bergantung pada asisten mereka, bahkan untuk tugas paling sederhana sekalipun. Maka tidak mengherankan saya jika anak-anak di keluarga itu bahkan tidak mau repot-repot menyingkirkan pakaian kotor mereka.

Di sisi lain, saya pikir salah satu alasan utama kenapa putra saya begitu sigap dalam urusan membantu di rumah adalah karena dia melihat kedua orangtuanya bekerja sama dalam melakukannya setiap hari. Oleh karena itu, membersihkan rumah dan saling membantu menjadi hal yang alami baginya.

Bahkan bila Anda memiliki asisten rumah tangga yang membantu Anda mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, ada baiknya membiarkan tangan Anda kotor (secara harfiah) sewaktu-waktu untuk menunjukkan kepada anak Anda bahwa menggosok lantai atau mencuci piring adalah tugas-tugas normal yang seharusnya bisa dilakukan semua orang.

2.       Jadikan waktu mengerjakan tugas = waktu bermain

Awali perkenalan terhadap tugas rumah tangga pada anak-anak dengan melibatkan mereka dalam tugas-tugas sederhana yang dapat mereka selesaikan dengan cukup mudah. Pastikan pula tugas itu menyenangkan!

Saat tiba waktu untuk membereskan mainannya, saya menciptakan perlombaan ‘siapa yang bisa memasukkan balok paling cepat’  yang sederhana dengan putra saya dan membiarkannya keluar sebagai pemenang. Hadiahnya? Dia sama gembiranya menerima pelukan dari mama dengan memenangkan piala!

3.       Jangan berharap terlalu tinggi

Dengan anak kecil, kemungkinan besar Anda akan mendapatkan lebih banyak kekacauan ketimbang kerapian saat bersih-bersih atau membutuhkan waktu dua kali lebih lama untuk memasak. Bersabarlah. Begitu kemampuan koordinasi mereka meningkat, mereka akan melakukannya dengan lebih baik dan lebih hebat dalam mengerjakan tugas mereka. Usahakan untuk tidak marah-marah karena sekali Anda melakukannya, lain kali mereka akan enggan untuk membantu lagi.

4.       Jangan pelit pujian

Sebelum tidur, saya selalu berterima kasih kepada anak saya dan memberitahunya betapa saya menghargai bantuannya dalam menjaga kebersihan rumah. Saya juga mengatakan kepadanya bahwa Nabi Muhammad SAW pun senang membantu di rumah, dan anak-anak yang gemar membantu adalah teman-teman Nabi. Pujian seperti itu terbukti menjadi motivasi baginya untuk lebih rajin membantu di hari berikutnya.

Putra saya mengawali tugasnya sebagai asisten dapur dengan menolong saya menuangkan beras ke dalam rice cooker dan mengatur telur di dalam kulkas. Belakangan ini, saya dapat memercayainya untuk menjaga kerapian area bermainnya serta membantu saya mengganti seprai. Sangat menyenangkan melihat dia lebih mandiri dan bertanggung jawab sekaligus meningkatkan kemampuan motoriknya. Secara tidak langsung, mengerjakan tugas rumah tangga pun memberinya pelajaran tentang kesetaraan gender dan makna pekerjaan kasar.

Saya kira Anda akan setuju dengan saya bahwa tidak pernah ada kata terlalu dini bagi setiap orang untuk mempelajari hal-hal ini!

Leave a Reply
<Modest Style