Modest Style

Jangan Sebut Saya Penulis Muslim

,

Amal Awad membahas mengapa penulis dan seniman beragama Islam tidak suka agama mereka disebut-sebut di belakang profesi mereka.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

Jangan tanyakan kepada penyair Zohab Khan mengenai latar belakangnya, karena dia akan jadi agak defensif. Ini bukanlah karena dia seorang ‘seniman’. Sebaliknya, penyair usia 25 tahun ini tidak melihat gunanya menempatkan batasan budaya pada siapa dirinya dan hal-hal yang ia lakukan.

Ia menyatakan bahwa kadang-kadang ia ditanyai mengenai hal tersebut, tapi Zohab tidak mengidentifikasi dirinya sebagai penyair muslim. Dia menganggap dirinya seorang penyair yang kebetulan beragama Islam.

‘Sejak zaman purba, seniman telah mendokumentasikan kondisi manusia dan pengalaman yang kita hadapi, dan saya kira kita semua unik. Kami, sebagai seniman muslim, sekadar menggambarkan identitas hibrida unik kami,’ paparnya.

Ini bukanlah sentimen yang tak biasa. Banyak seniman, penulis, dan individu kreatif lain terdengar defensif ketika ditanya apakah ‘muslim’ menjadi embel-embel untuk profesi mereka. Pekan lalu, saya berpartisipasi dalam sebuah panel yang diselenggarakan oleh kelompok komunitas Justice and Arts Network (JAAN) yang berbasis di Sydney, di mana seniman Amerika Serikat Mustafa Davis mengungkapkan rasa frustrasinya karena sering ditanya apakah ia menganggap dirinya seorang seniman muslim.

‘Mengapa seniman digolong-golongkan sementara tidak ada yang menyebut-nyebut dokter gigi muslim atau dokter muslim?’, tanyanya agak jengkel.

Saya menghargai pendapatnya. Profesi kami yang utama adalah penulis dan seniman. Apa yang mempengaruhi kita sebagai pribadi, tidak diragukan lagi akan mempengaruhi karya kita. Tidak dapat disangkal bahwa kita dipengaruhi oleh asal-usul kita, cara kita dibesarkan, dan apa pun yang telah membentuk identitas kita dan menjadi siapa diri kita ketika kita melakukan kerja kreatif.

Bagaimanapun, jika karya kreatif adalah produk dari pengalaman dan pencarian hubungan antarmanusia, bagaimana kita dapat menyangkal dari mana kita berasal?

Tapi bagi saya, ada alasan mengapa kami ditanyai tentang agama kami sementara profesi lainnya tidak. Sebagai seniman atau penulis, kami tidak menawarkan layanan, sebenarnya kami merupakan bentuk pelayanan. Pada dasarnya, hubungan antara karya dan penikmatnya sangat penting.

Ini topik yang bagi saya sangat emosional. Tidak lazim bagi saya untuk menulis karya yang lebih pribadi tanpa dipengaruhi spiritualitas yang melekat pada saya. Saya tidak menyertakannya secara sadar – unsur itu ada begitu saja di karya saya, seperti memiliki anggota tubuh dan mengetahui cara menggunakannya.

Selama panel pada akhir pekan lalu, saya berbicara tentang hal ini dengan sesama penulis Randa Abdel-Fattah dan akademisi Halim Rane. Bagi Randa, dia tak yakin betul tentang apa artinya menjadi pencerita.

‘Pertama dan terutama, saya adalah seorang penulis. Ini sebuah keterampilan, ini hanyalah kata-kata, keajaiban menciptakan kata-kata, menemukan kata-kata yang tepat,’ katanya pada saya. Buku Randa yang paling terkenal adalah Does My Head Look Big in This?, mengisahkan seorang gadis remaja muslim yang memutuskan untuk berhijab. Buku ini meraih kesuksesan  internasional, tapi buku-buku selanjutnya mencakup berbagai pengalaman.

Meskipun bidang Halim adalah non-fiksi, ia juga digolong-golongkan karena dia menulis tentang Islam dan mengajar di University of Queensland. Dia tampak sedikit frustrasi karena terus-menerus disebut sebagai ‘akademisi muslim’, tapi dia merefleksikan penyebabnya.

‘Kaum muslim telah begitu terstereotip sehingga banyak non-muslim sulit melihat kita dalam peran-peran seperti penulis dan akademisi. Tidak ada kerangka acuan atau preseden. Kita sekarang tengah menetapkan preseden dan fondasi, melakukan sesuatu yang berbeda dengan apa yang diasosiasikan orang dengan menjadi muslim,’ jelasnya.

Pada panel yang sama saya bisa menyaksikan Zohab beraksi. Ada suatu masa ketika Zohab mungkin menggunakan puisinya untuk menuturkan pengalamannya sendiri tentang Islam, namun saat ini puisinya tidak begitu berpusat pada agama. Dan saya yakin dia memiliki karya yang berbeda-beda untuk berbagai khalayak.

Namun, mendengarkan dia membacakan sebuah puisi tentang menjadi orang yang dihina sebagai teroris, kita akan mendapatkan kesan bahwa latar belakangnya yang Pakistan dan Islam telah meresap cukup luas ke dalam karyanya.

Puisi itu bertutur tentang rasa sakit dan kesia-siaan penghakiman, diskriminasi sebagai bentuk kekerasan, dan alat tukar universal yang bernama cinta. Tidak dapat disangkal bahwa apa yang saya saksikan muncul dari gagasan-gagasannya tentang spiritualitas dan budaya. Puisi adalah sepenuhnya investigasi dari pengalaman manusia, bukan hanya tentang menjadi seorang muslim.

Meski demikian, Zohab mengatakan Islam sebenarnya salah satu alasan ia menjadi penyair.

‘Saya selalu merasa ada ritme dalam diri saya, ada sajak dalam diri saya. Setiap kali saya berbicara, saya ingin berbicara dengan tujuan, itulah yang saya pelajari dari Quran. Bismillah adalah ritme, itu sajak. Itu salah satu alasan saya menjadi penyair, saya melihat aliran tersebut.’

Pada titik ini, ia menjadi sedikit pendiam.

‘Saya punya puisi berjudul Faith (iman),’ katanya pada saya, sembari memperingatkan puisinya tidaklah ‘berbunga-bunga’, tapi penuh renungan.

‘Baris pertama dari puisi itu adalah: ‘Iman. Aku selalu diajarkan iman itu buta tapi aku memilih melihat imanku, karena aku dianggap durjana dursila durhaka.’

Ia tampaknya ragu-ragu untuk berbagi puisi itu dengan saya, seakan takut puisi itu terlalu mengejutkan. Namun, yang terpikir oleh saya adalah, akhirnya saya melihat sesuatu dari pria itu, muslim ataupun bukan.

Leave a Reply
<Modest Style