Khutbah: waktunya dialog atau disiplin?

,

Apakah peserta khutbah harus berdiam diri atau bertanya untuk menjaga ketenangan? Eren Cervantes-Altamirano bertanya.

Gambar: Pixabay
Gambar: Pixabay

Saya berusaha selalu menghadiri shalat Jumat berjamaah setiap pekan. Perjalanan mingguan saya ke masjid merupakan sebuah cara bersilaturahim dengan sesama sekaligus sebagai cara agar tidak ketinggalan berita penting. Pun begitu, pergi ke masjid dapat menjadi pengalaman yang menguras intelektualitas dan emosi. Terkadang para imam dan syekh terasa begitu terpisah dari masyarakat karena khutbah yang disampaikan tidak menanggapi masalah yang sedang mendesak, atau karena mereka menghindari berpikir kritis tentang topik tertentu.

Beberapa masjid mengundang penceramah dari luar negeri, mengandalkan keahlian mereka yang seringkali didapat dari universitas Islam terkenal di Timur Tengah. Namun para penceramah ini tidak memiliki pengetahuan kontekstual maupun memiliki keterikatan dengan masyarakat dan peserta ceramah yang mereka hadapi. Terkadang, penceramah hanya berbicara dalam bahasa Arab, padahal banyak Muslim dari berbagai belahan dunia yang tidak berbahasa Arab.

Perpaduan dari ceramah yang tidak menarik dan keterbatasan bahasa berujung pada pendengar yang perhatiannya terpecah, pemirsa yang tidak terlibat, dan peserta yang tidak sabaran. Yang terpenting, hal ini mengakibatkan kekecewaan di antara umat Muslim yang menginginkan adanya diskusi tentang topik-topik penting.

Dalam kunjungan baru-baru ini, saya mengikuti hingga selesai sebuah khutbah di mana penceramahnya terus-menerus menuding masyarakat setempat “melakukan pekerjaan yang buruk dalam mewakili Islam di Barat”. Syekh dari Mesir tersebut, yang memiliki kualifikasi mengagumkan dari Universitas Al Azhar di Kairo, menyatakan bahwa Muslim di Barat tidak saja bebal, namun juga enggan untuk benar-benar terlibat dalam pelaksanaan praktek keagamaan. Meski beberapa orang setuju dengan pernyataannya, saya merasa tuduhan tersebut merupakan generalisasi yang tidak seharusnya dibuat tanpa contoh konkret. Lagipula, masyarakat di tempat ini berperan aktif dalam kegiatan politik, acara amal, dan dialog antaragama. Jadi intinya, pernyataan penceramah tersebut mengabaikan banyak kelebihan masjid ini.

Khutbah telah menjadi sebuah kebiasaan yang lebih berpusat kepada si penceramah daripada pendengar

Sepanjang ceramah, saya duduk dan merasa ingin mengangkat tangan melewati pembatas bagian perempuan dan bertanya pada sang syekh untuk memberikan dasar dan contoh yang mendukung pernyataannya. Namun saya merasa ragu. Pantaskah hal tersebut? Akankah syekh mengizinkan? Apakah masyarakat akan menerima? Sebagai seorang perempuan, pertanyaan-pertanyaan ini menjadi lebih mendesak karena kami cenderung memiliki akses yang lebih terbatas ke penceramah setelah shalat akibat letak area shalat sekaligus pintu masuk yang berbeda.

Pengalaman saya menimbulkan pertanyaan penting: peran apakah yang dimiliki pendengar di masjid? Melalui pencarian dari berbagai sumber, saya mengetahui bahwa terdapat inkonsistensi dalam jawaban yang ada. Sebagian ulama meyakini bahwa bertanya saat khutbah tidak diizinkan, sementara sebagian yang lain melihat hal tersebut sebagai gangguan yang harus dihindari. Namun begitu, sebagian lainnya menganggap khutbah sebagai dialog dan bukannya ceramah semata. Para ulama terakhir ini mendasarkan jawaban mereka dari hadits berikut:

Abu Rifa’ah berkata, “Aku mendapati Rasulullah SAW sedang berkhutbah, aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki asing datang untuk belajar tentang agamanya, ia tidak tahu bagaimana dengan agamanya!” Rasulullah SAW kemudian berpaling dan berhenti dari khutbahnya, hingga beliau berhadapan denganku. Sebuah kursi kemudian diberikan kepada beliau, aku mengira bahwa kaki-kakinya terbuat dari besi. Rasulullah SAW kemudian duduk di atas kursi tersebut dan mulai mengajariku apa-apa yang telah Allah ajarkan kepadanya. Setelah itu beliau meneruskan khutbahnya hingga selesai.”[i]

Hadits ini menunjukkan bahwa khutbah seharusnya menjadi kesempatan untuk belajar melalui dialog aktif. Pendengar akan lebih terlibat dan mendapat manfaat karena dapat mengajukan pertanyaan. Meski begitu, saya tidak pernah menyaksikan hal semacam ini di masjid di Kanada. Bahkan, seorang pendengar yang melihat kekecewaan saya berkata, “Kita duduk saja dan tunggu waktu shalat. Kebanyakan dari kita tidak benar-benar mendengarkan dia.”

Seperti inikah ruang masjid seharusnya? Apakah kita mengorbankan keterlibatan demi kedisiplinan?

Saya merasa ruang masjid telah dibajak dan dibentuk menjadi ruang yang tidak selalu mendorong terjadinya pembelajaran dan dialog. Khutbah telah menjadi sebuah kebiasaan yang lebih berpusat kepada si penceramah daripada pendengar. Sementara itu, halangan dalam mengakses dialog dan pengetahuan cenderung lebih besar bagi perempuan.

Apa yang dapat kita lakukan mengenai hal ini?

Etiket khutbah

Dalam fikih Sunni, pendapat mayoritas[ii] adalah keharusan adanya kesunyian sepanjang ceramah dalam keadaan apapun, dan bahwa hal ini merupakan hukum yang mengikat. Namun, pendapat ini terbagi: sebagian imam mengizinkan jawaban atas salam, sebagian mengizinkan doa setelah bersin, sebagian lagi mengizinkan keduanya. Pendapat kedua adalah bahwa berbicara diizinkan di setiap tahap khutbah, kecuali saat Qur’an sedang dibacakan, berdasarkan ayat 7:204.[iii] Pendapat ketiga membuat perbedaan antara orang-orang yang dapat mendengar khutbah dan yang tidak, dari tempat duduk mereka. Yang tidak dapat mendengar hanya boleh berbicara untuk mengingat Allah atau membicarakan masalah keagamaan.[iv]

Para imam ini hanya memperdebatkan boleh tidaknya seseorang berbicara dan tentang apa. Mereka tidak memyebutkan bahwa ceramah dapat disela untuk mengoreksi ucapan khatib. Di masa khalifah kedua Umar Bin Khattab, seorang ulama perempuan bernama Ummu Salamah menyela khutbah Umar saat ia menyebutkan rentang nilai mas kawin. Ummu Salamah mengingatkan Umar perihal ayat 4:20 yang menyatakan tidak adanya batas untuk mas kawin.

Kasus Ummu Salamah – di luar dari memperlihatkan kemampuan keilmuannya dan hak seorang perempuan mengoreksi lelaki – menunjukkan bahwa menyela khutbah hanya dapat dilakukan jika khatib membuat kesalahan yang harus segera diperbaiki untuk memastikan tidak adanya akibat yang merugikan. Sebagai bagian dari etiket umum dalam mendengar, penyelaan hanya dapat dilakukan dengan pengetahuan dan jika seseorang yakin atas hal yang ia koreksi.

[i] Diriwayatkan oleh Humaid bin Hilal, dalam an-Nasa’i, tersedia di sini.
[ii] Pendapat ini dipegang oleh keempat imam besar: Malik, Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal dan “seluruh imam daerah” (dalam setiap daerah Muslim terdapat imam dengan pendapat yang sama).
[iii] Ulama yang berpegang pada pendapat ini adalah Asy-Syabi, Sa’id bin Jubair, dan Ibrahim Nakhai.
[iv] Ulama yang berpegang pada pandangan ini adalah Ahmad, ‘Ata, dan “sekelompok imam”. Untuk lengkapnya, lihat Ibnu Rusyd, ‘Bidayat al mujtahid wa nihayat al muqtasid’, h180.

Leave a Reply
Aquila Klasik