Modest Style

Kuasa dan Prasangka

,

Saat tokoh Muslim berpengaruh merendahkan orang lain, tidak seharusnya mereka kebal terhadap kritik, menurut Sya Taha.

2003-WP-Prejudice-by-Sya-Photl-sm
Gambar: Photl

Baru-baru ini, dua insiden terkuak melalui media sosial dengan cara yang anehnya mirip.

Akhir bulan lalu, seorang profesor lelaki Muslim dari sebuah universitas prestisius di Singapura, dalam laman Facebook pribadinya, menyebut homoseksual sebagai “kanker” dan “penyakit” yang harus dihentikan “lajunya”.

Di awal bulan ini, seorang dosen bergelar syekh dari sebuah institut Islami terkenal berbasis di Amerika memposting rangkaian lelucon di Facebook yang merendahkan perempuan dan orang kulit hitam.

Kedua lelaki ini dihormati atas keahliannya dalam bidang akademis dan keagamaan. Namun keduanya membuat pernyataan merendahkan tentang kelompok orang yang secara historis telah termajinalkan dalam beragam cara. Yang menyedihkan adalah bahwa mereka membawa-bawa nama Islam bersama pernyataan mereka.

Salah satu cara cendekiawan seperti kedua orang di atas dapat dengan bebas berpikir, berkata, dan menyebarkan ide semacam ini adalah dengan berlindung di balik identitas keagamaan mereka. Cara lain adalah dengan terus-menerus menyebutkan pentingnya “membuat 70 alasan”[i] saat seseorang menuding mereka perihal perkataan menghina.

Namun sampai kapan kita harus membiarkan para tokoh ini berbuat semau mereka hanya karena mereka “lebih berilmu”? Tentunya tidak saat mereka mendukung perbuatan jahat dan penyiksaan terhadap orang lain. Saya percaya bahwa dengan kepemimpinan datang tanggung jawab – menjadi yang berkuasa berarti harus dapat mempertanggungjawabkan setiap hal yang dilakukan.

Saat kita mengucapkan hal yang seksis dan rasis, kita gagal menjaga harga diri orang lain

Kejadian yang mengikuti kedua insiden ini memperjelas strategi apa yang biasa digunakan untuk membungkam para pengritik: Mempertanyakan pengetahuan atau adab si pengritik. Dengan kata lain, Anda tidak dapat berkata negatif tentang orang lain jika Anda masih memiliki kekurangan. Jika kita harus mengikuti pola pikir seperti ini, tidak akan ada seorang pun yang akan berbicara saat terjadi ketidakadilan. Lebih jauh lagi, tidak penting seberapa terpercaya maupun terpelajar seorang pengritik, karena menyebut-nyebut adab seseorang hanyalah sebuah cara untuk membungkam perbedaan pendapat.

Kedua cendekiawan ini berkeras mempertahankan versi “Islam” mereka dan bagaimana seharusnya menjadi seorang Muslim. Pada dasarnya, saat seseorang memulai sebuah pernyataan dengan “Di dalam Islam…”, saya akan langsung menghindarinya. Seringkali, seseorang tadi akan merujuk pada Islam Sunni garis keras. Saya dibesarkan dengan ajaran Sunni dan meyakini bahwa ajaran tersebut sangat valid, karena banyak orang yang memilih mendapatkan kedamaian jiwa melalui jalur tersebut. Namun saya tidak percaya bahwa hanya ada satu ajaran monolitik yang disebut Islam; saya melihat Islam sebagai keragaman doktrin dan amalan.

Sebagai sebuah contoh bagaimana seharusnya “Islam” itu, profesor tadi meyakini bahwa Muslim tidaklah mungkin homoseksual karena homoseksualitas dilarang oleh Qur’an. Namun tidak ada yang dapat menyangkal bahwa ada Muslim yang homoseksual. Di pihak lain, sang syekh meyakini bahwa lelaki dan perempuan tidak setara dan kemungkinan besar dapat mengutip serangkaian versi penafsiran Qur’an untuk mendukung pendapat tersebut. Namun, tidak ada yang dapat menyangkal bahwa ada banyak Muslim berpandangan egaliter yang menentang diskriminasi dan kekerasan yang didasari jender (dengan penafsiran Qur’an masing-masing).

Masalah seperti hijab, konsumsi alkohol dan babi, dan orientasi seksual lebih sering dijadikan tolok ukur kadar keislaman dibandingkan dengan masalah lain seperti korupsi, ketidakadilan, atau polusi. Mudah sekali terjebak dalam definisi dan bagian-bagian tertentu dari Islam dan kehilangan kemampuan melihat gambaran besarnya.

Gambaran besarnya adalah bahwa orang yang menyebut dirinya Muslim, harus dianggap sebagai Muslim. Bahwa setiap umat manusia harus diperlakukan dengan rasa hormat dan penghargaan karena kita tidak berhak memberi label bahwa seseorang lebih mulia dari orang lainnya. Bahwa saat kita mengucapkan hal yang seksis dan rasis, kita gagal menjaga harga diri orang lain. Saat sosok berkuasa mengucapkan hal yang seksis dan rasis, tidak hanya mereka tidak mencontohkan rasa hormat, namun juga memberi jalan bagi orang lain untuk melanggengkan dan membenarkan penjajahan kecil dan kekerasan jelas-jelasan terhadap kelompok tertentu.

Kita harus bekerja sama membangun keadilan sosial karena kita semua saling membutuhkan, baik perempuan maupun lelaki, kaya dan miskin, hitam dan putih. Mari berhenti merasa takut menegur pelaku perkataan dan perbuatan tidak adil, terlebih jika hal tersebut berasal dari orang-orang yang seharusnya terpercaya, seraya mengingat bahwa Alah SWT adalah sang Maha Menilai.


[i] Sebuah kutipan dari Hamdun al-Qassar, yang hidup di abad ke-9. Imam Baihaqi meriwayatkan, “Jika seseorang di antara teman-temanmu membuat kesalahan, buatlah tujuh puluh alasan untuknya. Jika hatimu tidak mampu melakukan ini, maka ketahuilah bahwa kekurangan ada pada dirimu sendiri.”

Leave a Reply
<Modest Style