Jihad Perempuan yang Sesungguhnya

,

Tuduhan teranyar dari Tunisia mengatakan bahwa perempuan yang menuju Suriah bertindak layaknya ‘perempuan penghibur’ bagi pasukan pemberontak. Tapi apakah benar dugaan tersebut, tanya Meaghan Seymour?

Cahaya redup menyoroti pernyataan tentang ‘jihad seksual’. Gambar: PhotoXpress
Cahaya redup menyoroti pernyataan tentang ‘jihad seksual’. Gambar: PhotoXpress

Saya ingat melihatnya untuk pertama kalinya di newsfeed saya: ‘Tunisia to Fight ‘Sex Jihad’ Trips to Syria.

Ini adalah salah satu dari banyak judul-berita yang membuat kita terhenyak, karena butuh sekian waktu untuk meresapinya (Mungkin sambil mengelap muncratan kopi pada komputer yang tersembur karena terlalu kaget). Apa, ‘jihad seksual’?

Menteri Dalam Negeri Tunisia, Lotfi ben Jeddou, mengumumkan bahwa negaranya sedang menghadapi sebuah permasalahan baru. Kaum perempuan, ujarnya, dimanipulasi oleh para pendukung golongan garis-keras Salafi, dan berbondong-bondong menuju Suriah untuk menjadi penghibur bagi para laskar Islamis. Mereka melayani ’10, 20, 30 laki-laki sekaligus’, dan kembali ke kampung halaman, tentunya, dalam keadaan hamil.

‘Jihad al Nikah’ adalah istilah yang digunakan untuk melabeli tindakan para perempuan yang rela memberikan tubuh mereka secara sporadis, dalam waktu beberapa jam, untuk kaum lelaki yang terlibat dalam sesuatu yang mereka golongkan sebagai ‘jihad’. Diterjemahkan begitu saja di media sebagai jihad seks atau jihad seksual, tentunya tidak sesuai untuk disandingkan dengan makna jihad dalam deskripsi positif yang ada dalam benak kita: sebuah bentuk perjuangan diri untuk ikut terlibat dalam amal kebaikan. Sebagian orang menyebutnya sebagai prostitusi salah-kaprah. Namun jika kisah ini benar adanya, maka akan lebih terlihat sebagai perbudakan seksual yang mengatasnamakan agama, melihat bagaimana kaum perempuan diperintahkan untuk pergi ke sana dan menyerahkan kehormatan mereka untuk kepuasan orang lain.

Kisah dengan banyak intrik ini telah menyebar layaknya api-liar yang melahap semua media, sehingga hampir semua situs-jejaring berita memiliki versi pemberitaannya masing-masing. Namun permasalahannya adalah bahwa semua cerita itu menyampaikan secuil informasi yang sepenuhnya sama-sama ambigu. Dalam pidato pendahuluannya, Menteri Tunisia tak menyediakan bukti kuat terjadinya kejadian ini secara aktual. Tak banyak detail yang bisa mendukung kebenaran peristiwa ini, dan tidak ada juga perkembangan terbaru yang membuatnya lebih jelas. Walaupun beredar amat cepat, kisah itu sendiri berakhir mengambang.

Bisa jadi itu alasannya mengapa cerita tersebut hampir langsung diragukan dan dipertanyakan oleh PolicyMic dan Al Jazeera. Mereka curiga apakah ini hanya sebuah kampanye kotor melawan pasukan anti-Assad, sebuah pengalihan atas upaya Tunisia melarang penduduk usia muda untuk bergabung dalam kelompok pasukan Suriah, atau sebuah cara lain untuk membicarakan umat muslim. Foto-foto ihwal-jihad yang ditampilkan secara serampangan, stereotipe, yang menyertai banyak pemberitaan internasional hanya semakin menyiratkan keraguan atas berita ini.

Latar belakang kisah ini dimulai dengan sebuah fatwa yang eksplisit, mengimbau kaum perempuan untuk ikut berjuang di pihak pasukan Islam di Suriah, menawarkan layanan seks agar mereka menjadi lebih bisa berkonsentrasi pada peperangan. Sang tertuduh, Imam Saudi Mohamad bin Abdul Rahman al-Arefe (juga orang-orang dekatnya) telah habis-habisan menyangkal keberadaan dan keterhubungannya dengan fatwa tersebut, dan sejak itu berusaha membersihkan namanya dengan mendeklarasikan bahwa aksi serupa itu adalah, sebagaimana banyak orang menyebutnya, sebagai – ‘semacam perzinaan’. [i]

Bisa jadi kasus ini adalah penyalahgunaan yang serampangan dari praktik nikah mut’ah, sebuah bentuk pernikahan sementara di kalangan Syiah. Meski begitu, legitimasi praktik ini terus-menerus dicermati dan diperdebatkan di kalangan luas komunitas muslim. Kalaupun benar, ketentuan dari akad mut’ah yang valid membutuhkan pihak perempuan untuk menjalani masa iddah (masa tunggu untuk memastikan adanya kemungkinan kehamilan) sebelum berakad dengan pasangan yang baru. Artinya memberi layanan ‘hiburan’ bagi ’10, 20 atau 30 laki-laki’, seperti yang dinyatakan oleh menteri Tunisia, rasanya cukup meragukan.

Lalu, apakah memang benar ada justifikasi tentang tradisi Islam atas aksi ‘jihad al nikah’?

Kita tahu bahwa kaum perempuan biasanya pergi mengikuti perang politik bersama-sama Rasulullah (SAW) dan para sahabatnya. Terdapat catatan bahwa mereka pun turut berperang bersama kaum laki-laki, dan bahkan menerima sebagian harta rampasan perang sebagai bagian dari keikutsertaan mereka. [ii]

Namun lebih dari itu, mereka juga memerankan peran penting menyokong umat dengan merawat mereka yang terluka, dan menyiapkan persediaan air – bukan memberikan badan mereka.

Mungkin konflik terbesar atas perkara seputar jihad seksualitas ini termaktub dalam sebuah hadits. Rasulullah (SAW), saat ditanya oleh Aisyah tentang kaum perempuan yang bertempur di jalan Allah, dikabarkan menjawab: ‘Jihad terbesar (bagi perempuan) adalah Haji Mabrur’ (yakni Haji yang dilakukan sesuai yang dicontohkan Rasulullah (SAW) dan diterima oleh Allah). [iii]

Tentunya, istilah ‘J’ itu telah tercemari saat terpampang di media, meski ada upaya yang sukses seperti kampanye #MyJihad yang dipimpin umat muslim AS untuk membantu membersihkan konotasi negatif yang dilekatkan. Dan perihal fatwa-fatwa yang menyebar, seorang bloger muslim, Davi Barker, mengatakan dengan tepat: ‘Masalahnya adalah bahwa fatwa-fatwa sinting itu menyebar seperti virus, namun upaya mereka mengoreksinya selalu nyaris tak terdengar.’[iv]

Benar atau tidaknya keberadaan fatwa asli itu atau pernyataan warga Tunisia tersebut, mari berharap agar gema dari ‘jihad al nikah’ tak berlangsung lama, karena kita harus menghentikan bentuk asosiasi apa pun terhadap tubuh perempuan sebagai sekadar sumber ‘hiburan’ yang layak dikorbankan bagi laki-laki – di saat perang maupun di saat damai.


[i] ‘Arefe Explains’, CNN (Arabic), 26 April 2013, tersedia di sini
[ii]  Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, dalam Muslim, tersedia di sini
[iii]  Diriwayatkan oleh Aisyah, dalam Bukhari, tersedia di sini
[iv] Davi Barker, ‘Don’t Fall for the Crazy Fatwa – It’s Either False or Just an Opinion’, AltMuslim, 10 Jan 2013, tersedia di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik