Modest Style

Kompleksitas Universal Mencari Pasangan

,

Seseorang dapat mencari kehidupan yang memuaskan dan ingin mengalami percintaan tanpa merasa dipaksa untuk terikat dengan pernikahan, ujar Amal Awad.

Perak dan peralatan perak, akhirnya bersama-sama (Gambar: SXC)
Perak dan peralatan perak, akhirnya bersama-sama (Gambar: SXC)

Menulis untuk Thought Catalog akhir-akhir ini, Chelsea Fargan mempertanyakan sebuah pertanyaan penting: mengapa kita masih peduli tentang menikah? Dalam tulisannya, dia menitikberatkan pada cara berbahaya dimana kita memberikan selamat dan merayakan pernikahan seolah-olah itu sebuah pencapaian; tapi penghargaan yang sama tidak bergegas datang untuk karir atau pencapaian pribadi lainnya.

Ini sesuatu yang telah saya pertimbangkan sebelumnya, mendebat bahwa meskipun memiliki reputasi berkelas sebagai lajang terhormat, perempuan berada dalam situasi yang tidak diiinginkan saat menjadi lajang.

Saya tidak sedang mengkritik bersatunya dua jiwa. Sungguh, saya rasa itu adalah ajang paling indah, meskipun saya tidak percaya bahwa pernikahan adalah tes litmus terbaik untuk cinta. Mungkin, memiliki seseorang di dalam hidup Anda bisa menciptakan sebuah penyatuan pada level tertentu, bahkan jika anda belum terikat pernikahan. Tetapi mari tinjau beberapa sudut pandang, dan ingatlah bahwa angka perceraian dan beberapa isu lain yang dipertanyakan memberi kesan bahwa pernikahan bukanlah jawaban dari ketidakbahagiaan yang dialami kaum lajang.

Apa yang menarik bagi saya mengenai karya Fagan adalah dia menulis dari perspektif Barat, dimana pernikahan lebih sering dipertimbangkan sebagai pilihan tambahan dari bagian gaya hidup yang luar biasa. Dengan kata lain, tidak seperti Muslim, yang melihat pernikahan sebagai hal yang perlu jika menyangkut keintiman dan hubungan antara lelaki dan perempuan (tidak ada hal-hal seperti pacar, setidaknya tidak secara resmi).

Bahwa sebuah cerita seperti ini harus ditulis mengatakan begitu banyak bukan saja tentang obsesi kita akan pernikahan — atau mungkin, pesta pernikahan — tetapi juga stigma yang dikalungkan di leher perempuan lajang.

Artikel itu sendiri menarik perhatian saya melalui seorang teman yang, tidak diragukan lagi dengan niat terbaik, memasang tautan dalam laman jejaring sosialnya dan men-tag saya, karena dia berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang perlu saya tulis untuk Aquila Style.

Masalahnya adalah, saya merasa seperti saya sudah menulis itu. Beberapa kali, malahan. Dan menyakitkan bagi saya untuk mengatakannya, tapi pikiran pertama saya adalah, “Sial. Aku sudah menjadi wanita itu.”

Saya telah menjadi juru bicara untuk perempuan Muslim yang lajang. Saya adalah orang yang mengesahkan apa dasarnya norma itu — yaitu kesendirian kita sebagai manusia.

Apakah secara tak sadar saya telah menjadi aktivis militan untuk para wanita lajang?

Jangan salah paham, saya mengakui peranan saya di sini. Ini adalah sebuah hasil di mana saya bertanggung jawab, tapi hal ini membuat saya merenungkan bagaimana kita sampai di sini. Mengapa kita bahkan perlu sampai menekankan bahwa pernikahan dan pesta pernikahan nan berkilau bukanlah tanda dari pencapaian pribadi?

Kita terobsesi, bukan sebagai sebuah masyarakat, tetapi sebagai seluruh populasi dunia, dengan berpasangan. Masalahnya bukan pada hal itu, tetapi ide bahwa ada sesuatu yang tidak normal jika tidak menikah — atau bahwa bertemu “belahan jiwa” Anda adalah satu hal yang kita semua harus inginkan — telah membuat saya berpikir kita semua sudah minum Kool-Aid terlalu banyak.

Ini bisa dimengerti, mengingat cara di mana kita disuapi hal-hal ideal tentang kehidupan —  bahwa kehidupan tidak benar-benar terlihat atau terasa lengkap sampai kita bertemu dengan seseorang yang bisa cocok dengan kita seperti sepotong puzzle. Kita dibesarkan dengan hal-hal manis dari Disney yang memberitahu kita seperti apa itu cinta dan asmara, dan untuk sebagian besar, tampaknya kedua hal ini nampak mudah (baca: halal), karena para pasangan itu selalu menari menyusuri lorong mewah.

Saya memahami perasaan menginginkan persahabatan dan asmara. Ini adalah normal dan sangat manusiawi. Meskipun memiliki orang tua yang benar-benar menolak untuk menggiring saya memasuki pernikahan, itu adalah sesuatu yang saya inginkan untuk diri saya sendiri. Tetapi itu bukan barometer di mana saya mengukur kepuasan dan pencapaian dalam hidup saya.

Saya adalah seorang yang kesepian, jiwa saya sepi selama sebagian besar waktu saat saya berusia 20-an (dan saya kira juga selama masa remaja saya). Saya merindukan ikatan dengan pasangan hidup. Saya ingin menikah, dan mengenakan gaun yang luar biasa yang membuat saya merasa seperti seorang putri. Sekarang saya merasa sangat malu akan hal ini — bukan karena saya menentang pernikahan, melainkan, sebagai seorang dewasa yang lebih membumi, berpengalaman dan sadar akan karakter diri sendiri, jatuh cinta pada seseorang dan mempertimbangkan dia sebagai pasangan hidup, telah menempati kepentingan yang jauh dari besar untuk saya. Saya tidak begitu bersedia untuk menyerahkan ruang dan energi saya kepada seseorang, tetapi saya terbuka untuk berbagi keduanya.

Jadi saya pikir saya perlu untuk menerima ini, sebagai seseorang yang berhasil memasukkan satu bab tentang “kehidupan lajang” dalam buku esai baru saya, dan mengatakan bahwa benar-benar tidak apa-apa untuk ingin menikah.Lebih dari baik-baik saja untuk menghendaki gaun pernikahan yang mewah dan pidato canggung orang-orang terdekat.

Tetapi, dan Anda boleh terkejut ketika saya menyampaikan ini, banyak dari kita lajang tidak melihat ini sebagai kekurangan yang harus dipenuhi dalam koin pernikahan kita. Kita, pada dasarnya, adalah lajang, karena kita adalah individu. Namun, tampaknya kita melihatnya dari segi yang berlawanan. Posisi dasar kita adalah menjadi pasangan (alias dicintai dan, karena itu, disahkan oleh orang lain).

Wajar untuk ingin bertemu seseorang, jatuh cinta, dan jatuh ke dalam suasana hangat dan membingungkan — tidak ada yang menyangkal bahwa hal itu terasa hebat. Jika berada dengan seseorang adalah satu-satunya cara Anda merasa baik dan dicintai, Anda akan berjuang ketika orang lain datang dan ingin bergabung. Jadi, cari tahu diri Anda sendiri, dan maksud saya benar-benar mengetahui seluk beluk siapa Anda, tidak hanya sebagai seorang wanita (atau pria), tapi sebagai manusia. Ada begitu banyak dalam hidup untuk kita miliki, nikmati sebagai sebuah pengalaman dan pelajari. Kita memiliki waktu terbatas untuk menjadi seperti itu.

Mengesahkan penyatuan pernikahan seolah-olah ia adalah terobosan ilmiah memperlihatkan bagaimana kita melihat keberhasilan bertemu dengan pasangan kita. Sementara saya menyadari pernikahan adalah kesempatan bahagia, saya yakin luapan kegembiaraan kita merupakan petunjuk kuat bahwa kita takut atau malu menjadi sendirian.

Tetapi ada orang-orang yang meniti kehidupan yang memuaskan dan luar biasa, yang salah satunya ditandai dengan pengalaman hidup dan kisah cinta, namun tidak berakhir dalam pernikahan — bahkan jika suatu hari, Anda mendapatkan kecocokan itu, dan menandatangani garis putus-putus.

Buku baru Amal, The Incidental Muslim, akan tersedia online dalam bentuk cetak atau sebagai sebuah e-book pada 28 Januari 2014

Leave a Reply
<Modest Style