Modest Style

Kenangan Hari Raya

,

Maryam Yusof dari situs komunitas fesyen HijabLook.com berbagi penghayatan terdalamnya tentang Idul Fitri.

[Not a valid template]

Tak seperti rumah tinggal milik keluarga Melayu-Singapura lainnya, Anda tak akan menemui lampu kelap-kelip aneka warna menghiasi jendela rumah keluarga saya, atau rangkaian ketupat berwarna hijau terang terbuat dari pita menghiasi pintu masuk rumah kami di hari-hari menjelang Hari Raya, sebagaimana Idul Fitri biasa dikenal di sini. Mungkin satu-satunya tanda bahwa kami sedang merayakan Hari Raya adalah sajian kue-kue lezat yang tertata rapi di meja tamu kami.

Sebagai kanak-kanak, kurangnya kemeriahan dan nuansa perayaan dalam keluarga saya tidak pernah menjadi masalah. Hari Raya punya sentuhan magisnya sendiri dan saya selalu menantikan saat-saat itu. Saya akan bangun di waktu Subuh dan merasa seperti orang hebat karena boleh makan setelah pukul 5.30, dan memakai baju baru yang dibelikan ibu saya dari Pasar Geylang. Biasanya baju yang dibelikan adalah sejenis baju kurung yang bermodel serupa (tapi jarang berwarna sama) dengan saudara perempuan saya, meski pernah di suatu tahun baju baru saya adalah model ‘Gaun Vietnam’ yang saat itu untuk suatu alasan menjadi sangat populer.

Kami akan memulai hari dengan berkumpul bersama sanak kerabat di rumah kakek saya dan minta maaf kepada kerabat yang lebih tua. Keluarga besar dari pihak ayah kemudian akan mengunjungi paman dan bibi ayah saya di seantero Singapura dan kami bepergian dengan kendaraan masing-masing. Para sepupu saya dan saya akan membuat perjalanan ke tiap-tiap rumah seperti sebuah balapan, menyemangati ayah kami untuk saling mendahului dengan cepat dan memanfaatkan jalan pintas agar bisa menjadi yang pertama tiba di tempat tujuan.

Di antara nikmatnya hidangan lontong dan rendang yang luar biasa enaknya, juga banyaknya amplop hijau berisi uang yang tersimpan di tas kecil saya, rasanya saya tidak pernah menginginkan Hari Raya berakhir.

Di antara nikmatnya hidangan lontong dan rendang yang luar biasa enaknya, juga banyaknya amplop hijau berisi uang yang tersimpan di tas kecil saya, rasanya saya tidak pernah menginginkan Hari Raya berakhir. Dan untungnya Hari Raya berlangsung selama satu bulan. Di masa itu, Hari Raya seringkali bertepatan dengan libur panjang akhir tahun sekolah dan memiliki ibu yang tidak bekerja berarti kami hampir selalu bepergian dan mengunjungi teman dan kerabat hingga akhir Syawal.

Saat saya memasuki usia remaja, semangat itu seolah menghilang dan Hari Raya hanya berarti akhir dari bulan Ramadhan. Ditambah lagi, Hari Raya seringkali bertepatan dengan waktu ujian akhir sehingga saya kehilangan semangat untuk merayakan apa pun dan hanya menantikan saat pulang ke rumah dan berkutat dengan buku-buku saya (ya, saya memang seorang kutu buku).

Bagaimanapun satu hal yang masih saya nantikan adalah saat berkumpul bersama keluarga di pagi hari di Hari Raya. Keluarga besar saya cukup sering bertemu, namun berkumpul di Hari Raya seperti sebuah acara puncak tahunan. Kami akan bersenda gurau dengan sepupu-sepupu yang lebih muda sambil bermain kembang api kecil (walaupun menurut mereka, benda itu disebut ‘firework’) dan berfoto bersama seluruh keluarga dalam pakaian terbaik kami. Sebelum mulai berangkat mengunjungi sanak saudara, kami akan melakukan kebiasaan saling bermaafan yang akan membuat setiap orang menangis terharu – dan kemudian saya menyadari apa yang terpenting di Hari Raya.

Hari Raya bukan perihal berbusana dalam pakaian yang khusus dijahitkan tiga bulan lebih awal, atau memasang tirai baru yang serasi dengan seprai tempat tidur baru. Namun momen ini adalah tentang keluarga, dan Hari Raya adalah saatnya silaturahmi. Sepuluh tahun lalu, butuh waktu tiga hari bagi keluarga saya untuk mengunjungi rumah dari seluruh sanak kerabat, tapi dalam beberapa tahun terakhir, kami cukup menghabiskan waktu sehari saja mengunjungi hampir seluruh rumah saudara karena banyak sesepuh keluarga telah meninggal dunia.

Ya, Hari Raya memang berarti perayaan – dan juga tentang menghargai mereka yang masih ada bersama kita. Sebelumnya saya tidak melihat pentingnya mengunjungi sanak saudara setahun sekali. Namun sekarang, saya menyadari bahwa saya merindukan saudara-saudara di momen spesial ini, bahkan mereka yang tidak akrab dengan saya.

Sudah seharusnya kita menghargai keluarga yang masih ada bersama kita dan memanfaatkan momen Hari Raya untuk memperkuat silaturahmi antarkeluarga, kesampingkan dahulu segala perbedaan yang mungkin ada di antara kita, dan saling memaafkan. Eid Mubarak dan Selamat Hari Raya!

DAFTAR ISTILAH

  • Pasar Geylang: Bazar kebutuhan pokok Hari Raya yang berlangsung setiap Ramadhan di Geylang Serai di Singapura. Kita bisa menemukan baju-baju untuk Hari Raya, kerudung, hiasan, peralatan rumah dan beragam makanan di sini
  • Baju Kurung: Busana tradisional melayu yang terdiri dari tunik panjang dan roknya yang serasi untuk perempuan atau kemeja dan celana panjang untuk laki-laki.
Leave a Reply
<Modest Style