Modest Style

Kendalikan Amarah dengan Diam

,

Alayna Ahmad berbagi kiatnya dalam mengatasi saat-saat yang kurang menyenangkan.

Image: Pixabay
Image: Pixabay

Akan ada banyak hari di mana kita dicoba, diuji, dan bahkan dibuat jengkel. Ini bisa disebabkan oleh sekian banyak faktor termasuk benturan kepribadian, perselisihan, atau kesalahpahaman di antara kita dan orang lain. Pada kesempatan tersebut, kita cenderung terbakar oleh rasa kesal atau bahkan kemarahan, yang menyulut percakapan dan tindakan yang kemudian kita sesali. Bagaimana kita bisa mengendalikan emosi agar tetap tenang dan menghargai apa pun yang terjadi?

Sewaktu saya lebih muda, saya mengalami banyak episode di mana saya dikuasai oleh rasa murka. Apa pun hal remeh yang menjengkelkan saya akan mendorong saya ke batas kesabaran, yang hasilnya adalah luapan kemarahan dan hari-hari yang menjengkelkan. Namun, selama beberapa tahun terakhir saya telah belajar untuk merendahkan hati dan bersabar pada kesempatan-kesempatan semacam itu. Ini bukanlah sesuatu yang saya peroleh dalam satu hari. Butuh waktu bertahun-tahun untuk menguasainya dan saya masih jauh dari sempurna. Ada hari-hari ketika saya kalah. Bagaimanapun, saya hanya manusia biasa. Yang bisa saya lakukan adalah mencoba dan mencoba lagi, belajar dari kesalahan sebelumnya.

Hal pertama yang saya lakukan ketika tahu saya ingin marah adalah tetap diam dan membaca: ‘A’udzu billahi min asy-syaytanirrajim’, yang berarti ‘Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk’. Karena kemarahan berasal dari setan, satu-satunya cara untuk mengatasi ini adalah dengan kembali kepada Allah untuk perlindungan dan kesabaran. Nabi Muhammad (saw), ketika marah, biasanya selalu tetap diam. [i] Para sahabat terdekat beliau akan mengetahui bahwa beliau tengah marah meskipun beliau tidak pernah meninggikan suaranya atau menggunakan gerakan tangan. Mereka tahu beliau harus diam untuk menenangkan diri dan menyiapkan respons.

Hal kedua yang saya coba lakukan adalah pergi dari situasi itu. Dengan sopan saya memohon diri dan berjalan pergi, terutama ketika saya tahu bahwa tetap tinggal hanya akan memperburuk suasana. Saya mungkin menjernihkan kepala dan berjalan-jalan, atau sekadar meluangkan waktu untuk memproses peristiwa dan mengartikulasikan balasan. Jika masih terdengar rumit dan kasar di kepala saya, itu berarti saya belum mampu merumuskan respons yang tepat.

Setelah mengetahui apa yang ingin saya katakan, saya akan mencurahkan semua upaya untuk memperbaiki kesalahan dan meluruskan semua kesalahpahaman. Dengan harapan, pihak lain merespons dengan cara yang positif dan semuanya baik-baik saja. Namun, jika responsnya negatif, maka saya tahu bahwa setidaknya saya sudah mencoba dan saya tidak perlu menyesalinya di masa depan.

Kesabaran dan kemarahan saya paling sering diuji oleh orang yang tidak saya kenal baik. Banyak di antara mereka yang menganggap sikap diam saya sebagai tanda kelemahan atau respons pengecut, padahal sebenarnya dibutuhkan lebih banyak keberanian untuk tetap tenang dalam situasi marah daripada untuk menyerang balik. Sangat mudah untuk memaki atau mengucapkan hal-hal kasar kepada orang lain, tetapi inilah pertempuran dengan diri sendiri untuk tetap tenang dan terkendali.

Abu Hurairah meriwayatkan: ‘Saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda: Orang kuat bukanlah yang jago bergulat. Mereka bertanya: Ya Rasulullah, maka siapakah manusia yang kuat itu? Beliau berkata: dia yang mengendalikan nafsunya ketika sedang marah.’ [ii]

Banyak orang tua sering marah tentang berbagai hal. Kadang-kadang mereka marah-marah karena mengalami hari yang buruk akibat sakit atau kurangnya kemampuan bergerak. Saya yakin kita semua memiliki setidaknya satu individu pemarah dalam keluarga kita.

Saya menaruh hormat pada orang yang lebih tua, terutama jika mereka sudah berusia lanjut. Mereka bisa memaki saya, meneriaki saya atau mengatakan hal-hal buruk, tapi saya tidak pernah membalas sentimen yang tidak menyenangkan itu. Saya akan tersenyum, menunduk, dan minta diri. Sering kali, orang tidak sungguh-sungguh bermaksud mengatakan hal-hal yang mereka katakan ketika mereka marah. Karena saya mengakui orang tua memiliki lebih banyak pengalaman hidup dan jauh lebih bijaksana daripada saya, saya merendahkan diri dan mengalah.

Seiring waktu berjalan, mencoba mengendalikan amarah menjadi lebih mudah untuk dilatih. Pendekatan yang berbeda dalam mengelola kemarahan berhasil pada orang yang berbeda dan situasi yang berbeda-beda. Bayangkan saja Anda sedang berjihad akbar melawan diri sendiri, dan kemarahan dipersonifikasikan sebagai musuh utama Anda. Jika Anda memilih untuk melawan, persenjatai diri dengan kesabaran dan diam adalah langkah pertama dalam memenangi pertempuran.

Tetapi, untuk memenangi perang butuh bertahun-tahun kepiawaian dalam bidang ini. Ketika menghadapi musuh kemurkaan, diam telah menjadi modal terbaik dan saya sering mengandalkannya. Jika niat kita dari hati, seiring waktu, semuanya menjadi mudah.

[i] Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas, dalam Al Adab Al Mufrad, tersedia di sini.
[ii] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dalam Muslim, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style