Modest Style

Mengalahkan kendala bahasa

,

Petualangan mempelajari bahasa baru menunjukkan pada Sya Taha bahwa bertemu dengan orang asing belum tentu berpengaruh pada kemajuan bahasa kita.

Gambar: Pixabay
Gambar: Pixabay

Saat ini, saya terpaksa tinggal di Belanda. Saya tidak pindah ke sini karena mencintai bahasa atau budayanya. Setelah tiga setengah tahun, saya dapat memahami hampir semua yang dikatakan orang-orang, namun karena belum pernah (baca: tidak mampu) mengikuti pelajaran formal dan tidak terlalu menyukai bahasanya, bahasa Belanda mengharuskan saya mengaktivasi seluruh bagian lain dari otak saya.

Mempelajari bahasa baru, atau lebih tepatnya bahasa-bahasa Eropa, bukan masalah bagi saya. Saya bertahan mengikuti kelas bahasa Perancis di sekolah menengah sampai akhirnya saya menyadari bahwa saya suka berbicara bahasa Perancis saat ikut serta dalam sebuah program pembelajaran di sebuah kota Perancis yang santai (dan kemudian, belajar di sana selama setahun). Saya masih berbicara bahasa Perancis dengan baik dan berusaha tidak kehilangan kemampuan saya dengan menonton film-film Perancis. Dan karena saya telah berbicara bahasa Inggris karena lahir dan besar di negara bekas jajahan Inggris, menurut saya menguasai dua bahasa penjajah saja sudah cukup, terima kasih.

Masalahnya, berbicara bahasa Belanda di Belanda itu… tidak perlu. Kebanyakan orang di kota-kota besar berbicara bahasa Inggris dengan baik, yang mana cukup jika Anda hanya ingin berbelanja kebutuhan bulanan di supermarket, atau bepergian menggunakan transportasi umum.

Namun ada standar ganda soal berbicara bahasa setempat. Jika Anda orang Kaukasia atau Eropa, Anda tidak diminta berbahasa Belanda. Hukum yang memungkinkan pergerakan bebas di Uni Eropa juga bermakna bahwa bagi orang Eropa, mempelajari bahasa Belanda bersifat sukarela. Namun, saya yang penduduk tetap non-Eropa wajib mengikuti ujian bahasa dalam dua tahun ke depan atau beresiko didenda besar.

Di sini, ada dua jenis orang yang biasanya langsung dianggap sebagai orang Belanda: Putih atau cokelat (berkat latar belakang sejarah kolonial). Karena penampilan saya tampak seperti orang Jawa atau Indonesia, saya sering dikira orang Belanda. Banyak orang Belanda yang memiliki nenek atau nenek buyut yang berasal dari bekas negara jajahan. Para perempuan ini sering berusaha beradaptasi penuh dengan mempelajari bahasa dan cara hidup setempat.

Di satu titik, saya memilih untuk melakukan hal tersebut dengan memaksa diri saya berbicara dan mendengar bahasa Belanda. Saya memutuskan untuk memulainya melalui sebuah kelompok yoga pra-kehamilah yang baru saya ikuti. Saya pikir saya akan baik-baik saja karena saya memahami kebanyakan kata yang berhubungan dengan pergerakan dan bagian tubuh. Lagipula, ini merupakan kesempatan yang baik untuk mempelajari kosa kata yang berguna dalam kehamilan dan kelahiran.

Ternyata, masa tersebut menjadi 10 pekan yang penuh kesendirian. Meski saya berusaha sebaik mungkin untuk sedikit-sedikit berbahasa Belanda dengan para pelatih dan peserta yoga, saya tidak pernah benar-benar membangun pertemanan dengan ibu-ibu lainnya. Mungkin itu terjadi karena perbedaan usia: Kebanyakan mereka beusia 30-an tahun, dan beberapa berusia 40-an. Mungkin karena perbedaan tempat tinggal: Mereka tinggal di pinggir kota sementara saya di kota. Atau mungkin hanya karena saya satu-satunya orang bukan kulit putih di sana.

Pengalaman saya di kelas Pilates pasca kehamilah yang sedang saya ikuti sangat berbeda. Kelas ini diadakan di sebuah studio kecil dan nyaman tidak jauh dari tempat saya tinggal dan dikelola oleh seorang perempuan Inggris serta dihadiri oleh banyak orang berbahasa Inggris (meski kebanyakan pelatihnya orang Belanda). Saya mengambil dua kelas berbeda, dan kedua pelatihnya sengaja membawakan kelas dengan campuran bahsa Belanda dan Inggris untuk memastikan saya dapat mengikuti pelajaran.

Saya juga memiliki beberapa teman dekat di sini – perubahan besar dari usaha kikuk saya membuka pembicaraan di kelas yoga sebelumnya. Entah karena perempuan menjadi lebih simpatik saat sama-sama mendapat pengalaman yang buruk di rumah sakit, atau karena mereka memang sekelompok perempuan yang lebih ramah, saya belum pernah harus berbahasa Belanda di sini. (Lagipula, alasan gampang saya adalah otak saya terlalu kurang istirahat untuk membentuk sebuah kalimat karena harus mengurus bayi)

Saya kemudian menyadari bahwa ini bukanlah tentang bahasa yang kita gunakan, namun niat kita mengenal orang lain. Kini jika seseorang berbicara dalam bahasa Belanda pada saya, saya tidak lagi merasakan keharusan membalas dalam bahasa yang sama untuk membuktikan bahwa saya adalah “pendatang” yang baik. Saya merasa senang berbicara dalam bahasa yang paling membuat saya nyaman karena yang lebih penting adalah usaha kita untuk berkomunikasi, dan bukan bahasa yang kita gunakan untuk berkomunikasi.

Leave a Reply
<Modest Style