Modest Style

Kombinasi Aneka Dunia

,

Kemitraan yang melintasi bidang personal dan profesional menunjukkan bagaimana cinta dan keterampilan dapat mempengaruhi bisnis secara positif. Amal Awad berbicara kepada pasangan di balik Lah’za Photography.

[Not a valid template]

Walaupun target akhir mereka adalah seluruh dunia, fotografer yang berbasis di Melbourne, Zahrah Habibullah dan Ahmad Sabra, duo di balik Lah’za Fotografi, dengan senang hati meraih penggemar di Australia. Halaman Facebook mereka memiliki pengikut yang terus bertambah, dan situs web mereka, yang awalnya memamerkan karya fotografi pernikahan mereka, akan segera menampilkan bakat mereka sepenuhnya dengan peluncuran kembali dari dua merek yang berbeda: Love by Lah’za untuk pernikahan dan potret, serta Lah’za Studio untuk merek dan acara perusahaan.

Saya bertanya kepada mereka tentang makna di balik nama mereka, dan tanggapan mereka memberikan sekelumit wawasan mengenai apa yang membuat mereka bekerja sama dengan baik.

“Kami ingin sesuatu yang lebih dalam, yang memiliki koneksi ke diri kami sendiri dan apa yang kami lakukan. Lah’za dalam bahasa Arab berarti ‘momen’ dan kami ingin melihat pekerjaan kami sebagai pengarsipan sejarah dan momen-momen dalam kehidupan orang,” jelas Ahmad.

Dengan sedikit utak-atik, Lah’za juga mencakup inisial pasangan ini.

“Kami mencurahkan hati dan jiwa kami ke dalam apa yang kami lakukan, dan karenanya kami merasa membutuhkan beberapa bagian dari nama kami berada di merek kami. Seperti setiap pasangan, kami memiliki hari-hari senang dan susah serta kekuatan dan kelemahan kami,” tambah Zahrah.

“Kami mencoba dan berkomunikasi tentang hal-hal ini secara teratur untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman – meskipun pasti selalu ada sesuatu, walaupun itu kecil.”

Ahmad mengakui bahwa meski bekerja dan hidup bersama merupakan sebuah tantangan, manfaat dari menghabiskan lebih banyak waktu bersama-sama lebih besar dari masalah apa pun.

Zahrah menunjukkan bahwa tantangan dalam memisahkan kehidupan kerja dan kehidupan keluarga akan meningkat bila kita mempertimbangkan bahwa keduanya memiliki praktik seni mereka sendiri-sendiri. Zahrah bergurau,  “Cinta saya yang lain, perhiasan” – ia baru lulus dari sarjana seni rupa dalam pembuatan perhiasan emas dan perak.

“Kadang-kadang, secara kreatif kami tidak sepakat dan itu bisa membuat frustrasi, tapi saya pikir yang menguntungkan kami adalah bahwa pekerjaan kami sangat berbeda namun seimbang secara estetis,” renung Zahrah.

“Saya ingat salah satu pernikahan yang kami foto, kami benar-benar berdebat tentang menata komposisi gaun. Kami menertawakan hal itu setelahnya; jika itu yang menjadi bahan perdebatan kami, lantas sebetulnya siapa yang boleh komplain?”

Komposisi akhir mereka mempesona. Meskipun kita tidak mengetahui pertengkaran rahasia di balik layar, pasangan ini menunjukkan titik kuat dari perbedaan adalah bahwa mereka memiliki kekuatan di daerah yang berbeda.

Untuk Ahmad, basis pengetahuan yang komprehensif dalam aspek teknis dan komposisi fotografi membawa nilai yang lebih besar untuk karyanya.

“Kekuatan Zahrah adalah dalam cerita emotif dan unsur-unsur detail,” Ahmad menuturkan.

“Secara estetis kami saling melengkapi gaya masing-masing, sehingga memberikan klien kami kreativitas dari dua bidang visi serta kombinasi dari perspektif laki-laki dan perempuan.”

Zahrah mengatakan gaya Lah’za adalah persilangan antara dokumenter dan fotografi tradisional, dengan spesialisasi dalam fotografi pernikahan, dokumenter, dan potret.

“Kami menikmati keragaman proyek yang kami kerjakan, mulai dari menangkap emosi pada hari terindah dalam hidup seseorang sampai memvisualisasikan arahan konsep fotografi dari klien.”

Pasangan ini telah menekuni bisnis ini selama lebih dari dua tahun. Mereka akhirnya melihat hasil kerja mereka dalam peningkatan permintaan untuk layanan mereka.

Duo ini pertama kali bertemu pada pameran solo pertama Zahrah di tahun 2011. Kebetulan, Ahmad adalah fotografer untuk malam pembukaannya.

“Saya melihat dia melakukan syuting film dan [saya] cukup tertarik,” kenang Zahrah.

“Kami berbicara banyak tentang fotografi dan seni serta mengubah dunia melalui seni.
Kami terus berhubungan, dan kemudian tahun itu saya meminta Ahmad untuk mengambil potret saya dan saya rasa itulah yang menjadi awalnya.”

Pasangan muslim ini menarik banyak klien seagama – sekitar 70 persen klien mereka pada saat ini berasal dari Australasia. Lah’za telah melakukan perjalanan ke Indonesia, Selandia Baru, dan di seluruh Australia untuk pemotretan.

Zahrah mengatakan bahwa sebagai tim suami-istri dalam pernikahan multikultural (Ahmad keturunan Lebanon-Suriah, sementara Zahrah Burma-India), mereka menemukan bahwa kaum muslim lebih nyaman dalam mempekerjakan orang-orang yang mengalami nuansa dan kepekaan yang merupakan bagian dari peristiwa keluarga dan budaya muslim.

“Khususnya, untuk pernikahan,” Ahmad menekankan. “Kami telah memotret begitu banyak etnis dan budaya yang berbeda dalam masyarakat muslim, sungguh menakjubkan untuk melihat kombinasinya.” Ini termasuk orang Fiji-India-Lebanon menikahi seorang Yaman-Indonesia dan seorang Afghani menikahi Australia-Cina.

Adanya fotografer pria dan wanita juga merupakan nilai tambah bagi klien muslim, tambah Zahra, karena banyak peristiwa yang memisahkan jenis kelamin.

“Sering kali, keluarga dan keluarga besar merasa lebih nyaman dengan fotografer perempuan memotret peristiwa-peristiwa khusus perempuan. Hal ini paling berguna pada acara lukis tangan dan pernikahan yang hanya dihadiri perempuan,” katanya. “Selain itu, dengan layanan kami bagi perempuan muslim di sektor perusahaan, ada perasaan santai mengetahui bahwa orang di belakang kamera adalah perempuan dan memahami hari hijab buruk dan sebagainya,” katanya, sambil tersenyum.

Banyaknya yang merekomendasikan Lah’za untuk pekerjaan khusus perempuan membuat mereka sibuk, tetapi mereka juga memiliki hubungan dengan penyedia jasa yang memahami perlunya kebijaksanaan dan privasi saat mencetak foto dan membuat album.

“Jadi pemasok kami memakai pekerja perempuan untuk pekerjaan tertentu jika kami ingin mencetak foto-foto non-kerudung atau dibuat menjadi album.”

Adapun mengenai apa rencana mereka berikutnya, Zahrah mengatakan mereka telah dibuat “kewalahan oleh banyaknya dukungan dan cinta” yang mereka terima dari klien dan pendukung. Dalam beberapa tahun terakhir, para fotografer telah berjuang untuk mendapatkan rasa hormat yang layak mereka dapatkan sebagai profesi, tren yang katanya berbalik.

“Kami telah melihat pelan-pelan ada perubahan sikap terhadap fotografi dan fotografer dalam komunitas kita. Ada harapan! Kami telah menemukan bahwa selain menyediakan fotografi profesional untuk masyarakat muslim (yang lebih luas), kami benar-benar harus bekerja keras untuk mengangkat profil fotografer dan fotografi dalam komunitas muslim dari semua latar belakang budaya untuk memberikan validitas sebagai sebuah profesi.”

Zahrah percaya bahwa, secara umum, telah lama ada resistensi terhadap seni rupa modern di kalangan umat Islam.

“Kami menemukan bahwa sebagian besar umat Islam di sektor profesional tidak akan mempertimbangkan untuk menggunakan jasa pemotretan profesional untuk profil LinkedIn atau website mereka,” katanya.

“Saya pikir gagasan yang paling sulit diterima masyarakat adalah membayar untuk kreativitas seseorang – sesuatu  yang tak berwujud pada awal transaksi. Kami berharap untuk membuat perubahan dalam masyarakat kita, untuk benar-benar mulai memahami ‘Nilai’ – dengan huruf ‘N’ besar – dalam kreativitas.”

Lebih lanjut tentang apa yang terjadi di balik Lah’za:

Apa tantangan terbesar dalam pekerjaan Anda? Apa yang paling Anda nikmati?

Ahmad dan Zahrah: Tantangan terbesar yang kami hadapi adalah ketika klien merasa tidak nyaman dengan citra tubuh mereka di depan kamera. Kami telah melihat banyak klien yang tampak luar biasa tapi masih merasa bahwa mereka tidak cukup cantik.

Kami merasa bahwa hubungan yang kuat dengan fotografer Anda adalah kuncinya, jadi ketika kami bertemu klien, pertama-tama kami memastikan bahwa kami cocok dan kami dapat mewujudkan harapannya. Sebagian besar dari fotografi adalah memastikan klien Anda merasa nyaman dengan Anda dan melalui lensa Anda.

Ceritakan tentang rincian yang tidak diketahui orang.

A & Z: Ada banyak persiapan dan pascakerja fotografi yang tidak tampak bagi semua orang. Rata-rata, setidaknya dua kali lipat atau lebih dari waktu yang dihabiskan untuk pemotretan dihabiskan untuk pascaproduksi.

Z: Selalu ada kunjungan ke lokasi pemotretan untuk memeriksa pencahayaan, potensi masalah, izin, peralatan yang dibutuhkan… jika Anda memiliki pemotretan di luar ruang, selalu perlu ada rencana jika cuaca basah dan sebagainya.

A: Ada juga kesalahpahaman yang menyebalkan bahwa foto bisa langsung berjalan dari kamera ke produksi akhir hanya dengan sekali memencet tombol pascaproduksi, [tapi] ini tidak benar untuk sebagian besar pekerjaan kami, perlu cukup waktu dan kreativitas yang terlibat sebelum gambar akhirnya terlihat.

Apa nasihat yang akan Anda berikan kepada calon fotografer?

Z: Saran saya adalah: foto, foto dan foto. Alah bisa karena biasa, seperti kata pepatah. Keluarlah  dan sempurnakanlah kerajinan Anda. Jika Anda ingin membuat karier dari bidang ini, pelajari segala sesuatu yang Anda bisa tentang hal ini, sambil mengembangkan gaya unik Anda sendiri.

Leave a Reply
<Modest Style