Modest Style

Cara menjadi kaya

,

Kemampuan memisahkan antara kekayaan materi dan investasi spiritual akan membawa seseorang menuju kehidupan dengan kesejahteraan yang sejati. Oleh Afia R Fitriati.

Gambar: Fotolia
Gambar: Fotolia

Menjadi kaya bisa menjadi perjalanan spiritual menuju kebebasan finansial, dan perjalanan finansial bisa menjadi cara menuju kebebasan spiritual.

Kaya. Sebuah kata yang terdiri dari empat huruf yang kita semua idamkan. Dan hal ini bukan sesuatu yang buruk pula menurut agama kita. Mencari kekayaan materi diperbolehkan dan bahkan didorong dalam Islam, selama kekayaan kita membawa kita ke jalan kebenaran. Tuhan bersabda:

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. (Al- A’rāf 7:32)

Kaya dalam pengertian Qur’an ini diikuti oleh kewajiban untuk menjadi hamba Allah yang baik. Kaya adalah perjalanan spiritual menuju kebebasan finansial sekaligus perjalanan finansial menuju kebebasan spiritual. Kaya adalah bentuk kesejahteraan yang terdiri tidak hanya atas kekayaan materi, namun juga pribadi yang dermawan, jiwa yang bahagia, pikiran yang terbuka, dan kemampuan untuk mendorong orang lain mencapai kesejahteraan. Bagaimana caranya seseorang mencapai tingkat kekayaan seperti itu? Berlawanan dengan yang diajarkan oleh banyak metode “kaya cepat”, bahan dasar kekayaan yang abadi dan utuh sebenarnya ada dalam diri kita.

Karena pikiran kita membentuk realitas kita, aset pertama yang dimiliki oleh seorang individu yang kaya raya adalah “pola pikir” kaya; pola pikir yang tidak memiliki batasan. Pikiran yang selalu merasa dahaga atas ilmu pengetahuan, selalu berpikir segala sesuatu itu mungkin, dan mampu menghadapi rasa takut. Meski terdengar sederhana, pola pikir semacam ini merupakan penggerak yang kuat dalam mendorong seseorang menuju pencapaian kekayaan.

Pengeluaran terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengeluaran yang menyenangkan Sang Pemberi Pinjaman dan membahagiakan mahluk hidup lain

Mengembangkan pola pikir semacam ini membutuhkan keberanian untuk menghadapi ego dan ketakutan pribadi – hal yang seringkali menghalangi kita menggapai cita-cita. Pola pikir semacam ini juga memberikan pijakan yang subur bagi gagasan dan kreativitas, yang merupakan benih kekayaan.

Namun keberanian dan gagasan tidak dengan sendirinya menunjukkan hasil. Sebagaimana benih terbaik tidak akan tumbuh tanpa air dan matahari yang cukup, butuh kedisiplinan, kerja keras, kesabaran, dan ketekunan sebelum gagasan yang baik mulai menunjukkan buah kesuksesan. Karenanya, penting sekali bagi mereka yang ingin kaya untuk memiliki keyakinan yang kuat dan percaya bahwa Tuhan memiliki rencana terbaik bagi kita semua. Bayangkan saja cobaan-cobaan yang Tuhan berikan sebagai cara-Nya mengingatkan kita untuk selalu rendah hati. Saat dihadapkan dengan kesukaran, orang yang kaya secara spiritual lebih mampu bangkit dan kembali berjuang. Ingatlah: Baja terbaik adalah yang telah melalui tempaan terpanas.

Saat kita cukup beruntung menjadi sukses dan kaya raya, selalulah ingat bahwa setiap sen yang ada dalam kantung kita berasal dari rahmat Sang Pemberi, dan karenanya harus digunakan secara bijak dan berhati-hati. Banyak orang yang kehilangan uang tabungan seumur hidupnya karena pilihan investasi yang salah. Karenanya, manajemen keuangan seharusnya menjadi ilmu yang wajib dipelajari di masa kini. Untuk mengoptimalkan kekayaan kita, kita harus berhenti menyia-nyiakan kekayaan yang kita miliki.

Yang lebih penting lagi, sebagaimana yang diniatkan di awal perjalanan ini, mari selalu ingat bahwa harta benda kita hanyalah alat yang dipinjamkan Tuhan untuk membantu kita di dunia fana ini. Meski kita diperbolehkan menikmati jatah berkah yang Ia berikan dalam hidup ini, pengeluaran terbaik yang bisa kita lakukan adalah pengeluaran yang menyenangkan Sang Pemberi Pinjaman dan membahagiakan mahluk hidup lain. Tidak seperti pembelian barang-barang duniawi yang nilainya hilang seiring waktu, pengeluaran semacam ini menjadi investasi akhirat.

Menyeimbangkan antara pengeluaran hari ini dan investasi untuk hari esok – dan akhirat – adalah perjuangan tanpa akhir yang akan terus berlanjut hingga kita tiba di tempat peristirahatan terakhir kita.

Artikel ini terbit pertama kali di majalah Aquila Style edisi Luxe September 2012. Anda bisa membaca keseluruhan edisi ini secara cuma-cuma di iPad dan iPhone dari Apple Newsstand, atau di tablet Android dari Google Play

Leave a Reply
<Modest Style