Modest Style

Kenangan Natal Seorang Mualaf

,

Kenangan dan tradisi yang menyenangkan seputar masa perayaan Natal membantu menjaga ikatan antara Meaghan Seymour dan keluarganya.

(Gambar: Pixabay)
(Gambar: Pixabay)

Saat saya baru saja berpindah keyakinan menjadi seorang muslim, saya berjuang untuk merekonsiliasi pentingnya Natal dalam kehidupan saya berdampingan dengan keyakinan baru saya.

Ini adalah isu serius yang saya diskusikan dengan rekan sesama mualaf, dengan mengajukan argumen bahwa keluarga saya tak sungguh-sungguh religius, dan bahwa momen liburan tersebut adalah satu-satunya waktu dalam setahun di mana kami bisa bersama-sama terbebas dari pekerjaan masing-masing.

Meski demikian, banyak rekan dan sumber-sumber yang saya rujuk saat itu berulang kali menyampaikan kepada saya bahwa merayakan liburan ‘Kristiani’ tersebut dengan keluarga saya sama artinya dengan melanggar batasan-batasan keagamaan. Walaupun, rasanya ada yang mengganjal perihal ide menafikan sebuah tradisi yang begitu melekat dalam diri saya dan begitu dipenuhi dengan kebahagiaan.

Meski saya bukan lagi kanak-kanak, saya mengakui bahwa saya masih merasakan sensasi yang anak-anak rasakan saat mendekati masa liburan. Salju pertama yang turun, semerbak wewangian dan pemandangan yang muncul sepanjang musim ini, semuanya membangkitkan kenangan indah akan masa kecil. Dan saya mulai mendambakan roti-jahe, kukis butter, serta sari apel panas yang selalu saya asosiasikan dengan suasana liburan – segala jenis bahan makanan bercita rasa pekat dan hangat yang menjadi penyeimbang musim dingin di Kanada.

Memasuki tangggal 1 Desember, rumah keluarga saya akan diliputi kerlap-kerlip untaian lampu warna-warni. Kami akan memulainya dengan membongkar kotak-kotak pernik dekorasi  dari tempat penyimpanan, beberapa di antaranya adalah buatan saya dan saudara laki-laki saya saat masih anak-anak. Kami memilih cemara yang paling sempurna dan memasangnya di dalam rumah untuk menghiasnya. Ibu saya akan sibuk memanggang jejeran penganan manis yang lezat, dan kami semua menonton film Natal klasik yang ditayangkan di televisi. Telah menjadi kebiasaan yang berulang untuk menonton film-film yang sama setiap tahun bersama-sama, meski kami sudah hapal betul kisahnya sejak awal hingga akhir.

Seluruh rangkaian persiapan yang menyenangkan itu pada akhirnya akan berujung pada hari Natal tanggal 25 Desember, saat kami membuka hadiah dan merayakannya bersama-sama keluarga besar. Sinterklas kabarnya datang di malam sebelumnya, jadi semasa kecil saya selalu bangun lebih awal dari orangtua saya, tak sabar untuk melongok isi kaos kaki saya.

Salah satu kenangan Natal favorit saya adalah saat bangun tidur dan menemukan potongan kain merah di kursi makan. Ibu saya dengan apik meletakkannya di sana setiap tahun agar terlihat seperti potongan pakaian Sinterklas telah tersangkut saat ia duduk menyantap susu dan kukis yang telah disediakan untuknya. Dengan pongah kemudian saya akan membawa-bawa potongan kain itu selama dua hari, merasa sangat bangga memamerkan kepada setiap orang bahwa Sinterklas betul-betul telah mendatangi rumah saya.

Tentu saja, saya bisa memahami perasaan banyak orang yang dibesarkan di luar tradisi ini, termasuk juga rekan-rekan muslim saya, yang berpendapat bahwa menjaga tradisi Sinterklas sama dengan mengekalkan kebohongan. Bila saja saya dibesarkan dalam kondisi berbeda, saya pun kemungkinan besar akan berpendirian serupa.

Bagaimanapun, tumbuh besar bersama Sinterklas, saya juga dapat memahami mengapa sosoknya begitu dicintai dan kisahnya diabadikan dengan nuansa kegembiraan. Ini adalah tradisi yang tidak dipertanyakan dengan kritis, karena lewat lagu-lagu, cerita dan sekian banyak pencitraan, Sinterklas telah menjadi ikon utama dari masa liburan.

Terlebih lagi, orangtua dari generasi yang lebih muda memiliki suka-cita kenangan masa kecil saat menantikan dengan penuh semangat kunjungan Sinterklas dan ingin agar putra-putri mereka merasakan keceriaan yang sama seperti yang pernah mereka alami. Lagipula, jerih-payah rahasia para orangtua yang menjaga mitos Sinterklas adalah satu dari beragam cara orangtua mengekspresikan cinta mereka.

Satu hal yang selalu membuat saya kagum adalah saat mendengarkan kisah kakek-nenek saya saat mereka menerima hadiah berupa sebutir jeruk dalam kaos kaki mereka: sebuah kemewahan di zamannya! Namun kini, sebagian orang merasa berkewajiban untuk berfoya-foya membeli beragam hadiah sehingga harus berutang selepas Natal. Tak heran jika beberapa kelompok Kristiani mulai menyeru terhadap sesama untuk mengubah materialisme dengan hal yang lebih spiritual, dan merefleksikan kesederhanaan dalam karakter seorang Yesus (alaihis salaam).

Untungnya, kebanyakan dari mereka juga berkeinginan untuk memberi lebih kepada mereka yang membutuhkan sepanjang masa liburan ini. Salah satu favorit saya adalah sebuah aksi derma dengan cara mengumpulkan hadiah di pusat perbelanjaan bagi keluarga yang tak mampu membelikan kado Natal untuk putra-putri mereka. Seringkali, benda-benda yang mereka minta adalah kebutuhan dasar yang bisa jadi kita dapatkan tanpa jerih-payah, seperti sepatu bot musim dingin atau celana panjang musim salju. Jadi, di saat mungkin masih ada sedikit dorongan keinginan yang bersifat material, ini adalah kesempatan bagi banyak orang untuk mewujudkan bentuk kebaikan dan kemanusiaan.

Saya tentunya merayakan dua hari raya Islam, namun liburan akhir tahun memiliki dua makna yang berbeda bagi saya. Saya menganggap perayaan Idul Fitri maupun Idul Adha sebagai momen spiritual yang menggugah (terutama Idul Fitri, yang merupakan perayaan yang dicapai dengan susah payah setelah sebulan penuh menjalani puasa). Bagaimanapun, saya akan mengatakan bahwa keduanya telah membuat saya mendefinisikan ulang bagaimana saya harus merayakan liburan bersama keluarga, seiring upaya saya menanamkan pemahaman dan apresiasi Islami akan kesederhanaan dan kesahajaan ke dalamnya.

Meski saya menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai remaja pemberontak yang mengharapkan kemandirian dari keluarga, saya tumbuh dewasa dengan memahami betapa besar keberkahan yang saya terima karena telah memiliki keluarga dan kenangan indah ini. Orangtua serta kakek-nenek saya tak selamanya berada bersama saya untuk memanggang camilan manis kesukaan saya atau menggantungkan hiasan-hiasan yang begitu akrab di hati – hal-hal kecil yang tak lagi saya anggap sepele, dan memori yang agaknya tak akan terulang lagi dengan anak-anak saya nanti.

Para mualaf menetapkan keputusan pribadinya masing-masing tentang apakah mereka akan atau tidak – serta bagaimana – merayakan liburan Natal di akhir tahun yang diperingati oleh keluarga besar mereka. Saya berkesimpulan bahwa meski saya mengambil jalan spiritual yang berbeda dengan keluarga saya, kenangan dan tradisi membahagiakan ini tak hanya akan membuat saya utuh, namun juga akan menyatukan kami sebagai keluarga.

Leave a Reply
<Modest Style