Modest Style

Melawan Sikap Diam yang Mematikan dalam KDRT

,

Apa yang terjadi ketika Al-Quran digunakan untuk melegitimasi kekerasan terhadap perempuan? Fatimah Jackson-Best membahas mengapa hal ini tidak dapat diterima.

(Gambar: SXC)
(Gambar: SXC)

Saya baru-baru ini melakukan percakapan online dengan seorang pria muslim yang telah membaca artikel saya tentang kepemimpinan perempuan yang saya kirim ke grup Facebook yang dijalankan oleh sekelompok muslim. Percakapan itu berjalan cukup lancar sampai ia menulis, “Nada artikel ini agak revolusioner, dan revolusi bukan berasal dari Islam. [ … ] Wahai kaum pria, ketahui batas Anda. Jangan memukul wanita lebih dari yang diperbolehkan (menjentik ringan di tangan dengan miswak)”.

Saya terperangah pada upayanya dalam menggunakan Quran untuk melegitimasi segala jenis kekerasan terhadap perempuan. Ketika saya meminta penjelasannya akan hal ini, ia buru-buru mengatakan bahwa ia menentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), jadi saya hanya bisa berasumsi bahwa ia percaya memukul seorang wanita dengan miswak (ranting kecil yang secara tradisional digunakan di Timur Tengah sampai Asia Tenggara untuk menyikat gigi) sebagai di luar batas-batas kekerasan.

Beberapa hari kemudian, saya masih memikirkan percakapan ini dan pertanyaan-pertanyaan besar yang kemudian timbul dalam diri saya. Salah satunya adalah tentang sikap diam – hanya satu orang pada halaman Facebook yang angkat bicara untuk mengatakan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun terhadap perempuan adalah salah. Hanya satu orang.

Saya tidak yakin apakah para pembaca lain merasa bukan urusan mereka untuk ikut campur, tapi saya dapat mengatakan dengan keyakinan bahwa dalam hal kekerasan dalam rumah tangga, sikap diam bisa mematikan. Sekitar seminggu sebelum diskusi online ini, seorang wanita di Barbados dibunuh oleh pasangannya di tempat parkir yang tepat bersebelahan dengan kantor polisi. Saya bertanya-tanya bagaimana mungkin tidak ada yang mendengar jeritannya dan datang menolongnya.

Beberapa hari yang lalu, seorang wanita muda dibunuh secara brutal oleh pacarnya di rumahnya. Sekali lagi, saya merenungkan apakah tetangganya mendengar suatu pertengkaran dan mengapa tidak ada yang mencoba untuk memanggil polisi. Apakah orang-orang begitu khawatir akan melanggar privasi sehingga kita menjadi tuli terhadap tangisan perempuan yang diserang dan dibunuh oleh pasangan mereka di rumah mereka sendiri dan di tempat umum?

Ada pertanyaan lain yang jauh lebih besar dan lebih kompleks sebagai akibat dari interaksi di Facebook ini. Apakah orang-orang diam karena sebagian muslim benar-benar percaya bahwa merupakan hak seorang muslim untuk memukul istrinya? Ketika orang ini menulis jawabannya, ia langsung mencantumkan tautan ke sebuah ayat Al-Quran yang menyatakan:

Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri) karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas  sebagian yang lain (istri) dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-perempuan yang saleh, adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga mereka. Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur, dan (kalau perlu) pukullah mereka  (4:34).

Ayat dalam Al-Quran ini mungkin salah satu yang paling sulit untuk didiskusikan. Mungkin orang-orang muslim pada halaman Facebook ini merasa tak pantas mempertanyakan Quran, walaupun mereka sendiri mengklaim menentang kekerasan dalam rumah tangga dan merundung pasangan. Tapi di luar sikap diam mereka, kita masih terbelakang dalam hal interpretasi ayat ini dan kenyataan bahwa sebagian laki-laki (dan sebagian wanita) menggunakannya untuk melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Jadi apa yang harus kita lakukan dan bagaimana kita sebagai muslim dapat menghadapi isu ini secara langsung dan terbuka?

Saya tidak bermaksud untuk menawarkan jawabannya, tapi saya dapat melihat banyak contoh dari para pemimpin dalam masyarakat kita untuk mendapat bimbingan. Salah satu suara yang paling tajam tentang topik ini berasal dari Dr Asma Barlas: seorang wanita muslim, peneliti, dan akademisi, dan salah satu dari sedikit orang yang telah dikonfrontasi dan diinterogasi mengenai penafsiran dan penggunaan ayat ini.

Dalam analisisnya, dia menulis bahwa kata idhribuhunna berasal dari akar kata bahasa Arab dharaba yang memiliki beberapa arti, termasuk “memukul” dan “meninggalkan”. Dia menunjukkan bahwa definisi pertama lebih banyak dipilih oleh para penafsir Al-Quran yang kebetulan didominasi laki-laki. Baginya, hal ini lebih berkaitan dengan mempertahankan patriarki dan dominasi laki-laki daripada keakuratan bahasa.[i] Dr Asma menunjukkan kepada kita bahwa terjemahan harfiah tidak tepat di sini, dan bahwa konteks dan pendidikan sangat penting dalam rangka menangani bagian-bagian yang paling kontroversial dan sulit dalam agama kita ini.

Selain itu, banyak pemimpin dan ulama Islam telah berbicara menentang kekerasan terhadap perempuan, dan banyak yang menunjukkan bahwa Nabi (saw) tidak pernah memukul istri-istrinya dan beliau adalah teladan terbaik. [ii] Kita juga melihat kampanye-kampanye seperti  Muslims for White Ribbon, prakarsa akar rumput yang bekerja untuk mengakhiri kekerasan terhadap perempuan. Contoh-contoh ini mengirimkan pesan yang jelas kepada umat Islam bahwa kita tidak bisa memaafkan kekerasan terhadap perempuan dalam situasi apa pun – termasuk penggunaan benda kecil atau besar.

Di atas semuanya, kita masih memiliki jalan yang sangat panjang untuk ditempuh, dan banyak sikap diam untuk diatasi. Daripada menjelaskan tentang bagian-bagian kontroversial atau menjadikan mereka lebih penting dari yang sebenarnya, lebih penting bagi kita untuk mempelajari diskusi ini lebih dalam untuk pertumbuhan rohani kolektif dan pribadi kita.
________________________________________
[i]  Asma Barlas, ‘Masih Bertengkar soal Quran: Lima Tesis tentang Interpretasi dan Otoritas’, ISIM Conference, Amsterdam, 24 Jun 2007, tersedia di sini
[ii] Khuram, ‘Ulama Muslim tentang Kekerasan oleh Pasangan’, 22 Okt 2010, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style