Modest Style

Membingkai Kedamaian dalam Heningnya Alam

,

Tuhan ada di setiap wujud yang Sya Taha temui – terutama pada hal-hal kecil.

2302-WP-Sya-Shooting-02

Tujuh tahun lampau saya bermukim selama satu tahun lamanya di Perancis bagian tenggara, di sebuah kota yang indah terletak di sebuah lembah dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang terjal. Saat ibu saya melihat foto-foto yang saya unggah di halaman akun Facebook yang baru saya buat, ia berkomentar, ‘Di Perancis tidak terlalu banyak orang rupanya, ya?’

Saya bingung, kemudian memperhatikan foto-foto saya. Tanpa maksud apa pun, saya hanya mengabadikan gunung-gunung, danau, hamparan bunga, dan hutan – tanpa seorang pun yang terlihat di dalamnya.

Saya rasa itulah awal dari hobi favorit yang kini batasnya tipis sekali dengan obsesi:  berburu objek foto alam, menelisik tempat-tempat yang kadangkala ilegal, dan menangkap momen dan hal yang kadang terlewatkan.

Di Singapura, saya berhasil mengajak seorang kawan sebagai rekan ‘persekongkolan’. Saat itu, saya sedang menjadi relawan di tempat kerjanya, di sebuah masjid. Beberapa kali dalam seminggu, saya akan menumpang sebuah bus dari rumah menuju masjid. Di tengah perjalanan sepanjang 45 menit, sepetak lahan liar sepanjang jalan raya sebelah timur laut senantiasa mencuri perhatian saya: pohon-pohon mati yang menjulang, tertutupi oleh tanaman rambat mikania, dilingkupi rumput liar yang lebat.

Di suatu Minggu, kami turun dari bus di pemberhentian yang kami perkirakan terdekat dengan lokasi tujuan di area tersebut. Tanpa kompas (maupun pemahaman arah, untuk mencapai lokasi), kami menuju ke arah di mana sepetak lahan dengan tumbuhan lebat itu berada.

Lima menit berjalan bertualang, saya tersentak, dikejutkan oleh seekor ular rumput. Setelah melintasi lahan kecil yang kering dan berpasir, kami mengikuti sebuah kanal irigasi menuju bagian hutan yang lebih lebat. Akhirnya, kami menemukan surga di dunia (paling tidak sebelum suara deru truk yang melintas – area ini memang cukup dekat dengan jalan raya).

Sebenarnya, ini adalah sebuah area rindang yang diselimuti oleh daun klover (mirip semanggi) berwarna hijau lembut serupa giok. Batang pepohonan mati yang berwarna gelap menjadi penapis teriknya sinar matahari siang hari, menyajikan pemandangan yang redup dan lembut.

[Not a valid template]

Terdapat banyak ayat dalam Al Quran yang menyeru kepada manusia untuk mencermati fenomena alam dan merenungkannya sebagai tanda-tanda dari Tuhan. Silih bergantinya malam dan siang (2:1643:1906:9610:616:12) dan bagaimana hujan menyirami tumbuhan yang kemudian menghasilkan buah-buahan yang bisa dimakan manusia dan binatang (2:226:9910:2413:4) hanyalah dua contoh betapa kita memiliki banyak kesempatan untuk mensyukuri ciptaan Tuhan.

Petualangan itu adalah yang pertama dari sekian penjelajahan ke sudut-sudut lahan yang belum tergarap di Singapura. Kini, tak ada yang saya cintai lebih dari menenteng kamera saat berjalan-jalan atau bersepeda, berhenti sesekali untuk mengabadikan kuncup dan tangkai bunga yang memikat. Di musim gugur tahun lalu, saya dan suami melakukan perjalanan dua jam yang spesial ke timur Belanda hanya untuk mendaki sebuah hutan yang dikenal dengan sebutan jalur herfstwandeling (perjalanan musim gugur).

Saya memang tidak sering bangun di tengah malam untuk ibadah sunnah, dan saya merasa tidak tergabung dalam komunitas muslim mana pun. Namun dengan melakukan perjalanan jauh dan menikmati fenomena alam yang fana (saya menyebutnya sebagai ‘momen subhanallah’), saya bisa melatih cara pribadi saya dalam mensyukuri ciptaan Tuhan. Dan saya sangat bahagia bisa memuja Tuhan dengan cara seperti ini.

William Blake, dalam Auguries of Innocence, menyampaikannya lebih baik daripada saya:

Menatap dunia pada butiran pasir (To see a world in a grain of sand)
Dan surga pada sekuntum bunga liar (And a heaven in a wild flower)
Menggenggam kekekalan dalam telapak tangan (Hold infinity in the palm of your hand)
Dan keabadian dalam waktu sepenggalan (And eternity in an hour).’

Kini, ibu saya masih menanyakan pertanyaan yang sama – meski sekarang sedikit berbeda.

‘Di Belanda, tidak terlalu banyak orang rupanya, ya?’

Leave a Reply
<Modest Style