Modest Style

Galau jelang kelulusan

,

Kelulusan menandai akhir dari perjalanan yang melelahkan, namun cahaya di ujung jalan juga dapat menyebabkan kegelisahan tersendiri. Maryam Yusof menjelaskan sebabnya.

Screen-Shot-2012-11-26-at-1.59.56-PM-sm
Gambar: Salamstock

Beberapa hari lalu, saya memecahkan rekor dengan menjalami sebuah sesi rapat maraton sepanjang 12 jam untuk menyelesaikan sebuah proyek, hingga akhirnya baru meninggalkan kampus pada pukul empat pagi. Meski sering begadang mengerjakan tugas di rumah, dalam masa tiga setengah tahun di universitas, itulah kali pertama saya tinggal di kampus hingga begitu larut untuk menyelesaikan sebuah proyek.

Dan meski saya tidak mau lagi menjalani hal itu, memang agak aneh rasanya membayangkan bahwa dalam beberapa bulan lagi, semuanya akan saya lalui. Tidak ada lagi proyek, presentasi, bahan bacaan, kuis dan ujian, laporan, dan contoh laporan keuangan yang semuanya tampak memiliki tenggat bersamaan. Dengan kelulusan yang akan tiba dalam dua bulan lagi, saya merasa gelisah harus mengucapkan selamat tinggal pada itu semua.

Saya menyukai rutinitas yang timbul karena mengetahui bahwa saya ada kuliah hampir setiap hari, dan rapat, pekerjaan, bacaan, dan tugas yang harus dikerjakan di sela-sela waktu

Begini, saya tidak suka ketidakpastian. Ada alasan mengapa saya makan sajian yang sama di kantin yang sering saya datangi – karena saya tidak ingin kecewa. Kelulusan hanya akan menekankan faktor ketidakpastian tersebut; saya menyukai rutinitas yang timbul karena mengetahui bahwa saya ada kuliah hampir setiap hari, dan rapat, pekerjaan, bacaan, dan tugas yang harus dikerjakan di sela-sela waktu. Saya suka mengetahui bahwa semester depan harus bekerja keras lagi dan keputusan terbesar yang harus saya buat adalah memilih kelas yang akan diambil. Saya tidak suka kenyataan bahwa setelah semester ini berakhir, semuanya menjadi tidak jelas.

Haruskah saya tinggalkan negara ini dan mencari kerja di luar negeri? Haruskah saya membuat situs pribadi? Haruskah saya memulai usaha sendiri? Terus bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang? Mencari kerja di perusahaan lokal? Melamar ke perusahaan multinasional? Melanjutkan S2? Libur setahun?

Saya sudah mengalami kegalauan pasca lulus ini sejak libur musim panas saya berakhir pada bulan Agustus lalu. Dan dengan mendekatnya semester akhir perkuliahan tahun depan, mau tidak mau saya jadi berandai-andai dengan panik. Kenapa saya tidak magang lebih banyak? Apa IPK saya cukup? Kenapa saya tidak bergabung dengan lebih banyak kegiatan sekolah? Kenapa saya melewatkan pameran kerja yang sangat penting itu?

Belum lagi dengan tekanan yang saya rasakan saat teman-teman bercerita bahwa mereka telah mendapatkan pekerjaan setahun sebelum kelulusan, dan dikejar-kejar oleh pertanyaan seperti “Ya ampun, kamu sudah punya pekerjaan belum?” dari orang asing, teman, dan keluarga, rasanya tidak sulit bagi saya untuk terus-menerus merasa khawatir. Tekanan tambahan yang terasa saat mendengar kisah para senior yang belum mendapat pekerjaan juga menambah kegelisahan saya.

Meski sering khawatir, saya memiliki keyakinan pada Allah dan menerima cobaan serta kesempatan yang Ia berikan

Namun sebagian diri saya juga sangat bersemangat menjalani hidup di ‘dunia nyata’ dan menjelajahi tahapan hidup berikutnya, tidak peduli betapa menakutkan kedengarannya. Lagipula pada akhirnya, salah satu ciri dari seorang Muslim adalah meyakini Qada’ dan Qadar, serta meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti karena ada hikmahnya yang ingin Allah sampaikan.

Meski sering khawatir, saya memiliki keyakinan pada Allah dan menerima cobaan serta kesempatan yang ia berikan. Banyak kesempatan yang datang pada saya tahun ini, seperti pekerjaan menulis yang keren ini (terima kasih Aquila Style!) dan kesempatan untuk mengerjakan kampanye pemasaran untuk salah satu merek favorit saya, benar-benar tidak terduga dan saya mensyukuri semuanya.

Dulu saya selalu merasa marah saat berbagai hal tidak berjalan sesuai Rencana Besar saya dan berpikir tidak adil rasanya semua hal baik terjadi hanya pada orang lain. Namun kini saya menyadari bahwa saat saya tidak mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, maka hal itu memang tidak baik bagi saya atau ada sesuatu yang lebih baik lagi yang telah direncanakan oleh-Nya. Mengingatkan diri saya tentang hal ini sangat membantu.

Kini saya mengabaikan gagasan tentang Rencana Besar dan memutuskan untuk menjalankan hidup apa adanya, melamar pekerjaan yang sesuai dengan minat saya, atau menjajaki gagasan yang menarik bagi saya, dan berdoa untuk yang terbaik.

Tetap saja saya tidak benar-benar bisa menghilangkan campuran rasa gelisah dan semangat (lebih banyak gelisah) yang saya rasakan saat memikirkan tentang kelulusan, dan saya yakin banyak mahasiswa lain yang akan lulus merasakan hal serupa, terutama dengan angka ketersediaan lapangan kerja yang mengkhawatirkan di banyak negara.

Sekadar peringatan: jika kita bertemu, tolong jangan tanyakan apa saya sudah mendapat kerja – bisa-bisa saya akan menggigit Anda!

Leave a Reply
<Modest Style