Jangan pernah melamar kerja ya!

,

Pendiri Bank Grameen dan pemenang Penghargaan Nobel Perdamaian ini percaya kewirausahaan sosial memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Oleh Afia R Fitriati.

AUSTRIA-BANGLADESH-YUNUS-NOBEL
Foto fail: Muhammad Yunus berpidato di Wina. Alexander Klein/AFP

Gagasan untuk menciptakan dunia yang lebih baik melalui usaha berkelanjutan selalu menyentil rasa penasaran saya. Jadi saat saya mendengar bahwa Muhammad Yunus, peraih Penghargaan Nobel Perdamaian 2006 yang mempelopori pemberantasan kemiskinan melalui sistem keuangan mikro sedang mengunjungi Jakarta, tanpa pikir panjang saya mengambil kesempatan untuk menghadiri pidatonya.

Di usianya yang 74 tahun, Yunus memiliki energi seorang pemuda berusia 20-an – dan tanpa ragu ia menyebarkan energi tersebut ke seluruh ruangan auditorium universitas tempatnya berpidato.

“Saya dipenuhi rasa cemburu saat melihat orang-orang muda,” ujarnya. “Orang muda masa kini adalah generasi paling berkuasa dalam sejarah manusia.”

Ia menyebut generasinya sendiri “pra-sejarah”, sambil mengenang masa-masa di mana ia harus mengirimkan surat di dalam sebuah amplop dan menanti selama berhari-hari, bahkan terkadang berbulan-bulan, untuk kedatangan surat balasan. Ia membandingkan pengalaman tersebut dengan surat elektronik masa kini, di mana orang-orang langsung menunggu kedatangan surat balasan begitu menekan tombol “kirim”.

Namun Yunus mengingatkan para hadirin bahwa kekuatan teknologi diiringi dengan tanggung jawab besar.

“Anda bukan pemimpin masa depan, Anda sudah menjadi pemimpin. Anda harus bertindak dan berkata: ‘Saya akan mengubah dunia.”

Itulah yang ia telah lakukan. Bank Grameen, bank yang Yunus rintis di tahun 1976, lahir dari keputusasaan dan keinginannya membantu warga kampung yang miskin di Bangladesh. Yunus, yang saat itu mengajar ekonomi di Chittagong University, merasa bahwa berbagai teori ekonomi yang ia pahami begitu baik telah gagal membantu masyarakatnya sendiri dalam menghadapi kelaparan yang mencengkeram negara tersebut pada waktu itu.

“Hal yang paling menguntungkan dalam hidup saya adalah saya sama sekali tidak pernah mempelajari ilmu perbankan,” ujar Yunus tentang tindakannya yang melawan arus, hingga mengundang tawa hadirin.

Terlepas dari metode dan prinsip yang tampak tidak ortodoks sebagai dasar pendirian bank tersebut, Bank Grameen telah membantu jutaan orang di Bangladesh untuk keluar dari garis kemiskinan, sekaligus meraih tingkat pengembalian pinjaman hingga lebih dari 95 persen. Bank Grameen kini memiliki leboh dari 2.000 cabang di Bangladesh dan model keuangan mikronya telah ditiru di 40 negara, serta memberdayakan orang-orang paling miskin di antara yang miskin, yang tanpanya tidak akan memiliki akses ke institusi keuangan.

“Menghasilkan uang itu kebahagiaan. Membuat orang bahagia itu kebahagiaan super,” terang Yunus tentang usaha sosialnya.

Keyakinan teguh akan potensi dan kreativitas umat manusia yang tanpa batas – tidak peduli status ekonomi dan sosial mereka – begitu tertanam dalam diri Yunus. Sambil menyinggung tingginya tingkat pengangguran di banyak negara Eropa, Yunus meyakini bahwa pengangguran dan kemiskinan merupakan konstruksi palsu yang seharusnya tidak ada jika lebih banyak orang muda – terutama di negara-negara dunia ketiga – menjadi pengusaha sosial.

“Jangan percaya bahwa saat Anda lulus, Anda harus mengantri untuk mendapat pekerjaan. Berjanjilah pada saya Anda tidak akan pernah melamar kerja,” ujarnya.

Ia mengakhiri pidatonya dengan mengajukan argumen yang memancing hadirin untuk memikirkannya.

“Setiap hari, teknologi akan semakin murah. Masa depan akan berbeda dengan saat ini. Pertanyaannya adalah: Apakah masa depan itu akan bagus dan berbeda, atau buruk dan berbeda?”

“Jangan biarkan Google menjawab pertanyaan tersebut untuk Anda.”

Leave a Reply
Aquila Klasik