Modest Style

Kampanye pencopotan hijab di Iran: Benarkah ini ‘kebebasan’?

,

Meskipun “Kebebasan Diam-diam” perempuan Iran menginspirasi, menyebut ketertutupan tubuh sebagai penjajahan dan keterbukaan sebagai kebebasan itu basi dan problematis, tulis Sya Taha.

Ini adalah masalah pilihan – pilihan perempuan. Gambar: iStock
Ini adalah masalah pilihan – pilihan perempuan. Gambar: iStock

Dada telanjang organisasi feminis liberal Femen dan anggotanya telah menjadi sorotan media. Kini aksi membuka pakaian yang lebih sopan sedang terjadi, kali ini di media sosial Iran. Bulan lalu, jurnalis Iran yang berbasis di London, Masih Alinejad memulai gerakan di Facebook dan Twitter, yang diterjemahkan menjadi “Kebebasan Diam-diam Saya”, untuk menyoroti “pembatasan hukum dan sosial” yang dialami perempuan Iran.

Perempuan sekuler dan Muslim di seluruh Iran memasang foto mereka tanpa jilbab yang diwajibkan, di tempat terpencil di mana tidak ada Basij (polisi agama) yang dapat menghukum mereka atas pelanggaran aturan berpakaian negara. Gerakan tersebut digawangi oleh perempuan yang melepaskan jilbab mereka dan memasang foto mereka atas kehendak diri sendiri.

Akan tetapi judul artikel di Vocativ, “Pencopotan iilbab Besar-besaran,” (The great unveiling)  memberi saya perasaan tidak enak. Saya resah karena gagasan “pelepasan jilbab sebagai kebebasan” memiliki banyak catatan sejarah.

“Pelepasan Jilbab Besar” telah terjadi sebelumnya. Bahkan, hal ini telah sering terjadi dalam sejarah modern. Algeria di bawah kolonialisasi Prancis adalah contoh terbaik.

Dalam A Dying Colonialism (1959), Franz Fanon membahas penggunaan perempuan sebagai metafora untuk masyarakat Arab yang terjajah. Secara esensial, perempuan mewakili kaum Oriental. Karena perempuan merupakan target utama la mission civilisatrice, membuka jilbab mereka merupakan cara bagi Prancis untuk membuktikan bahwa mereka telah menaklukkan koloni Algeria mereka.

Perempuan telah memprotes aturan berpakaian yang dipaksakan kepada mereka sejak hukum tersebut lazim diberlakukan.

Dan Prancis melakukannya: pada 1958, militer menggelar upacara pelepasan jilbab perempuan massal. Upacara ini bertempat di beberapa kota besar, termasuk ibukota Algiers, yang sengaja dipertontonkan kepada pers internasional. Ada laporan mengenai perempuan yang tidak pernah memakai jilbab, namun dipaksa untuk mengenakannya dan melepaskannya hanya untuk upacara tersebut. Meskipun perempuan di pedesaan juga tidak terbiasa mengenakan tutup kepala, jilbab dianggap sebagai simbol keprimitifan terselubung di Algeria – yang harus dibuat beradab oleh Prancis tentunya.

Perempuan telah memprotes aturan berpakaian yang dipaksakan kepada mereka sejak hukum tersebut lazim diberlakukan. Dalam buku Destiny Disrupted (2009), Tamin Ansary memberikan ringkasan berbagai kejadian serupa pada 1920an. Modernis sekuler di seluruh dunia Islam yang terpisah-pisah melakukan gerakan perlawanan terhadap keberadaan Eropa di wilayah tersebut. Di wilayah yang sekarang Turki, Atatürk mendeklarasikan diri sebagai presiden pada 1923 dan mengumumkan hukum baru yang melarang jilbab dan tutup kepala dan menolak turban dan janggut.

Hal serupa terjadi di Afghanistan, saat Amanullah mewarisi tahta pada 1919 dan mendeklarasikan pembebasan perempuan, dan kemudian menerapkan aturan berpakaian mengikuti jejak Atatürk. Lalu pada 1925 di Iran, Kolonel Reza Pahlavi mendeklarasikan diri sebagai Syah dan melancarkan reformasi dan aturan berpakaian yang sama untuk warga biasa.

Bagaimana jika, dalam periode waktu yang sama, perempuan Iran memprotes aturan berpakaian yang dipaksakan, memasang foto mereka di media sosial versi awal abad 20? Di tepi pantai, di kota yang sangat liberal, mereka memakai hijab, niqab dan chador mereka dengan bangga? Dengan kain yang tertiup angin dan wajah yang cemas mengamati sekitar, para perempuan ini menuntut kebebasan untuk menutup tubuh mereka.

Negaralah yang menjajah mereka, bukan penutup kepala

Tapi sejarah selalu terulang, kadangkala dalam bentuk kebalikannya. Sekitar setengah abad kemudian, ketika negara ini diambil alih oleh partai Islam, mereka menerapkan aturan berpakaian yang bertentangan. Laki-laki dipaksa untuk memelihara janggut, dan berisiko dipukuli jika tidak, sementara perempuan dipaksa mengenakan tutup kepala (pemukulan dan penjara tampaknya merupakan taktik politik yang populer untuk menerapkan aturan berpakaian).

Sementara itu hari ini, di seluruh dunia, khususnya di Eropa Barat, para perempuan berjuang demi kebebasan untuk menutupi tubuh mereka. Mereka menempuh risiko denda dan penjara; sebagian diserang dan mati hanya karena berhijab. Belgia adalah negara Eropa pertama yang melarang niqab pada 2011, lalu disusul oleh Prancis dan Belanda. Tahun lalu, provinsi di Kanada, Quebec, mencoba meloloskan carter kontroversial yang juga melarang simbol agama seperti hijab dan niqab.

Perempuan yang terus menutupi tubuh mereka sedemikian rupa di negara-negara ini bertolak belakang dengan gerakan yang dilakukan perempuan Iran – gerakan ini bisa juga disebut “penghijaban besar-besaran”– tapi mereka tidak disorot media meskipun mereka berjuang untuk hak pribadi mereka. Sebaliknya, mereka dicap teroris, warga negara yang buruk dan imigran yang tidak tahu terima kasih.

Saya menghormati “kebebasan diam-diam” yang dicari perempuan Iran. Tapi saya takut bahwa media arus utama, yang biasa menganggap ketertutupan tubuh sebagai penjajahan dan keterbukaan tubuh sebagai kebebasan, menampilkan gerakan ini sebagai bukti bahwa perempuan Iran perlu “diselamatkan” oleh kekuasaan imperial Barat. Kekuasaan ini telah menggunakan jilbab/hijab/niqab/burqa sebagai simbol penjajahan perempuan yang menjustifikasi invasi AS ke Afghanistan dan Irak (sumber masalah lain yang harus diselesaikan).

Saya tidak menyanggah bahwa ada perempuan Muslim dan perempuan di negara muslim yang terjajah. Tapi negaralah yang menjajah mereka, bukan tutup kepala. Kebebasan bukan hanya dirasa saat Anda merasakan angin meniup rambut Anda, kebebasan adalah kemampuan untuk memilih untuk menutupi rambut Anda atau membiarkannya terurai.

Lebih penting lagi, saya merasa bahwa para perempuan Iran ini ingin menyoroti kebebasan yang berwujud kemampuan untuk memiliki hati nurani yang bebas: kebebasan untuk (tidak) mempercayai Tuhan, kebebasan untuk berbicara tanpa takut, kebebasan untuk memiliki ambisi hidup.

Leave a Reply
<Modest Style