Modest Style

Jejak Damai Islam

,

Masing-masing dari kita adalah duta pembawa pesan kedamaian Islam, tulis Afia R Fitriati.

2303-WP-Afia-Peaceful-SXC-sm
Foto: SXC

Beberapa bulan yang lalu, saya membaca tweet berikut dari orang yang tak saya kenal: ‘Kalau saya mendengar “Islam itu damai” sekali lagi, saya akan menjerit.’

Dengan begitu banyak tindak kekerasan dan terorisme yang dikaitkan dengan Islam dewasa ini, mungkin sebagian orang tampaknya sulit memahami bahwa Islam adalah agama damai.

Namun, kita hanya perlu melihat ke sekeliling kita untuk menyaksikan jejak damai Islam.

Ketika orang yang menulis tweet di atas bangun pagi dan berjalan ke kamar mandi, ia mungkin perlu tahu bahwa resep sabun yang diproduksi secara massal yang ia gunakan sehari-hari pertama kali ditemukan di dunia Islam. [i]

Saat ia membuat kopi pagi untuk dirinya, ia harusnya mengenang jasa para pedagang muslim yang memperkenalkan kopi ke Eropa dan berbagai belahan dunia lain. Jejak peradaban muslim dapat ditemukan di mana-mana dan dalam segala aspek kehidupan – dari benda sehari-hari seperti parfum dan karpet sampai sistem geo-positioning dan kamera yang canggih.

Namun bukti tak tertandingi dari pesan damai Islam tentu saja Al-Qur’an, kitab yang diturunkan lebih dari 1400 tahun yang lalu yang mendorong toleransi dalam perbedaan (49:13), menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama (2:256), menjelaskan secara rinci hak-hak perempuan dan berbicara tentang berbagai isu hak asasi manusia lain yang kita kenal di masa kini.

Jika ada orang yang menganggap Islam sebagai apa pun selain agama perdamaian, sebagian penyebabnya adalah karena sebagai muslim kita kurang giat menyampaikan kepada orang lain keindahan agama kita secara riil, seperti para ilmuwan, seniman dan pedagang Muslim zaman dahulu.

Sebagai seorang penulis, saya sering merenungkan tantangan berikut yang diungkapkan Allah dalam Al-Qur’an:

‘Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa (dengan) Al Qur’an ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”.’

(Al Isra 17:88)

Mengingat banyaknya hambatan penulis (writer’s block) yang saya alami, saya tahu bahwa tidak mungkin bagi saya – atau makhluk fana mana pun dalam hal ini – untuk menjalin kalimat yang nyaris menyerupai kekayaan dan kompleksitas dari setiap ayat Al-Qur’an. Berkaca pada fakta tersebut mengingatkan saya untuk berendah hati menyadari bahwa kata-kata Al-Qur’an hanya dapat berasal dari sumber Ilahi. Lebih jauh lagi, hal itu memotivasi saya untuk berbagi pesan-pesan yang tertuang dalam kitab suci ini kepada orang lain melalui tulisan-tulisan saya.

Entah Anda seorang ilmuwan, penulis, penyair, desainer grafis, penyanyi, seniman henna atau perancang busana, saya percaya bahwa kita masing-masing telah dianugerahi bakat yang berbeda-beda untuk membantu kita memahami pesan-pesan damai Qur’an dan menyampaikannya kepada dunia. Terserah kitalah untuk menemukan dan memanfaatkan bakat-bakat tersebut. Mudah-mudahan, dalam perjalanan pencarian ini kita menjadi kelompok orang yang dipuji sebanyak 32 kali dalam Al Qur’an: al-muhsinun, orang yang berbuat baik dan pencipta keindahan.

 

________________

 

[i] BBC Science and Islam Bagian 2, Jim Al-Khalili. BBC Productions.

Leave a Reply
<Modest Style