Modest Style

Memperbaiki Shalat di Tahun Baru Islam

,

Karena manfaat shalat dapat kita rasakan di masa-masa yang paling sulit, tulis Afia R Fitriati.

Foto: Dreamstime
Foto: Dreamstime

Ada periode di masa remaja di mana saya mempertanyakan tujuan shalat. Saya tidak sepenuhnya paham kenapa saya harus meluangkan waktu untuk berhenti menonton acara TV favorit untuk menunduk dan bersujud (kecuali demi menghindari kemarahan orangtua).

Pemahaman saya akan faedah shalat datang setelah saya mengalami beberapa cobaan dan terpaksa menyadari bahwa saya betul-betul tidak memiliki apa pun atau siapa pun untuk diandalkan di masa-masa sulit seperti ini kecuali Allah. Saya mulai lebih memerhatikan ibadah shalat harian saya, dan saat melakukannya, saya mulai mengerti mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk shalat setidaknya lima waktu dalam sehari.

1. Prioritas, prioritas

Manusia hanya bisa hidup selama beberapa tahun. Jika dipikir-pikir, pohon cemara di belakang rumah mungkin mempunyai masa hidup yang lebih panjang daripada saya. Supaya bisa menjalani kehidupan yang terbatas ini dengan cara yang efektif, kita memerlukan keterampilan yang andal dalam menentukan skala prioritas.

Shalat adalah latihan harian untuk mendisiplinkan pikiran supaya fokus terhadap apa yang seharusnya menjadi prioritas kita: menjadi manusia terpuji, melakukan yang terbaik dalam kehidupan sehari-hari, serta mencari bekal untuk akhirat nanti.

Saya merasa, dengan meluangkan waktu di tengah aktivitas untuk melaksanakan shalat, saya mampu menjauhi “prahara” kehidupan sejenak dan menyadari letak persoalan utamanya. Saya dapat meletakkan segala sesuatu dalam perspektif yang seimbang serta kembali melakukan berbagai tugas dengan pikiran lebih jernih dan sikap positif karena saya tahu, Tuhan tidak akan menguji saya di luar batas kemampuan saya (2:286).

2. Gerakan dan kepasrahan menangkal keputusasaan

Ada saat-saat di mana saya begitu tertekan sehingga otak saya seperti diselimuti emosi terpendam. Tetapi, begitu mengambil wudhu dan shalat, tindakan sesederhana mencipratkan air ke tubuh, berdiri, rukuk dan bersujud, sedikit demi sedikit berhasil menghilangkan stres yang tersembunyi.

Saat meletakkan kepala ke lantai—posisi paling penuh kepasrahan yang bisa dilakukan manusia—kepala saya cenderung terasa lebih ringan dan hati saya lebih tenang. Saya memasrahkan diri dan masalah saya kepada Yang Mahakuasa. Entah bagaimana saya tahu, segala problem saya akan terurai dengan sendirinya.

Beberapa pakar motivasi memberi tahu kita bahwa bergerak adalah penangkal keputusasaan. Namun, gerakan yang tanpa arah tidak akan menyelesaikan persoalan. Shalat, dengan jadwal dan gerakannya yang presisi, dapat bertindak sebagai sarana untuk mengusir keputusasaan atau berbagai perasaan negatif lainnya.

Di akhir shalat, kita diberi kesempatan untuk menegaskan kembali kepasrahan kita kepada Tuhan dan meminta bantuan-Nya dalam memecahkan berbagai masalah. Menurut pendapat saya, unsur gerak-gerik dan kepasrahan inilah yang menjadikan shalat paket lengkap dalam menangkal stres dan perasaan putus asa.

3. Pertolongan itu dekat… amat dekat

Suatu hari, saya sadar tidak seorang pun yang dapat mendengar permohonan yang saya panjatkan dalam salat kecuali Yang Maha Mendengar. Hal ini mengingatkan saya bahwa Allah lebih dekat daripada urat leher saya (50:16) dan saya bisa memanggil-Nya setiap detik.

Meski demikian, saat menjalani menit dan jam keseharian saya, pikiran yang menenangkan ini lagi-lagi cenderung terlupakan. Meluangkan waktu untuk menunaikan shalat di waktu yang berbeda setiap hari memberi saya kesempatan untuk diingatkan bahwa Tuhan, satu-satunya penyelamat utama saya, berada begitu dekat.

Dalam mengawali tahun baru dalam kalender Islam ini, harapan saya untuk diri sendiri adalah menjadi Muslim yang lebih baik di planet ini dengan batas usia yang saya miliki. Salah satu cara dengan mana saya harap bisa mencapainya adalah dengan terus-menerus meningkatkan ibadah shalat dan memahami ritual ini.

Tentu saja, hal ini tidaklah selalu mudah. Di dalamnya terletak berbagai ujian untuk Muslim sejati, seperti yang tertulis dalam Quran:

  “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk
(Al Baqarah 2:45)

Leave a Reply
<Modest Style