Modest Style

Keadilan Sosial Tanpa Pandang Bulu

,

Bagaimana kita mengatasi permasalahan dalam masyarakat tanpa memojokkan kelompok marjinal lainnya? Jawabannya adalah dengan memberi dukungan kepada para aktivis lokal, papar Meaghan Seymour.

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Jika Anda mengikuti berita-berita internasional dan ulasan Aquila Style terkait topik tersebut, Anda mungkin cukup paham dengan berita pengajuan pemerintah provinsi Quebec, Kanada, untuk menerapkan pokok-pokok dari piagam norma-norma sekular. Sementara tujuan utamanya adalah untuk melarang para pekerja sosial publik mengenakan simbol-simbol keagamaan yang terlihat umum (seperti kerudung), piagam ini juga menyatakan mengedepankan kesetaraan jender dengan menolak bertoleransi terhadap komunitas keagaamaan yang tidak menerapkan nilai tersebut.

Namun semenjak pengajuan dari piagam ini, umat muslim Quebec semakin sering menjadi sasaran serangan kebencian dan pelecehan saat berada di ruang publik.[i] Pembingkaian media terhadap perdebatan telah sedemikian meneguhkan ide tersebut ke dalam pikiran banyak warga Quebec bahwa “muslim” (atau kelompok agama lain yang dapat diidentifikasi) identik dengan seseorang dengan budaya yang tidak selaras dengan gaya hidup Quebec.

Reaksi serupa itu tak diragukan lagi menimbulkan masalah, tak dapat diterima, dan tentu saja semakin membahayakan masyarakat di mana pemerintah mengaku telah bersikap “menolong”.

Baru-baru ini, Quebec Council for the Status of Women (Dewan Status Perempuan Quebec), sebuah kelompok (sebagian besar beranggota homogen, demikian saya tambahkan) yang ditunjuk oleh pemerintah, mengungkap tujuh langkah yang bisa diupayakan untuk membantu mengatasi kekerasan berbasis-kehormatan di provinsi tersebut – demikian yang terus digaungkan.[ii]

Meski hal ini adalah sebuah inisiatif yang penting, namun terdapat sedikit panduan tertentu yang cukup mengganggu. Berikut sebagai contoh:

Membuat mekanisme yang tepat untuk melindungi para imigran perempuan yang disponsori pasangannya dan menginformasikan kepada mereka perihal hak-hak mereka dalam hal penipuan atau kekerasan. Juga lakukan monitor terhadap perempuan yang disponsori pasangannya hingga mereka mendapatkan kewarganegaraan mereka, dalam rangka untuk memastikan keamanan dan hak-hak mereka telah dipenuhi.”

Bagaimana tepatnya kita memilih siapa yang akan memonitor? Seluruh perempuan yang disponsori oleh pasangan mereka untuk datang ke Quebec, atau barangkali hanya perempuan dengan latar belakang tertentu yang telah direnggut keamanan dan hak-hak mereka oleh pasangan mereka? Jika yang terakhir disebutkan yang menjadi kasusnya, apakah hal itu secara sistematis memberi stigma kepada para perempuan ini bahkan sebelum mereka menginjak Kanada? (Belum lagi, apa yang dimaksudkan dengan memonitor? Pengecekan rumah periodikal dan bersifat invasif?)

Dalam bukunya di tahun 2007 Infidel, Ayaan Hirsi Ali, seorang pengacara hak asasi perempuan dan mantan muslim, menyampaikan bahwa ia telah mengajukan kepada pemerintah Belanda di tahun 2003 untuk menjalankan sebuah program untuk memonitor perempuan-perempuan muda dengan akar-etnis negara-negara di mana aksi mutilasi alat-kelamin perempuan (Female Genital Mutilation/FGM) secara luas dilancarkan. Rancangannya adalah dengan memberikan para gadis dan remaja ini tes tahunan untuk memastikan orangtua mereka tidak memaksakan praktik kultural yang berbahaya terhadap mereka. Apabila tes ini membuktikan hal sebaliknya, maka aksi hukum akan dikenakan terhadap orangtua mereka.

Pengajual serupa ini (yang syukurnya, tidak diberlakukan) bukan hanya akan memberi stigma kepada komunitas tertentu, namun juga akan menciptakan trauma bagi para gadis yang akan dipaksa menjalani rangkaian tes ini.

Namun terlepas adanya kritik atas solusi ini, pasti akan ada beberapa langkah pengubahan kebijakan yang akan membantu mengedukasi dan menjaga kaum perempuan dan anak-anak agar tidak menjadi korban dari kekerasan yang berbasis-kehormatan atau pun berbasis-kultural, juga akan menahan para pelaku kejahatan yang bertanggung jawab atas tindak kejahatan ini.

Banyak pengacara yang berjuang mengakhiri ketidaksetaraan jender dan kekerasan berbasis-kehormatan mempercayai bahwa masyarakat kita perlu untuk berhenti mengkhawatirkan relativisme kultural jika kita bersungguh-sungguh ingin melakukan perubahan. Pernyataan ini digaungkan oleh para aktivis dalam film dokumenter Honor Diaries.

Tapi pantauan terhadap kejadian baru-baru ini di Inggris yang menduga bahwa menghadapi hambatan ini akan lebih sulit dari yang diperkirakan. Leyla Hussein, seorang aktivis anti-FGM, mengumpulkan banyak tanda tangan dalam sebuah petisi palsu di Northhampton, pada sebuah lelang bertujuan meningkatkan kesadaran bahaya aktual dari relativisme kultural.[iii] Tanda tangan ini didapat dari warga Inggris yang sepakat bahwa masyarakat luas harus berhenti ikut campur perihal praktik ini, meskipun FGM dilarang di Inggris. Mereka takut untuk mengritisi atau menyinggung budaya pihak lain, meski mereka sangat menentang keberadaan praktik tersebut.

Jika pertentangan publik perihal jender dapat memicu xenofobia , jika pengajuan kebijakan kemudian justru memberi stigma dan memarjinalkan suatu komunitas yang dikatakan sedang dibantu, dan jika terlalu banyak relativisme kultural berarti bahwa tidak dilakukan pengecekan terhadap tindak kriminal atau ketidaksetaraan, sepertinya kita perlu dengan serius berpikir-ulang dan memainkan sebuah peran sedemikian hingga kita bisa melakukan pendekatan atas isu-isu yang berdampak bagi kita semua.

Saya percaya bahwa solusi terbaik ada dalam masyarakat kita. Ada banyak aktivis muslim (dan kelompok marjinal lainnya) di luar sana, dan kita perlu mulai mempertimbangkan mereka sehingga aspirasi mereka terdengar lebih jelas. Kita perlu memastikan bahwa komunitas non-muslim dan non-minoritas juga dipertimbangkan dengan serius, sehingga mereka dapat diikutsertakan atau dimintai pendapat saat penentu-kebijakan mengajukan aksi-aksi terkait.

Ini berarti mengarahkan kerja keras mereka dari tepi-arena menuju arus-utama. Sehingga akan banyak umat muslim yang mengapresiasi dan mendukung upaya mereka, ketimbang mengritisi atau mengancam mereka. Lebih jauh, kita perlu memicu lebih banyak anggota masyarakat untuk turut terlibat dalam aksi-aksi aktivisme serupa. Lewat partisipasi kitalah, terutama umat muslim, yang saya percaya akan memberikan jalan untuk memenuhi kebutuhan vital dalam pencarian keadilan sosial bagi masyarakat, tanpa harus berkompromi dengan relativisme kultural.

[i]Marian Scott, ‘Islamophobia surging in Quebec since charter, group says’, The Gazette, 6 Nov 2013, tersedia di sini

[ii] ‘Quebec women’s council unveils 7 steps to stop “honour crimes”’, CBC News, 30 Okt 2013, tersedia di sini

[iii] Anna Davis, ‘What happened when anti-FGM campaigner asked people in the street to sign a petition in favour of mutilating girls’, 28 Okt 2013, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style