Jangan Sekadar Mendengar “Kisah Menjadi Mualaf”

,

Perjalanan seorang mualaf masuk Islam bisa jadi luar biasa. Terkadang, sekedar memiliki seorang pendengar merupakan bentuk dukungan yang terbaik bagi para mualaf, ujar Meaghan Seymour.

(Gambar: PhotoXpress)
(Gambar: PhotoXpress)

Diminta membagikan “kisah menjadi mualaf” merupakan bagian tak terelakkan sebagai mualaf. Masalahnya, kisah-kisah tersebut seringkali berakhir di bagian ucapan syahadat; tampaknya tidak banyak orang yang tertarik mengetahui bagaimana kita menyesuaikan diri setelah itu.

Tahun-tahun pertama saya setelah bersyahadat tidak selalu mulus. Meski telah banyak membaca, merenung, dan merasa bahwa saya sudah lebih dari siap, perjalanan menuju rasa nyaman sebagai seorang Muslim ternyata merupakan sebuah tantangan besar.

Benar, mungkin ada banyak dukungan dan sumber daya bagi mualaf baru di luar sana, namun sayangnya, yang ada bukan selalu yang kita butuhkan untuk perubahan yang begitu besar di dalam hidup, terutama jika kita berurusan dengan masalah pribadi.

Kebanyakan bantuan yang saya temui bertujuan menyelaraskan kita secepat mungkin ke dalam pelaksanaan Islam yang lebih seragam dan ortodoks. Termasuk program untuk menghajikan mualaf baru, kelas bahasa Arab, dan masjid-masjid yang menawarkan kursus singkat mengenai kepercayaan dan pelaksanaan Islam tradisional.

Meski sangat berguna mempelajari cara shalat dan wudhu sesuai sunnah, beberapa jenis bantuan ini menghilangkan kesempatan mualaf untuk menemukan jati dirinya sendiri. Hal di atas tidak memberi kami kesempatan untuk berkembang dan mempelajari keyakinan baru ini dengan cara yang paling bermakna bagi kami.

Ambil contoh sebuah buku yang saya pinjam dari perpustakaan Islam setempat. Buku tersebut diperuntukkan sebagai panduan untuk mualaf baru dan dengan tegas buku itu menyatakan bahwa cadar merupakan satu-satunya pakaian yang dapat diterima bagi perempuan. Saya mungkin tidak memahami dalamnya perbedaan cara pemaknaan pelaksanaan dan gaya berpakaian Islami, namun bagi orang baru seperti saya yang masih belum berani menyampaikan kepada teman dan keluarganya tentang agama baru yang dianutnya, diberitahu bahwa saya harus mengenakan penutup muka agak mengganggu, bahkan menakutkan.

Kita seringkali menyebut Islam sebagai agama yang sederhana dan mudah diikuti oleh siapa saja. Namun seringkali sebagai Muslim, kita membuat agama kita rumit dan sulit diikuti. Sikap ini, sayangnya, dapat menulari para Muslim baru.

Beberapa orang di masjid selalu sigap memberi nasihat tanpa diminta kepada mualaf baru. Nasihat ini beragam mulai dari tentang keharusan mengenakan kaus kaki saat shalat, sampai mengingat kaki mana yang digunakan saat keluar atau masuk masjid. Meski saya menyadari bahwa nasihat-nasihat ini bermaksud baik dan tulus, banyaknya informasi berbeda (dan terkadang bertentangan) tentang praktek keagamaan dari Muslim yang berbeda latar belakang dan budaya, yang masing-masing berpegangan pada berbagai ulama dan mazhab berbeda dalam membentuk kesimpulan, dapat mengakibatkan beban informasi yang berlebih.

Meski tidak pernah meragukan keyakinan saya, saya sering membayangkan apakah saya akan dapat bertahan melaksanakan apa yang saya kira merupakan gaya hidup Muslim otentik. Saya berusaha sebaik mungkin memenuhi harapan komunitas terdekat saya, namun ada kalanya saya merasa sekadar menelan hal-hal yang saya rasa belum saatnya (seperti mengenakan kerudung untuk beradaptasi dengan orang-orang; suatu hal yang sama sekali tidak mendekatkan saya pada keyakinan itu sendiri). Di lain waktu, saya merasa dijatuhkan saat langkah kecil saya dalam mempelajari praktek keagamaan disebut “tidak benar” oleh orang lain. Padahal saya berjuang melawan permasalahan pribadi tanpa bantuan.

Yang menyedihkan adalah saya menjumpai beberapa mualaf yang secara perlahan berpaling dari Islam karena pengalaman mereka berhadapan dengan berbagai hal yang saya sebutkan di atas. Bukan Islam yang mengecewakan mereka; namun menghadapi tekanan membingungkan untuk menjadi Muslim ideal sesuai tuntutan komunitas mereka masing-masing, kurangnya dukungan emosional dari lingkungan baru mereka, dan secara garis besar kebingungan tentang bagaimana “menjadi” seorang Muslim.

Para mualaf membutuhkan dukungan dari komunitas mereka yang lebih dari sekadar mendengarkan kisah mereka menjadi mualaf, terlebih saat kisah-kisah ini beresiko menjadi inti dari keseluruhan pengalaman mualaf tersebut.

Salah satu cara terbaik mendukung Muslim baru adalah dengan mendorong mereka menemukan tempat mereka di dalam keyakinan baru mereka dengan cara mereka sendiri. Pengalaman belajar tersebut mungkin akan datang dengan cepat atau lambat; pengalaman tersebut mungkin dipenuhi kelokan atau, jika mereka seperti saya, naik turun seperti wahana roller coaster – namun pengalaman tersebut akan datang. Sementara ini, sekadar menawarkan menjadi pendengar dapat menjadi salah satu cara terbaik membantu seorang Muslim baru dalam perjalanan mereka.

Leave a Reply
Aquila Klasik