Modest Style

Kekeliruan Kesan Pertama

,

Seberapa dapat diandalkankah kesan pertama? Tidak terlalu, tutur Dina Toki-O.

[Not a valid template]

Seingat saya, saya telah diajari bahwa kesan pertama berlaku untuk segala hal. Mulai dari hari pertama di sekolah sampai saat wawancara kerja, saya senantiasa dididik untuk tampil seprima mungkin di berbagai momen penting yang ‘menentukan masa depan’ saya demi memberikan kesan pertama yang ‘baik’. Dengan begitu, menurut ajaran yang saya terima, besar kemungkinan saya akan berhasil.

Dalam kehidupan, orang gemar memberi penilaian terhadap sesama. Saya pun demikian; saya bersalah karena menghakimi orang lain, serta melakukan ‘kejahatan’ itu hampir setiap hari. Saya membiarkan kesan pertama mereka, terutama pakaian yang mereka kenakan saat saya melihat mereka, menjadi kesimpulan saya untuk memutuskan apakah mereka baik, jahat, membosankan, pintar, kutu buku, modis, memuakkan, sombong, hippie atau seorang pecundang tulen. Saya yakin Anda bisa memikirkan lebih banyak kata sifat untuk menggambarkan beragam orang yang Anda tatap hanya dalam dua detik.

Sebagai contoh, perempuan yang memakai hijab polos dan abaya dianggap sangat taat beragama, sedangkan perempuan berkerudung yang mengenakan jeans dan atasan modis, hanya berhijab karena mengikuti mode. Perempuan yang memilih rok model pensil dan blazer, membaca buku di kereta api bawah tanah, pasti berpendidikan tinggi. Barangkali dia bekerja di bidang hukum, mempunyai karier yang sukses, banyak uang dan dipuja kaum pria karena rok pensil itu membuat sosoknya sungguh memikat mata.

Lalu kita berpapasan dengan pria muda berjenggot, pemeluk Islam yang religius. Oh, tapi dia memakai jeans, rasanya tidak mungkin dia sereligius itu. Kita juga bertemu dengan seorang ‘ekstremis’ dalam balutan jalabiya panjang tradisional, sorban melilit kepala dan jenggot yang mencapai pusar. Ya, dia pasti melakukan sesuatu yang mengerikan — terlibat aksi terorisme, mungkin?

Tentu saya masih jijik, tapi tidak terlalu lagi — setidaknya mereka masih memiliki sifat terpuji

Berikutnya, tipe si ‘pirang bodoh’ nan cantik yang melintas setiap beberapa jam di siang hari; perempuan yang wajahnya tersaput makeup tebal. Tentu dia rendah diri; itulah kenapa dia ‘bersembunyi’ di balik segala riasan tersebut.

Terakhir, para ‘perempuan murahan’ abad ini yang tampaknya dijuluki begitu berdasarkan ketatnya baju yang dipakai, atau seberapa molek sosok mereka. Seorang perempuan jelita yang tidak mengacuhkan seorang pria otomatis menjadi ‘perempuan murahan’ di mata pria tersebut.

Dan seterusnya.

Semua penilaian di atas dan banyak penilaian lainnya, yang disematkan pada begitu banyak karakteristik, dibuat semua orang setiap hari; ada kalanya Anda bahkan tidak akan memerhatikan penilaian yang Anda buat sendiri.

Minggu ini, saya sempat mengobrol dengan dua teman serumah. Sambil menikmati secangkir teh dan sejumlah suguhan standar ‘sepulang kerja’ (cokelat, cokelat dan lagi-lagi cokelat), sebuah perbincangan menarik dan cukup serius pun mengemuka. Saya memutuskan untuk menceritakannya kepada Anda pada kolom minggu ini.

Pertama-tama, saya akan menceritakan pengalaman hijabi teman serumah saya:

Setiap hari sewaktu parkir di kantor, saya melihat seorang perempuan parkir di seberang saya — saya menyebutnya si ‘pirang terang’. Dia salah satu dari mereka, Anda tahu kan, jenis perempuan dengan rok mini, rambut pirang yang di-bleach dan riasan tebal. Pendek kata, dia bukan tipe orang yang saya sukai.

Saya tidak pernah bicara dengannya, maupun sangat ingin melakukannya. Dia itu… ih. Tetapi hari ini, tepat sehabis parkir, saya keluar dari mobil dan melihat dia menghampiri saya. Saya membatin, ‘Ya Tuhan, mau apa dia?’ Lalu dia mengatakan, ‘permisi’. Jadi saya, tentu saja, menjawabnya dengan ucapan semacam, ‘Ya, ada apa?’ Cukup kasar sih sejujurnya. Dan Anda tahu apa yang ditanyakannya kepada saya? ‘Permisi, Anda salat di mana di kantor? Saya tidak bisa menemukan tempat yang cocok, jadi saya harus pulang ke rumah setiap jam makan siang untuk salat.’

Saya sangat terperanjat, butuh sejenak untuk menjawabnya. Sepanjang hari itu, pertemuan kecil tadi membuat saya berpikir. Saya tidak akan pernah menyangka perempuan itu muslim, apalagi menunaikan salat dan cukup taat untuk pulang ke rumah setiap waktu makan siang untuk salat. Jika dia tidak mendatangi saya, saban hari saya akan terus berasumsi yang sama tentang dirinya. Padahal bisa saja sifatnya lebih baik dari sifat saya selama ini.

Sekarang, pengalaman pribadi saya:

Beberapa waktu lalu saya naik kereta api bawah tanah, dan tentu selalu ada pria Timur Tengah hidung belang yang kebetulan berada di gerbong yang sama dengan saya. Kali ini, ada dua pria mata keranjang. Mereka terus menatap saya, menciptakan mimik muka dan segala isyarat lain yang membuat perut saya mulas dan berharap bisa melayangkan tendangan ke wajah mereka seraya berteriak, ‘APA YANG KALIAN LIHAT, HAH?’

Saya baru saja pindah ke kursi belakang, tapi tidak membuat mata genit mereka berhenti mengikuti gerakan saya. Di stasiun berikut, banyak penumpang yang naik tapi kursi yang tersedia tidak cukup. Sepasang kakek-nenek lanjut usia memasuki kereta. Sejenak saya ragu, apakah saya perlu berdiri atau tidak untuk merelakan kursi saya untuk mereka. Begitu saya memutuskan untuk menyerahkannya, tak lama setelah saya mendongak untuk mempersilakan mereka duduk, kedua ‘pria hidung belang’ itu sudah bangkit dan memberikan kursi mereka kepada pasangan tersebut. Tiada keraguan sedikit pun dalam tindakan mereka. Mereka segera berdiri begitu sepasang manula itu naik. Saya tidak pernah melihat siapa pun menawarkan kursi mereka sedemikian ikhlas dan sigapnya tanpa bimbang, tanpa semacam legitimasi atau mencari-cari perhatian untuk tindakan ‘mulia’ mereka. Saya menganggapnya luar biasa dan pandangan saya pun berubah; saya tidak terlalu jijik lagi pada mereka. Maksud saya, tentu saya masih jijik, tapi tidak terlalu lagi — setidaknya mereka masih memiliki sifat terpuji.

Setelah saling menceritakan pengalaman pendek kami, saya dan kedua teman serumah saya memutuskan bahwa kesan pertama tidak betul-betul berlaku pada semua hal. Terlepas dari pengaruhnya terhadap kehidupan kita, kesan pertama hanya berdampak pada penilaiaan sesaat terhadap kita, oleh seseorang yang barang kali tidak begitu penting bagi kita, atau orang yang baru saja kita temui. Kesan pertama Anda tidak akan mendefinisikan seluruh kepribadian Anda, melainkan hanya kesan Anda pada saat itu. Meski demikian, saya yakin banyak yang akan berargumen sebaliknya.

Namun, hal itu kita bahas di lain waktu saja, oke?

Apakah Anda mempunyai cerita tentang kesan pertama yang keliru? Tuangkan dalam kotak komentar di bawah ini! 

Leave a Reply
<Modest Style