Modest Style

“Mama-morfosa”: Dari Teman Sekolah Hingga Menjadi Ibu

,

Afia R Fitriati mengingat-ingat perubahan yang telah dialaminya dan teman-temannya, mulai dari perubahan ukuran pinggul sampai cara berpakaian.

WP-highschool-chumps-Dreamstime
Gambar oleh Dreamstime

Kebanyakan orang yang masih berhubungan dengan saya lewat Facebook adalah teman-teman semasa SMA — lebih tepatnya lagi, teman-teman perempuan. Di usia 30an, banyak dari mereka sudah menikah dan memiliki anak. Kalau dipikir-pikir, mengagumkan sekali dapat menyaksikan orang-orang ini di masa-masa kejayaan muda mereka sampai sekarang setelah mereka menjadi ibu dari satu, tiga, bahkan lima anak!

Dalam berbagai hal, mereka masih teman-teman yang sama dengan kepribadian yang sama. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi ibu mengubah beberapa hal dalam diri kita. Jika Anda telah menjalani masa transisi dari masa lajang mejadi seorang ibu, Anda mungkin familiar dengan perubahan-perubahan ini.

1. Ukuran tubuh (cukup jelas ‘kan?)

Zaman sekolah dulu (17 tahun lalu! Wow!), tidak masalah membanding-bandingkan ukuran pinggul saat jam istirahat. Sekarang kita tidak lagi membicarakan hal ini saat reuni karena… yah… Anda tahulah.

2. Tidak berhenti membicarakan anak

Meski teman-teman yang masih lajang atau yang sudah menikah namun belum memiliki anak mungkin akan mencibir, kita tetap tidak dapat berhenti membicarakan anak kita! Tidak aneh, mengingat mereka adalah pusat kehidupan kita sekarang.

3. Ponsel: Cinta tapi benci

Kita menganggap ponsel kita adalah hadiah dari Tuhan yang memungkinkan kita terus hidup dan tetap terhubung dengan dunia di luar rumah kita, namun kadang kita juga membencinya. Saya akan memberitahu Anda kenapa.

Suatu hari, saya sedang belanja kebutuhan bulanan dengan anak saya. Ia mulai merengek karena merasa tidak nyaman berada di tengah-tengah keramaian pasar yang penuh dengan pembeli berkeringat. Sementara itu, saya sedang membawa empat ratus kantong belanja dengan dua tangan yang pegal.

Tiba-tiba ponsel saya berbunyi.

Untungnya, saya masih cukup waras dan tidak langsung melempar telepon saya ke tong sampah. Sialnya, si penelepon – yang kebetulan tidak memiliki anak – belakangan mengatakan kepada saya bahwa ia merasa tersinggung karena saya tidak mengangkat teleponnya padahal ia ingin membicarakan hal yang sangat penting.

Saya hampir saja meng-“unfriend” dia.

Siapapun yang membaca tulisan ini, harap catat: jika Anda menghubungi seorang ibu yang sibuk dan telepon Anda tidak diangkat, matikan telepon Anda dan cobalah menghubunginya kira-kira, yah, lima tahun lagi.

Saya sudah memperingatkan Anda.

4. Hidup kita menjadi lebih rumit — sekaligus sederhana

Kedatangan sesosok bayi membuat kita tidak lagi dapat langsung pergi meninggalkan rumah dengan hanya membawa tas genggam ramping. Setidak-tidaknya, tas tangan kita kini berisi segepok tisu basah, dan perjalanan yang tersingkat pun harus direncanakan dengan sebaik-baiknya.

Di sisi lain, kedatangan seorang anak mengubah cara pandang kita terhadap banyak hal. Seiring waktu, kadang tanpa disadari, kita menjadi lebih mensyukuri hal-hal kecil yang tadinya tidak kita sadari: kesehatan, keluarga, tawa, dan tidur. Anehnya, sekarang bahkan sendawa bayi dapat membuat kita tertawa atau menangis.

Waktu telah berlalu, namun selain perubahan ukuran pinggul dan cara berpakaian, saya masih melihat teman-teman saya sebagai para perempuan konyol yang telah membawa tawa ke dalam hidup saya bertahun-tahun yang lalu. Bedanya, sekarang mereka juga membawa tawa ke dalam hidup suami dan anak-anak mereka.

Saya tunggu reuni selanjutnya ya, teman-teman!

Leave a Reply
<Modest Style