Modest Style

“Khilafah” ISIS dan Boko Haram bukan khilafah dalam sejarah Islam

,

Adalah tugas kita untuk menyuarakan tentangan terhadap “khilafah” tidak sah yang hidup melalui teror dan kekerasan, tulis Fatimah Jackson-Best.

IRAQ-CONFLICT-IS
Gambar yang dirilis oleh saluran media ekstrimis al-Itisam Media pada 29 Juni 2014 diduga memperlihatkan anggota ISIS beserta pemimpin militer dan warga asli Georgia Abu Omar al-Shishani (Tarkhan Batirashvili) (kiri tengah) dan syekh ISIS Abu Mohammed al-Adnani (kanan tengah), yang wajahnya dikaburkan oleh sumber untuk melindungi identitasnya, berbicara di sebuah lokasi yang tidak diketahu antara Provinsi Nineveh, Irak dan Kota Al-Hasakah, Suriah. HO/AFP

Saat ini sebagian besar orang sudah pernah mendengar tentang Negara “Islam” Irak dan Suriah (NIIS, populer sebagai ISIS). Untuk mendulang kekuasaan, kelompok ini telah mempergunakan kekacauan sipil yang disebabkan oleh invasi AS di Irak dan konflik berkelanjutan di negara tetangganya, Suriah. ISIS telah menganiaya Syiah, Muslim, Kristen, Yazidi, dan kelompok minoritas lainnya dalam upaya mensahkan keberadaan mereka dan menyebarkan versi Islam sesat. Kebrutalan dan tindakan mereka mendapat kecaman sedunia dari umat Muslim, para pemimpin komunitas Muslim, negara-negara Muslim, dan bahkan kelompok-kelompok ekstrimis lain seperti al-Qaeda.

Bersamaan dengan kemunculan tanggapan yang seragam terhadap ISIS, lagi-lagi kita menyaksikan kemunculan khilafah bentukan lainnya – kali ini di utara Nigeria. Oleh Boko Haram, bahkan. Yang satu ini adalah kelompok yang secara sistematis menculiki para pelajar wanita, membom sekolah-sekolah, dan memunculkan kengerian di kalangan orang-orang tidak bersalah. April lalu, lebih dari 200 wanita muda diculik dari sebuah sekolah oleh kelompok ini, dan pemimpinnya Abubakar Shekau dengan lancang menyatakan bahwa mereka akan dinikahkan paksa dan dijual sebagai budak atas nama Allah dan Islam.[i] Tidak cukup sampai di situ, Boko Haram juga menyuarakan dukungannya untuk ISIS dan pemimpinnya Abu Bakr Al-Baghdadi – namun mengumumkan khilafah mereka sendiri beberapa pekan kemudian.[ii]

Saat mendengar tentang “khilafah” ISIS dan Boko Haram, saya langsung bertanya-tanya siapa mereka ini, dan mengapa mereka merasa memiliki hak untuk mendirikan khilafah di tahun 2014. Sistem politik dan keagamaan ini adalah sistem asli Islam dan muncul setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW. Istilah khilafah bermakna “pergantian” dan khalifah adalah “penerus” yang memimpin dengan berpegangan pada hukum dan adat istiadat Islam.

Saat khilafah pertama dimulai setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kejadian ini memecah umat Islam, yang tidak menemukan kesepakatan dalam menentukan siapa yang berhak menjadi pemimpin. Selanjutnya muncul khilafah Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah, Sokoto, dan Ottoman yang berkuasa di seluruh dunia Arab dan beberapa bagian Afrika, Asia, dan Eropa. Khilafah-khilafah ini mengalami banyak pemberontakan serta perpecahan politik dan ideologi.

Contoh-contoh di atas menunjukkan bahwa meski khilafah adalah bagian sejarah Islam, keberadaannya tidak lantas membutakan orang untuk sekadar mengikuti, atau bahwa perselisihan tidak terjadi. Tidak pula berarti jenis-jenis khilafah yang sama ada di mana-mana. Sebagai contoh, khilafah Fatimiyah didirikan dan dijalankan oleh Muslim Syiah Ismailiyah, sementara khilafah Sokoto berawal dari Muslim kulit hitam di Afrika Barat. Hal ini mungkin sekali terjadi karena Islam adalah agama yang terdiri dari beragam aliran, mazhab, ras, wilayah, dan budaya. Muslim itu berbeda-beda, maka tidak mungkin pula sekelompok orang membuat klaim bahwa mereka adalah perwakilan tunggal atau perwakilan terbaik dari umat Muslim.

Yang sama mengganggunya adalah kenyataan bahwa para “khilafah” abad ke-21 ini meyakini bahwa versi Islam mereka yang ultra ortodoks dan opresif-lah yang layak. Di dalam khilafah sebelumnya, umat Muslim harus belajar hidup berdampingan dengan beragam kelompok keagamaan. Hasilnya, Islam merasakan Masa-Masa Keemasan saat umat Kristiani membantu umat Muslim menerjemahkan mitologi Yunani ke dalam bahasa Arab, dan saat di mana ilmu pengetahuan tentang sains, matematika, arsitektur, seni, dan kedokteran berkembang pesat. Khilafah-khilafah ini bukannya tidak mengalami insiden dan konflik, namun keseimbangan tetap ditegakkan agar berbagai kelompok berbeda bisa hidup bersama.

Sebaliknya, “khilafah” baru ini telah menghancurkan masjid-masjid Syiah, mengambil alih gereja-gereja, memaksa umat Kristiani untuk menjadi mualaf atau terancam dibunuh atau diasingkan dari tanah airnya, dan membunuh serta menculik orang-orang tidak bersalah. Berbagai tindakan sembrono ini dilakukan oleh orang-orang yang tidak kenal dan paham Tuhan. Yang mereka dirikan bukan khilafah; namun kesempatan untuk merebut kekuasaan di tempat-tempat yang rapuh secara politik, tidak peduli bagaimana caranya.

Dari tempat saya berada di Karibia sini, sebagaimana dari banyak tempat lainnya, saya hanya menyaksikan bagaimana kejadian ini akan bergulir. Karena secara fisik jauh, saya bisa menolak yang katanya “khilafah” ISIS dan Boko Haram, karena tahu saya akan aman-aman saja. Namun mereka yang hidup secara langsung di bawah rezim ini mungkin tidak memiliki kesempatan untuk tidak mengakui keberadaannya, karena mengkhawatirkan kelangsungan hidup dan keamanan keluarga mereka.

Hidup jauh dari kekerasan yang dilakukan kelompok-kelompok ini merupakan keistimewaan yang dinikmati oleh banyak umat Muslim. Namun hal ini juga membebani kita dengan tanggung jawab lebih besar untuk bersuara menentang kejahatan yag kita saksikan, bahkan meski artinya menentang diri kita sendiri.

Meski sakit mengatakannya, “khilafah” yang baru ini adalah bagian dari diri kita sebagai Muslim. Seperti halnya kelompok-kelompok teroris dan ekstrimis lain, mereka muncul dari kegelapan yang digerakkan oleh sektarianisme, xenophobia, intoleransi beragaman, dan diskriminasi yang berurat berakar. Untuk membebaskan diri kita dari hal ini, kita harus melakukan refleksi pribadi dan reformasi sosial yang luas tentang bagaimana Muslim berinteraksi dan berpartisipasi dengan dunia di sekeliling kita. Tanpa hal ini, kita akan terus tidak berdaya menghadapi kemunculan berbagai kelompok yang membunuh dan membantai atas nama Tuhan di seluruh penjuru dunia.

________________________________________

[i] Aminu Abubakar and Josh Levs, ‘“I will sell them,” Boko Haram leader says of kidnapped girls’, CNN, 6 Mei 2014, dapat dilihat di sini
[ii] Jessica Chasmar, ‘Boko Haram leader declares Islamic caliphate in Nigeria’, Washington Times, 24 Agst 2014, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style