Kehidupan super mewah dan Islam

,

Banyak orang terkaya dunia tinggal di negara-negara mayoritas Muslim dengan jurang pendapatan yang sangat luas. Bagaimana kita dapat menentukan bahwa sesuatu itu “berlebihan”? Oleh Fatimah Jackson-Best.

Azzam
Foto: Klaus Jordan/Lürssen/superyachttimes.com

Ada 78 miliarder di Timur Tengah, dan 20 miliarder paling atas di daftar ini tinggal di Arab Saudi, Turki, Kuwait, Lebanon, dan Uni Emirat Arab, menurut Forbes. Daftar elit ini terdiri dari banyak pria dan beberapa wanita yang menikmati tingkat kekayaan yang hanya bisa diimpikan oleh sebagian besar orang. Kebanyakan orang ini mendapat kekayaan melalui minyak, konstruksi, dan investasi bisnis yang menguntungkan. Sebagai hasilnya, mereka mendapat cukup uang untuk digunakan oleh tujuh keturunan. Dan itulah yang mereka lakukan – dari kapal pesiar hingga mobil dan rumah mewah, tidak ada benda yang tidak bisa dimiliki oleh orang-orang super kaya.

Sebagai contoh, coba lihat Syekh Khalifa Bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab dan Pangeran Abu Dhabi. Sang syekh baru-baru ini menjadi perbincangan karena mengalahkan seorang pebisnis Rusia dalam memperebutkan gelar pemilik kapal pesiar super terbesar dan termahal.[i] Kapalnya (gambar di atas) disebutkan memiliki tujuh dek dengan ruang tamu besar, dan berharga sekira $600 juta (Rp7,1 triliun). Kemewahan semacam itu tidak hanya ada di dunia Arab. Sultan Brunei dikabarkan tinggal di dalam istana berisi 1.800 kamar yang cukup besar untuk menampung garasi berukuran 110 mobil, lima kolam renang, dan istal berpendingin ruangan untuk kuda-kudanya.[ii]

Kita bisa saja terus menambah panjang daftar harta benda orang-orang kaya ini, dan meski menyenangkan membayangkan gaya hidup mewah mereka, penting pula memikirkan bahwa banyak miliarder ini beragama Islam dan tinggal di negara-negara yang menjalankan pemaknaan hukum Islam tertentu. Mau tidak mau saya teringat meluasnya kesenjangan antara mereka yang hidup berada dan mereka yang bahkan tidak memiliki akses pada uang. Sementara para syekh dan sultan ini hanya minoritas kecil yang beruntung, ada lebih banyak orang di dunia yang hidup dalam kemiskinan yang seolah permanen atau hanya bisa mengais untuk menyambung hidup.

Arab Saudi adalah tempat yang relevan untuk menggunakan sudut pandang ini. Tempat itu merupakan negara yang dijalankan dengan hukum Islam yang mendapat keuntungan bersih sejumlah jutaan dolar melalui industri perminyakannya, namun seperempat populasinya hidup dalam kemiskinan.[iii] Hingga empat juta penduduk asli Saudi bertahan hidup dengan $17 (Rp202 ribu) perhari; sebaliknya, kekayaan bersih pribadi Raja Abdullah dikatakan mencapai $18 milyar (Rp214 triliun). Kerajaan tersebut juga terkenal atas eksploitasi hak azasi manusia dan masalah ketenagakerjaan di antara pekerja asing.

Kebanyakan pekerja ini berasal dari Asia Tenggara dan beberapa bagian Afrika yang berupaya meningkatkan kualitas hidup dan mendapat secuil kekayaan yang berceceran. Namun sebaliknya, para pria dan wanita ini dipekerjakan untuk waktu yang panjang dan dalam kondisi yang membahayakan yang tidak seharusnya dialami siapa pun. Itu adalah contoh-contoh mencolok kesenjangan antara si kaya dan si miskin, dan meski zakat diberlakukan di negara itu dan negara-negara Islam lainnya, ketidakseimbangan masih ada dan semakin parah.

Ada yang benar-benar salah dengan keadaan ini. Mungkin ini hanya kenaifan saya atau mungkin karena saya tidak memiliki miliaran dolar, namun saya tidak yakin saya bisa menikmati kekayaan berlebih jika mengetahui adanya kemiskinan berlebih juga. Untuk memperjelas, saya juga sadar bahwa saya menikmati beragam kenyamanan dalam gaya hidup saya sendiri yang tidak dirasakan oleh orang lain. Hal ini menunjukkan adanya tingkatan kekayaan dan keistimewan, dan meski saya tidak berada di tingkat paling atas, saya juga tidak berada di tingkat paling bawah. Sederhananya, kita semua terlibat dalam hierarki ini.

Tidak ada panduan yang memberi tahu kita bagaimana menutup jurang antara si kaya dan si miskin. Beberapa negara telah mencoba memberlakukan kebijakan-kebijakan dan rencana-rencana sosial untuk menyebarkan kekayaan, namun sulit menyebutkan satu contoh sukses secara pasti saat ini.

Meski begitu, terdapat petunjuk yang bisa membantu kita memahami cara menggunakan kekayaan, dan petunjuk itu kebetulan adalah Qur’an. Kitab suci ini tidak menghalangi orang mencari penghidupan dan penghasilan serta juga membahas cara berbagi kekayaan, dan memperingatkan kita untuk menjauh dari sifat boros. Dalam Surat al-Isra disebutkan, “Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.” (17:26). Ayat ini menyerukan dengan jelas agar kita berbagi harta kita, dan menghindari mengeluarkan uang untuk sesuatu yang tidak dibutuhkan. Sesungguhnya, terdapat kearifan pada ayat ini bagi setiap orang – terlepas dari besar pemasukannya.

________________________________________

[i] Miranda Bryant, ‘World’s biggest yacht title now belongs to Emirati royal family’, Evening Standard, 14 Ags 2014, dapat dilihat di sini
[ii] Julie Zeveloff, ‘The royals of Brunei lead lives of almost incomprehensible wealth’, Business Insider, 8 Mei 2014, dapat dilihat di sini
[iii] Kevin Sullivan, ‘Saudi Arabia’s riches conceal a growing problem of poverty’, The Guardian, 1 Jan 2013, dapat dilihat di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik