Modest Style

Wisata halal di Jepang: Ada Sumo Muslim dan bir bebas alkohol

,

Setelah sekian lama menjadi tantangan tersendiri bagi orang dengan berbagai kebutuhan pola makan, tanah matahari terbit ini perlahan mengubah reputasinya sebagai ladang ranjau kuliner. Jonathan Wilson berbagi pengalaman menyaksikan perubahan yang ditemui pada kunjungan terakhirnya.

1101-WP-Halal-japan-iStock-sm
Menyambut gelombang pendatang baru. Gambar: iStock

Pada akhir tahun 2013, Profesor Arata Mariko, kepala makanan masa depan yang didukung oleh Gurunavi di Tokyo Institute of Technology, mengirimi saya sebuah surel berisi undangan untuk mengunjungi Jepang. Gurunavi merupakan panduan restoran Jepang yang telah mendukung ketertariknan riset Profesor Arata, baik sebagai antropolog budaya makanan dan seorang ahli budaya Indonesia.

Pada bulan Juni, Profesor Arata mengadakan simposium tentang industri makanan halal untuk kedua kalinya. Saya diundang selama 12 hari untuk berbicara pada simposium tersebut, memberikan kuliah tamu di universitas, meneliti kondisi terbaru Jepang, dan menulis serangkaian laporan.

Keterlibatan saya dalam proyek ini tampak seperti pekerjaan impian bagi saya. Tahun-tahun yang saya gunakan untuk meneliti, menulis, dan berbicara tentang halal, bepergian ke Jepang, dan berlatih seni bela diri kini menampakkan hasil yang tidak saya sangka-sangka. Pengalaman saya sebelumnya hanya mengizinkan hal-hal ini sesekali bersentuhan, dan umumnya saat Ramadhan; saya ingat pernah melalui lima jam pelatihan dan ujian Kendo yang menyiksa.

DSC07161-sm-225x400
Di luar Kuil Asakusa (Sensō-ji), Tokyo

Namun inilah saatnya saya memanfaatkan semua pengalaman tentang budaya dan praktek Muslim dan Jepang, menyajikan alasan yang menarik bagi akademisi, industri, pembuat kebijakan, dan media tentang mengapa dan bagaimana halal memiliki tempat di antara masyarakat Jepang.

Salah satu pendorong ketertarikan ini adalah Olimpiade Musim Panas 2020, yang akan diadakan di Tokyo. Orang Jepang dikenal dengan perencanaan yang teliti, dan persiapan telah lama dimulai. Pada kunjungan ini saat tiba di bandara, saya juga menyadari banyaknya orang Indonesia dan Malaysia (dua negara dengan mayoritas penduduk Muslim) yang ikut mengantre di meja imigrasi.

Saya berdiri berdampingan dengan gelombang manusia dari banyak generasi yang, seperti halnya saya, mencintai kebudayaan Jepang: makanan, mode, manga, anime, samurai, dan teknologinya yang dilengkapi dengan lampu neon, keunikan, dan eksentrisitas. Saya mencintai dedikasi, jiwa muda dan bebas yang berdampingan dengan sifat pemalu, dan kesopanan yang ditunjukkan orang Jepang dari segala usia saat mendekati sesuatu.

Namun, seperti juga halnya saya, kami adalah sekelompok Muslim yang terbiasa berjuang demi kecintaan kami atas segala sesuatu yang berbau Jepang jika sudah berhubungan dengan makanan. Saya bersikap terbuka soal makanan. Saya terbiasa dengan mi, teh, dan kopi yang disajikan panas maupun dingin. Saya menyukai ikan dan makanan laut mentah maupun matang. Namun jika Anda bertanya pada kebanyakan Muslim, mereka pasti memiliki kisah horor kuliner tersendiri di Jepang.

Halal-rice-crackers-sm-300x400
Kue beras halal

Bagi saya, tentu saja, babi dan alkohol tidak dapat ditolerir. Namun saya menyadari sekadar mengatakan tidak saja tidak cukup. Saya bahkan sampai pernah menyatakan ke penjaga toko dan pemilik restoran bahwa saya akan mati jika memakan kedua hal tersebut, namun inipun terkadang tidak menghalangi kemunculan kedua hal tadi di piring saya.

Pola pikir Jepang umumnya seperti ini: “Oke, ia tidak minum alkohol, namun beberapa tetes saja di kuenya pasti tidak masalah.” Atau, “Ia tidak makan babi, namun ramen kaldu tulang babi bukanlah babi.”

Pada kunjungan terakhir saya, saya sedang berada di sebuah hotel internasional dan ada sepanci besar sajian berlabel sup sayuran. Di sampingnya terdapat label alergi yang menyatakan bahwa sup tersebut mengandung gandum, telur, dan susu. Namun saat saya mengambil semangkuk sup tersebut, saya melihat sup dipenuhi irisan babi asap. Saya menanyakan mengapa supnya seperti itu, karena mungkin saja ada kesalahan pelabelan. Jawaban yang saya terima adalah bahwa label “sup sayuran” berarti sup tersebut mengandung banyak sekali sayuran. Begitulah.

Saya tidak ingin menakuti siapapun, karena Anda sebenarnya dapat memakan berbagai hal di Jepang – asal berhati-hati. Akan membantu mengetahui kata-kata penting dalam bahasa Jepang sekadar untuk bertahan hidup, atau mungkin cara menggunakan Google Translate, karena tidak semua orang di sini dapat berbicara bahasa Inggris atau benar-benar memahami pola makan Muslim – setidaknya belum.

Namun itulah tujuan saya diundang, bukan?

Ada banyak hal seru dan kesamaan yang membuat Jepang istimewa. Kenyataan bahwa di banyak restoran, dan bahkan toko tradisional, Anda diharuskan melepas alas kaki. Toilet dengan bidet, efek suara, penghangat dudukan, penyetel ketinggian dudukan otomatis, dan pengharum udara bawaan adalah pemandangan nan unik. Saya menyarankan Anda mengunjungi toko Uniqlo 12 lantai di Ginza, Tokyo, bukan hanya untuk baju-bajunya (yang terdiri dari beragam pilihan serta ukuran super besar), namun juga untuk melihat toilet-toilet seperti di atas.

[Not a valid template]

Hal lainnya yang saya sadari adalah semakin banyaknya bir bebas alkohol yang ditawarkan. Orang Jepang sangat peduli dan ingin setiap orang dapat bersenang-senang dan tidak merasa kikuk. Saat saya menanyakan mengapa pertumbuhan produknya sangat tinggi dan siapa target pemasarannya, saya jadi mengetahui bahwa ketertarikan terhadap produk ini datang dari berbagai kalangan. Orang-orang yang menikmati bir ini antara lain adalah pengendara kendaraan bermotor, wanita, pegolf, juga pekerja kantoran, yang harus bersosialisasi dengan kolega dan klien hingga malam dan tetap bangun pagi-pagi sekali untuk bekerja keesokan harinya.

All-alcohol-free-sm
Pilihan bir – semuanya bebas alkohol

Sosialisasi merupakan sebuah kewajiban dan kegiatan kelompok sangat penting bagi orang Jepang, jauh dibandingkan dengan budaya lainnya. Tekanan untuk menghadiri dan berpartisipasi dalam acara sangat besar. Lagipula, Jepang adalah asal karaoke.

Saya dapat melihat potensi produk-produk seperti ini memasuki dunia Muslim. Maskapai penerbangan dan hotel semakin berusaha memenuhi kebutuhan pola makan pelanggan. Kita telah melihat meningkatnya produk pengganti babi seperti kalkun dan daging sapi asap. Jadi mengapa tidak dengan bir? Saat ini hanya ada satu atau dua bir berperasa, yang kebanyakan saya temui di Teluk Arab, Iran, dan Inggris. Namun mungkin rasanya akan berkembang lebih jauh dari bir palsu rasa permen buah, menjadi rasa pahit yang disukai non-Muslim dan disarankan diteguk bersama kari dan cemilan asin.

Me-Miwa-Dr-Anwar-Ghani-Hind-Sheikh-Ali-Achcar-sm
Saya, Miwa, Dr Anwar Ghani, Hind, Syekh Ali Achcar

Bersamaan dengan riset internal Tokyo Tech dan universitas lainnya, berbagai hal juga terjadi di dunia industri. Saya bertemu dengan Hind Hitomi Remon, seorang mualaf Jepang yang mendirikan badan sertifikasi Asosiasi Halal Jepang. Mualaf Jepang lainnya, Miwa Essaadi, menjalankan i.Solutions, yang menyediakan layanan konsultasi hubungan Muslim di Jepang.

Inside-the-Tokyo-Camii-Turkish-Cultural-Center-sm-300x400
Di dalam Tokyo Camii & Pusat Budaya Turki

 

Saya juga mengunjungi Tokyo Camii & Pusat Budaya Turki, yang dari segi desain tampak seperti masjid manapun yang dapat Anda temukan di Turki. Dan percayakah Anda saat menonton televisi saya melihat petarung sumo Mesir, Abdelrahman Ahmed Shaalan? Di sini ia dikenal sebagai Osunaarashi (terjemahan dari “Badai Pasir Besar”), diperlihatkan sedang shalat dan membicarakan makanan halal di acara TV tersebut.

Jadi begitulah; ini adalah saat-saat menyenangkan di tanah matahari terbit. Saya menantikan bagaimana ini semua akan berjalan dengan bertambahnya makanan, mode, dan layanan yang dibuat khusus untuk Muslim. Salah satu gagasan yang sedang sering saya pikirkan adalah melihat bagaimana saya dapat bekerja dengan orang lain dalam sebuah aplikasi realitas tambahan, dan paket Wi-Fi yang lebih baik untuk pengunjung. Bahasa mungkin akan menjadi penghalang untuk beberapa saat, namun teknologi dapat mengisi kekosongan tersebut.

Dan jika berhasil, siapa tahu? Mungkin nantinya dunia Muslim akan menjadi lahan perekrutan petarung sumo.

 

 

 

 

Baca lebih banyak tentang wisata ramah-Muslim di Jepang di sini dan sini.

Leave a Reply
<Modest Style