Modest Style

Kembali ke Susu Murni

,

Karena tumbuh dengan pilihan serba pasteurisasi dan homogenisasi, kebanyakan dari kita mungkin tidak kenal susu murni. Setelah bertahun-tahun terpaksa mengonsumsi susu encer, Eren Cervantes-Altamirano akhirnya mencari tahu tentang susu murni dan berbagi tentang kegunaannya dengan kita.

(Gambar: Pixabay)
(Gambar: Pixabay)

Saya tumbuh di daerah perkotaan saat di mana pemikiran tentang “perkembangan” dan “modernisasi” adalah topik utama. Pada akhir 70an dan 80an, tidak hanya susu pasteurisasi dan homogenisasi menjadi susu yang “sebenarnya”, namun perusahaan asing juga memperkenalkan susu bubuk ke Mexico. Susu murni (yang tidak melalui proses pasteurisasi maupun homogenisasi) tidak dijual di supermarket besar. Peternak susu sapi mengantarkan susu mereka dari rumah ke rumah. Jadi, supermarket hanya menjual susu pasteurisasi dan homogenisasi bersama dengan susu bubuk, yang mahal dan merupakan barang mewah.

Di Mexico, pergerakan menuju jenis susu yang komersil tidak ada hubungannya dengan masalah hukum, namun merupakan masalah perubahan tren dan kemudahan. Keluarga tidak memerlukan peternak untuk mendapatkan susu karena sekarang mereka dapat membelinya di supermarket. Selain itu, pihak pemerintah dan perusahaan swasta mendorong masyarakat untuk membeli susu di supermarket. Mereka menyatakan bahwa komersialisasi susu tidak hanya baik bagi perekonomian, namun juga meningkatkan standar produksi. Semasa kecil, saya ingat iklan-iklan susu komersil meyakinkan penonton bahwa susu bubuk lebih menyehatkan daripada susu sapi karena adanya kandungan vitamin dan kandungan tambahan lainnya; selain juga menarik bagi ibu-ibu sibuk karena bentuknya yang lebih mudah dibawa.

Meski susu murni tetap populer di daerah pedesaan seperti di tempat nenek saya, ibu saya ingat bahwa perubahan ke penggunaan susu komersil dan masuknya perusahaan asing sangat mempengaruhi banyak keluarga seperti keluarga mereka yang mendapatkan penghasilan dari beternak dan berjualan produk susu. Penjualan susu murni jatuh, dan muncul anggapan populer bahwa hanya “orang-orang bodoh yang miskin” yang mau meminum susu murni.

Saya mesti mengakui bahwa, karena tumbuh di Mexico City, saya awalnya tidak menyukai rasa susu murni. Namun, tinggal di kota besar pada masa di mana produk-produk Amerika membanjir masuk melewati perbatasan di tahun 80an dan 90an, saya tidak dapat mengatakan bahwa ada banyak produk negeri sendiri yang saya suka. Saat kecil, stik ikan dan naget ayam sangat populer, dan saya pun melalui fase di mana satu-satunya jenis ikan yang saya mau makan hanyalah yang berasal dari kemasan. Ibu saya yang tumbuh di lingkungan peternakan sempat merasa kesal dengan betapa tidak pedulinya generasi kami pada masalah makanan dan nutrisi.

Sekarang sebagai orang dewasa, saya berhutang budi atas perubahan yang saya alami pada kepindahan saya ke Kanada. Kali pertama saya dihadapi dengan dilema susu adalah saat saya mencoba membeli krim susu yang merupakan lapisan tipis yang terbentuk saat susu direbus. Di Mexico kami menyebutnya “nata”, dan kami mempergunakan krim untuk berbagai hal, seperti untuk membuat es krim dan kue. Kanada juga mengenal krim susu. Namun di sini Anda tidak akan mendapatkan krim dengan merebus susu yang Anda beli di toko. Siapapun yang tahu bentuk susu murni akan berpikir bahwa susu komersil Kanada sangat encer. Susu di sini diproses hingga hanya menyisakan 1-3 persen kandungan lemak. Saya tidak dapat menerima hal ini; saya tidak percaya orang-orang meminum susu berkandungan lemak satu persen! Setelah merasakan susu paling encer yang pernah saya minum seumur hidup saya di Kanada, saya mempertanyakan masalah peraturan yang ada.

Susu murni dilarang di banyak provinsi di Kanada pada tahun 30an dan 40an. Keharusan pasteurisasi dan homogenisasi diberlakukan. Para peternak tidak diperbolehkan menjual maupun memberi susu murni secara gratis. Mereka hanya diperbolehkan mempergunakannya untuk konsumsi pribadi [i]. Ada inti permasalahan yang harus ditelusuri yaitu masalah pasteurisasi sendiri. Di Kanada, disebutkan bahwa susu murni tidak aman karena adanya bakteri. Pasteurisasi, yang merupakan proses perebusan susu pada suhu tinggi, menghilangkan bakteri dan membuat susu aman dikonsumsi [ii]. Masalahnya, pasteurisasi sendiri tidak menghasilkan susu encer yang kita temukan di toko. Justru proses pasteurisasi dan homogenisasi berulang-ulang lah yang menghasilkan susu dengn nutrisi lebih rendah [iii].

Setelah bertahun-tahun terpaksa mengonsumsi susu encer, saya memutuskan bahwa saya seharusnya memiliki pilihan untuk dapat membeli susu murni. Saya paham bahwa produk ini beresiko, namun bukan hanya susu yang memiliki resiko. Daging-dagingan, juga makanan yang diproses berkali-kali, dapat membahayakan kesehatan. Untuk dapat menemukan susu murni, saya memasuki lahan “pasar gelap” dan justru mendapatkan adanya permintaan yang tinggi untuk susu murni. Susu murni memiliki banyak manfaat. Bila orang-orang menyebutkan bahwa susu murni bermanfaat untuk kesehatan, bagi saya susu murni dapat digunakan untuk berbagai hal. Saya membuat mentega dan mentega susu (membutuhkan waktu 30 menit), es krim, krim kocok, dan krim keju.

Saya merasa susu yang saya beli tidak hanya baik untuk saya, namun juga memiliki nilai tambah karena saya dapat menggunakannya untuk berbagai hal. Yang paling menggembirakan saya adalah saya jadi mempelajari seni tradisional mengolah susu. Saya dapat menghasilkan berbagai hal yang mengejutkan orang.

Jika suatu saat Anda memutuskan mencoba susu murni, ini beberapa tips dari saya:

  1. Saya mempasteurisasi susu, hanya sekali. Mengikuti ajaran nenek saya, saya merebus susu sambil terus mengaduknya selama sekitar 10 menit menggunakan batang kayu manis (nenek saya mengatakan kayu manis akan mematikan bakteri). Proses sekali pasteurisasi ini tidak menghilangkan lemak, rasa, maupun nutrisi susu.
  2. Saya mendiamkan susu di dalam kulkas untuk dua hari. Krim akan terkumpul di atas toples, dan saat itulah saya menyendoknya dan menyimpannya untuk digunakan sebagai krim kocok di lain waktu. Atau, Anda dapat mendiamkannya dalam suhu ruangan selama 6 sampai 12 jam. Simpan susu di dalam wadah bertutup dan kocok dengan kecepatan tetap selama 20 menit. Voila! Anda memiliki mentega dan mentega susu. Anda dapat menyendok mentega, mencucinya dengan air dingin, dan menyimpannya untuk digunakan nanti. Mentega susu (buttermilk) dapat digunakan untuk membuat lapisan pai, kue, dan panekuk.
  3. Jika Anda ingin meminum susunya, kocoklah wadahnya. Kalau tidak, krim tidak akan tercampur rata.

[i] Artikel lengkap terdapat di sini
[ii] EatRight Ontario, ‘Facts of Pasteurization’, terdapat di sini
[iii] Film dokumenter, seperti Farmageddon, mengeksplorasi masalah keamanan dan komersialisasi susu dan hasil peternakan di Amerika dan Kanada.

Leave a Reply
<Modest Style