Modest Style

Lima Mitos “Shift Kedua” untuk Perempuan

,

Kebanyakan pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak dilakukan oleh kaum perempuan di seluruh dunia, seringkali tanpa imbalan. Eren Cervantes-Altamirano membayangkan masa depan yang berbeda.

(Image: Dreamstime)
(Image: Dreamstime)

Banyak dari kita memiliki “shift kedua” setelah pekerjaan utama kita sehari-hari. Sering kali, kita tidak ingin menyebutnya sebagai “shift ”, tetapi istilah ini diciptakan oleh R. Arlie Hochschild untuk mendefinisikan serangkaian tugas dan tanggung jawab rumah tangga yang kebanyakan dilakukan oleh wanita di seluruh dunia, setelah pekerjaan harian mereka, tanpa dibayar. Menurut pendapat saya, ini juga berlaku untuk perempuan yang menjadi ibu rumah tangga atau ibu yang tinggal di rumah – ini adalah pekerjaan tetap yang mengharuskan perempuan untuk siap siaga 24 jam sehari, 7 hari seminggu, dan 365 hari setahun. Gagasan utama dari “shift kedua” adalah perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan membersihkan selain pengasuhan dan bekerja tetap atau paruh waktu.

Sekalipun banyak wanita muslim berkontribusi secara ekonomi di rumah tangga dewasa ini, tak banyak yang berubah dalam hal peran pria di rumah. Meskipun banyak dari kita memiliki suami yang hebat, ayah, atau abang yang mau membantu, sebagian besar pekerjaan rumah tetap menjadi tanggung jawab perempuan (ibu, saudara perempuan, dan diri kita sendiri!). Beberapa dari kita cukup beruntung dapat mempekerjakan pembantu, yang umumnya juga wanita. Tetapi supaya kita memiliki asisten rumah tangga, para wanita ini melakukan “kerja kedua” mereka sendiri – mengasuh keluarga dan mengurus rumah tangga mereka sendiri di samping rumah tangga kita.

Dengan demikian, ada banyak mitos tentang pekerjaan rumah tangga dan membesarkan anak yang saya ingin hilangkan.

Mitos #1: Pekerjaan rumah tangga dan membesarkan anak bukanlah pekerjaan “sungguhan”. Beberapa minggu yang lalu, saya mendengar kalimat ini dari seorang pria muslim, dan itu membuat darah saya mendidih. Tanyakan pada setiap wanita yang memiliki anak-anak dan bertanggung jawab di rumah. Apakah aktivitas ini tidak melelahkan? Apakah tidak menantang? Apakah ini tidak menguras semua energi kita? Saya akan dengan lantang mengatakannya seperti ini: pekerjaan rumah tangga dan membesarkan anak merupakan kegiatan yang paling berat di dunia. Pekerjaan ini membutuhkan kreativitas, manajemen waktu, keterampilan mengorganisasi, kekuatan fisik, kesabaran, dan keterampilan manajerial yang luar biasa.

Mitos #2: pria muslim dibebaskan dari pekerjaan rumah tangga karena mereka adalah pencari nafkah. Fakta pertama, lebih sering daripada tidak, perempuan muslim juga bekerja di luar rumah, sebagai pebisnis, guru, penulis, insinyur, dan sebagainya. Fakta berikutnya, menjadi pencari nafkah tidak membebaskan pria dari berpartisipasi. Beberapa hadits menunjukkan bahwa, di luar semua kegiatannya, Nabi Muhammad (saw) mau bekerja di rumah bersama istri-istrinya.

Al-Awsad meriwayatkan: “Aku bertanya pada ‘Aisyah ra., ‘Apa yang Nabi, semoga Allah memberkatinya dan memberinya keselamatan, lakukan saat dia bersama keluarganya?’ ‘Aisyah menjawab, ‘Dia melakukan tugas-tugas untuk keluarganya, dan ketika tiba saatnya untuk shalat, Nabi akan pergi keluar’.” [i]

Dengan demikian, pria juga harus bekerja di rumah dan berbagi tanggung jawab.

Mitos #3: Mengasuh anak hanya tanggung jawab wanita. Wanita yang memiliki anak tahu bahwa hal ini bisa menjadi pengalaman yang indah. Namun, ini bukanlah pengalaman yang dapat dilakukan tanpa dukungan. Membesarkan anak adalah tanggung jawab bersama karena melibatkan mengajar, merawat, dan mencintai manusia lain. Sebagai seseorang yang ayahnya sangat terlibat dalam pengasuhan anak, saya dapat memberitahu Anda besarnya manfaat dari memiliki dua orangtua di dekat kita (meskipun mereka bercerai). Saya belajar sejak usia dini untuk menghadapi lawan jenis, saya memiliki dukungan ekstra, dan saya punya sahabat baik. Selain itu, merawat anak tidak menguras tenaga ibu saya, yang dapat bekerja dan melakukan aktivitas lain. Hal yang sama berlaku bagi saudari-saudari kita yang menjadi ibu tunggal, janda atau bercerai. Dukungan selalu dihargai, dan laki-laki dalam keluarga (yaitu ayah dan abang) harus mengambil bagian dalam kegiatan ini.

Mitos #4: Pekerjaan “nyata” pria terlalu menuntut. Well, pekerjaan perempuan biasanya memerlukan lebih dari delapan jam waktu kerja. Perempuan juga mengalami kelelahan dan stres. Pada akhir hari, perempuan juga khawatir tentang pekerjaan mereka sendiri atau hal-hal rumah tangga seperti “Apa yang akan kita makan minggu depan?” dan “Apakah anakku sudah mengerjakan PR?”  yang dapat terasa benar-benar menantang. Berbagi tanggung jawab membantu kedua belah pihak yang terlibat tanpa benar-benar menguras tenaga mereka.

Mitos #5: Kegiatan rumah tangga dan pengasuhan anak tidak memiliki nilai ekonomis. Salah satu masalah utama dalam masyarakat kita adalah kecilnya penghargaan yang diberikan kepada administrasi rumah tangga dan pengasuhan anak. Kita tidak berpikir tentang hal itu dalam istilah ekonomi seperti yang kita lakukan dengan jenis pekerjaan lain. Namun, hal yang menyenangkan untuk dicoba adalah: tuliskanlah berapa jam sehari perempuan dalam rumah tangga melakukan tugas dan kegiatan pengasuhan.

Kemudian, sesuai dengan negara tempat Anda tinggal, tetapkan bayaran yang sesuai untuk kegiatan yang wanita lakukan. Misalnya di Kanada di mana saya tinggal, jasa pembersihan rumah dihargai sebesar $30 dolar per jam (setidaknya), dan penitipan anak berkisar di sekitar $20 dolar per jam untuk jasa pengasuh anak yang berpengalaman.

Sekarang kalikan jumlah jam dengan tarif yang sesuai. Berapa banyak yang Anda dapatkan? Mungkinkah laki-laki dalam keluarga mampu membayar layanan tersebut jika mereka harus membayar untuk mendapatkannya? Kegiatan-kegiatan ini memiliki nilai ekonomi dan dapat dikenakan tarif yang lebih tinggi karena banyak wanita bekerja lembur (misalnya, ketika anak sakit).

Mitos-mitos sederhana namun abadi ini terus berlanjut, meskipun mitos-mitos ini menghalangi pria dari melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama dan mengabadikan “giliran kerja kedua” perempuan. Sebagian besar pekerjaan ini dilakukan di seluruh dunia oleh perempuan, dan seringkali tanpa imbalan dan dengan sedikit apresiasi dari masyarakat mereka.

Oleh karena itu, saya pikir penting bagi perempuan muslim untuk memulai pola-pola baru bekerja sama dengan keluarga mereka sendiri dengan mengajar anak laki-laki dan perempuan untuk bekerja sama dan bukannya berfokus pada mengajar anak-anak perempuan untuk bekerja dalam banyak waktu.
——————–
[i] Diriwayatkan oleh Al-Aswad, dalam al-Adab al-Mufrad, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style