Modest Style

Kekuatan Kata

,

Kata memiliki kekuatan untuk menyinari atau mengaburkan; untuk menyatukan atau memisahkan; untuk memperkuat atau memperlemah. Dan karena kekuatan untuk menggunakannya ada pada kita, kita harus memikirkan baik-baik apa yang ingin kita ucapkan, tulis Jonathan Wilson.

Muhammad Ali: Masih penuh keangkuhan – alasan utama LV memakainya untuk rangkaian iklan
Muhammad Ali: Masih penuh keangkuhan – alasan utama LV memakainya untuk rangkaian iklan

Saya menyukai kata-kata, dari bahasa apapun. Saya menyukai bunyi dan irama yang mereka hasilkan saat diucapkan. Saya mendapatkan kesenangan dari mempelajari kata baru, mencari tahu dari mana asalnya, dan apa artinya. Saya menyukai bentuk kata-kata saat dituliskan, atau bagaimana mereka terlihat dalam berbagai fon di komputer. Kata-kata terlihat lebih bagus lagi saat dituliskan dengan pena dan dilukiskan dengan tinta; kata-kata juga terlihat keren saat dituliskan dengan kapur atau spidol.

Kita semua sudah pernah bersekolah dan mempelajari bahasa (dan bagi sebagian kita, juga sastra). Kita pernah mendengar lagu dan lirik, melihat iklan dan merek – yang kesemuanya membentuk gambaran di pikiran kita dan mempengaruhi kita dalam bersikap positif atau negatif (meski kadang kita juga bersikap tidak acuh atau netral). Yang lebih menarik bagi saya adalah saat kata-kata berubah. Saya ingin menulis tentang kata-kata tersebut dan bagaimana menurut saya kata-kata itu mengubah kita.

Kita menggabungkan kata, memberikan konteks pada kata, dan menciptakan bahasa. Kebanyakan orang mengatakan intinya adalah untuk membuat diri kita dimengerti, namun pada kenyataannya tidak sesederhana itu. Intinya adalah membuat diri Anda dimengerti oleh sekelompok orang, dengan harapan adanya interaksi. Anda mengatakan sesuatu, Anda mendapat reaksi, dan Anda mengatakan sesuatu kembali – sesuai keinginan Anda.

Mengapa kepada sekelompok orang dan bukannya semua orang? Kalau begitu, kenapa menggunakan kata-kata pintar yang tidak dipahami semua orang? Kenapa menggunakan istilah gaul yang tidak diketahui semua orang? Bahkan, seperti Bahasa Inggris, meski telah menjadi bahasa global, tidak semua orang menggunakannya dengan cara sama. Kata-kata adalah cara kita membentuk identitas dan kepribadian yang unik, dan menghubungkan kita dengan sebuah komunitas.

Jika Anda pernah menonton film Bollywood, Anda dapat melihat tokohnya beralih menggunakan Bahasa Inggris untuk menunjukkan kedudukan mereka dalam masyarakat. Anda mendengar seseorang dijuluki FOMO (fear of missing out – takut ketinggalan) dan tidak tahu artinya. Anda makan kentang goreng atau french fries? Yang mana yang lebih keren: Mispters atau Mipzterz (Muslim hipsters – Muslim masa kini yang keren dan penuh gaya)? Apakah huruf “z” lebih menimbulkan kesan jalanan dan muda? Apakah mereka berbeda dengan scarfies (orang yang hanya mengenakan selendang sepanjang musim dingin)? Apakah Anda akan menggunakan emotikon saat kata-kata kurang ekspresif? Kata juga menentukan cara kita mendefinisikan dengan siapa kita berhubungan.

Dengan semangat filosofis Socrates – bukan berarti saya menunjukkan cara pandang saya sendiri di sini – saya ingin bertanya untuk mengesampingkan masalah perbedaan pendapat dan area abu-abu. Cara ini juga merupakan bentuk pendekatan yang digunakan oleh ilmuwan Muslim klasik Al-Ghazali dan berbagai sekolah hukum masa kini. Mari lihat beberapa kata yang telah lama berada di dalam kepala saya namun masih belum saya mengerti.

Apa arti kata “Islamic”? Kata tersebut berhubungan dengan Bahasa Arab, namun penambahan “-ic” menjadikannya Bahasa Inggris. Sekarang kata Islamic pun digunakan di kalangan Muslim berbahasa Arab. Bayangkan kata Islamic finance (keuangan Islam) dan Islamic economics (ekonomi Islam). Ekonomi berasal dari kata Perancis, Latin, dan Yunani. Apakah hal tersebut menjadikan hubungan kita dengan Islam melemah, atau membuat Islam lebih mudah dipahami? Dalam hal ini, apakah akan lebih masuk akal mengatakan “Islamish” (ke-Islam-an), sehingga orang-orang akan lebih mempercayai barang atau jasa yang ditawarkan?

Anda makan kentang goreng atau french fries?

Anda berasal dari ras apa? Saya pikir kita semua adalah ras manusia? Kita semua tahu bahwa rasisme itu salah, namun apakah rasisme salah karena itu artinya kita sedang memandang ras yang berbeda? Dan karenanya kita memandang orang lain dengan salah, dengan menyatakan bahwa mereka berasal dari spesies lain? Lebih jauh lagi, beberapa orang disebut memiliki ras campuran. Apakah ini sama dengan bagal, yang merupakan keturunan dari keledai jantan dan kuda betina? Jika dilihat dengan cara seperti ini, istilah tersebut konyol dan ketinggalan zaman.

Apa arti kulit hitam? Anda bisa saja berasal dari Brazil, Nigeria, Saudi Arabia, Australia, Jamaika, India, bahkan Chechnya, dan tergantung pada konteksnya atau siapa yang mengatakannya, istilah “kulit hitam” bisa pas untuk Anda atau pun tidak. Saya tidak tahu saya memiliki seorang ayah kulit putih dan ibu kulit hitam sebelum saya bersekolah. Dan lagi, hal tersebut bukan sekadar masalah warna kulit, namun bisa jadi berhubungan dengan budaya dan kondisi psikologis.

Kata: untuk dampak maksimal, bacalah makna di baliknya
Kata: untuk dampak maksimal, bacalah makna di baliknya

Apakah Anda terganggu saat non-Muslim menulis Moslem dan bukan Muslim? Apakah hal tersebut dikarenakan beban dan konotasi yang tersimpan di balik ejaan kolonial kata tersebut? Jika seorang Muslim menyebut dirinya Moslem, apakah ia menjadi “coconut” (kelapa)?

“Coconut” (kelapa), “banana” (pisang), dan “apple” (apel) adalah istilah merendahkan yang dikaitkan dengan etnis Anda; Anda dituduh hanya berkulit hitam/cokelat, kuning, atau merah, namun bertingkah laku seperti orang kulit putih. Lagipula, apa sih artinya kulit putih? Apakah orang kulit putih berbeda? Ataukah putih artinya murni seperti susu? Dapatkah orang bersikap “hitam”, atau bahkan bersikap “kuning”?

Warna kulit selalu dikaitkan dengan hal lain. Secara historis, akar masalah ini adalah gagasan bahwa orang-orang berkulit gelap menempati posisi terbawah di rantai evolusi, dekat dengan kera. Namun jika kita menilik masalah berjemur, warna kulit Anda dapat mengesankan bahwa Anda berasal dari kaum pekerja kelas bawah yang bekerja kasar di lapangan, atau justru Anda cukup berada untuk membuang-buang waktu berjemur di bawah sinar matahari.

Bayangkan bagaimana sikap Anda dan bagaimana penampilan orang-orang bila tidak ada benua Eropa di tengah-tengah peta 2D

Masih adakah Timur dan Barat? Apakah hal itu hanyalah cara kita untuk memisahkan atau mempertemukan berbagai hal, berbagai tempat, dan berbagai orang? Bayangkan bagaimana ‘Negara Barat’ secara historis, dalam jejak pencerahan dan penemuannya, menggeser “The Orient” atau Negara Timur lebih jauh ke timur. Sekarang kita memiliki apa yang disebut Timur Tengah dan saya dapat menertawakan momen saat memesan sarapan Oriental di hotel-hotel Arab dan bukannya mendapat nasi atau mi namun justru mendapatkan keju, zaitun, kacang polong, hummus, dan roti. Bayangkan bagaimana sikap Anda dan bagaimana penampilan orang-orang bila tidak ada benua Eropa di tengah-tengah peta 2D. Saya mengatakan ini tanpa bermaksud menyatakan bahwa “Timur Tengah” tidak ikut ambil bagian dalam membentuk cara pikir dunia. Dalam Bahasa Arab, maghrib bermakna “barat”, memiliki akar linguistik yang sama dengan kata-kata seperti orang asing, aneh, ayakan, pengasingan, ceroboh, kasar, berpisah, dan matahari terbenam. Saya tidak menyatakan sikap anti-Barat dengan menulis ini.

Jika semua istilah ini dan efek yang dihasilkan bukan masalah besar, maka berdasarkan klasifikasi kelompok etnis relatif, mengapa banyak sekali pemain sepak bola etnis dan sedikit sekali manajer sepak bola etnis? Mengapa ada banyak sekali pelajar etnis, namun sedikit sekali yang menjadi profesor? Dan sekarang pertanyaan untuk kaum Muslim: mengapa sebagian orang ingin mengetahui seberapa gelap warna kulit seseorang saat mencari pasangan; sebagian mencerahkan warna kulit mereka untuk persiapan menikah; sebagian merasa sangat bersemangat saat tahu seorang kulit putih adalah Muslim padahal kita semua setara di mata Tuhan; dan sebagian menggunakan tanda kutip saat menyebutkan “Muslim berkulit hitam”? Bertentangan dengan yang diramalkan dan dengan globalisasi, ras juga telah menjadi lebih rumit dan lebih bertalian dengan budaya. Apakah boleh menyebutkan bahwa Anda tidak ingin menikahi orang dari ras tertentu jika Anda menganggap semua orang setara dan tinggal di tengah-tengah masyarakat multi-budaya?

Inilah hidup, dan kata-kata dipergunakan untuk menyusun dan mengekspresikan pemikiran dan perasaan kita. Kata menciptakan atau merusak tatanan sosial, dan saya ragu hal itu akan berubah. Islam memiliki petunjuk dan riwayat jelas tentang bagaimana kita harus bersikap, yang bertujuan untuk membentuk watak kita. Namun hal tersebut tidak lantas membuat hidup jadi lebih mudah.

Kita tinggal di dunia tempat di mana kata-kata dan pengetahuan serupa dengan pakaian – banyak di antaranya adalah barang bekas, beberapa sudah belel, beberapa adalah barang palsu atau memiliki cacat dari awal, namun itulah yang kita punya dan itu pulalah yang masih dapat digunakan. Jadi pertanyaannya adalah pakaian kata seperti apa yang Anda mau, dan bagaimana Anda ingin terlihat?

Bagaimanapun, kita harus menguasai kata dan bahkan mengubah cara kata tersebut digunakan dan dipahami. Namun setelah menyatakan betapa saya menyukai kata, terkadang menyenangkan juga tidak berpikir terlalu berat tentang kata. Orang mengatakan bahwa kekerasan fisik lebih menyakitkan daripada kekerasan verbal, namun pikirkan dampak penggunaan kata yang telah berlangsung berabad-abad. Perbudakan mental yang dihasilkan oleh penggunaan kata bertahan lebih lama daripada luka dan rantai fisik – terbesit peninggalan perdagangan budak Afrika.

Meski begitu, terlalu mengagungkan kata-kata, istilah, dan cap menutup pintu kreativitas dan menumpulkan indera Anda. Tidak akan ada hip-hop, kebebasan berpikir, Shakespeare, istilah gaul, maupun merek seperti yang kita ketahui sekarang tanpa kebebasan berpikir kekanak-kanakan, kesalahan eja, kesalahan penggunaan, dan kebebasan menggunakan kata yang kita sukai, seperti memilih antara mengatakan “salah saya” atau mea culpa. Keindahan kata-kata terdapat pada proses mengumpulkan, menanamkan, menggunakan, menyempurnakan, dan membagikannya. Kata adalah satu-satunya hal yang kita miliki yang tidak dimiliki mahluk lain.

Leave a Reply
<Modest Style