Modest Style

Kerumitan Menjadi Orangtua di Era Digital

,

Perubahan mencengangkan dalam era digital menyoroti pentingnya pengasuhan anak yang baik, ujar Afia R Fitriati.

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Menjadi seorang ibu terkadang membuat saya merasa tua. Kemarin lalu, saya sedang memperhatikan anak saya mengambil foto dengan ponsel kamera saya, dan tiba-tiba saya tersadar bahwa dunia tempat ia tumbuh nanti akan sangat berbeda dengan dunia yang saya tahu.

Bahkan di usia empat tahun, ia telah berbincang dengan baik dalam bahasa Inggris, ia dapat menuliskan namanya menggunakan Microsoft Word, dan ia mengoperasikan tablet saya dengan cekatan saat bermain permainan favoritnya. Sebagai perbandingan, saya mendapat pelajaran bahasa Inggris formal baru saat remaja, menggunakan komputer pertama kali saat duduk di bangku sekolah menengah, dan memiliki telepon seluler pertama kali beberapa tahun setelah lulus universitas.

Saat itu, pilihan karir cukup terbatas dan konvensional. Saya dan teman-teman tumbuh dengan cita-cita menjadi arsitek, akuntan, pengacara, insinyur, dan dokter.

Kemudian dunia berubah.

Arsitek, akuntan, dan pengacara memang masih ada (setidaknya untuk saat ini), namun banyak pekerjaan bertitel fantastis bermunculan di kartu-kartu nama dan tanda tangan surel belakangan ini. Apakah produser digital sama dengan produser film? Apakah Anda harus supel untuk menjadi manajer media sosial? Apakah kapitalis ventura adalah jenis superhero baru?

Bukan hanya titel pekerjaan yang berubah. Saya iseng mengambil kelas pemrogaman tahun lalu, namun instrukturnya kemungkinan besar berbahasa Rusia karena saya tidak dapat memahami satu pun hal yang ia ajarkan. Seorang rekan kerja baru-baru ini menceritakan kepada saya tentang sebuah acara untuk perusahaan-perusahaan baru yang ia datangi – ia adalah satu-satunya orang berusia 30an di antara para CEO berusia 20an. Rekan kerja lain menyatakan bahwa ponsel saya “kuno” – padahal ponsel itu baru berumur lima tahun! Mengapa bumi seakan berputar lebih cepat sekarang?

Menakutkan rasanya menyadari bahwa tanggung jawab saya sebagai orangtua termasuk mengajari dan mempersiapkan anak saya dengan kemampuan yang berguna sehingga ia dapat menghidupi dirinya di masa depan. Padahal saya hampir tidak tahu dan tidak dapat membayangkan bagaimana “masa depan” ini. Mungkin hal ini menjawab mengapa sebagian orangtua terobsesi dengan nilai akademis anak-anak mereka.[i]

Namun, saya berjanji pada diri sendiri bahwa saya tidak akan menjadi orangtua macam itu.

Titel pekerjaan bisa jadi berubah dan beberapa mata pelajaran boleh dihilangkan, namun di luar itu semua, saya lebih peduli tentang bagaimana mengajarkan anak saya nilai-nilai yang penting dan abadi. Saya yakin ia akan memiliki kehidupan yang baik – apapun profesi pilihannya – jika ia memiliki integritas dan moral di manapun ia berada.

Dan sebenarnya itulah bagian tersulit dari pengasuhan anak. Meski mudah membayar guru les untuk mengajarkan trigonometri atau bahkan bahasa pemrograman C++ pada anak, menanamkan nilai-nilai baik sepuluh kali lebih sulit. Saya harus menjadi orangtua pemberi contoh, dan saya harus selalu menjaga perkataan saya. Lalu ada YouTube, permainan video, dan segala macam bentuk pengaruh media yang harus saya saring dan jelaskan secara berhati-hati setiap harinya.

Ini tidak mudah dilakukan, namun menyenangkan rasanya mengetahui bahwa sebagai orangtua, peran saya tidak akan dianggap ketinggalan zaman dalam waktu dekat. Meski mungkin putra saya akan segera melebihi saya dalam diskusi teknologi dan ilmu pengetahuan, saya akan tetap ada untuknya saat ia membutuhkan pelajaran tentang disiplin dan kerendahan hati. Pelukan hangat untuknya juga akan selalu ada.

________________________________________

[i] Daniel Wong, ‘Real reason behind Singapore’s obsession with tuition’, Yahoo! News, 13 Jun 2012, ada di sini

Leave a Reply
<Modest Style